Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Balai Desa Sumberanyar Nguling Pasuruan Rusak Parah Setahun Terakhir, Pelayanan Terpaksa di Ruangan Sempit dan Terbuka

Fuad Alyzen • Senin, 27 April 2026 | 10:57 WIB

 

HANCUR: Kaur keuangan Desa Sumberanyar, Nguling, menunjukan berkas yang rusak karena reruntuhan dan hujan. (Fuad Alyzen/ Radar Bromo)
HANCUR: Kaur keuangan Desa Sumberanyar, Nguling, menunjukan berkas yang rusak karena reruntuhan dan hujan. (Fuad Alyzen/ Radar Bromo)

 

Sudah setahun lamanya bangunan balai Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, tidak bisa ditempati. Empat ruangan yang seharusnya menjadi tempat pelayanan, ambruk karena seluruh kerangka bangunan sudah tidak layak. Selama setahun pula, layanan pada masyarakat diberikan dari sebuah ruangan sempit di tempat itu.

 FUAD ALYZEN, Nguling, Radar Bromo

Di tepi Jalan Pantura, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, sebuah gedung balai desa tampak berdiri kokoh dari luar. Namun pemandangan berbeda terlihat di dalamnya Jumat (24/4) pagi itu.

Sejumlah perangkat desa justru memberikan pelayanan di luar ruangan. Ada pula yang memberikan pelayanan di dua ruang kecil berukuran 3x4 meter yang ada di sisi timur bangunan utama.

Balai Desa Sumberanyar ini memang bangunan tua. Gedung itu dibangun pada 1987 dan selama puluhan tahun menjadi pusat pelayanan masyarakat.

Baca Juga: Gedung Ambruk dan Dokumen Penting Rusak, Jantung Pelayanan Desa Sumberanyar Nguling Pasuruan Terganggu

Ada tiga lokal bangunan di tempat itu. Yaitu, bangunan utama yang terdiri dari empat ruangan. Ruangan kades, sekdes, pelayanan, dan ruangan PKK.

Di timur bangunan utama ini, ada bangunan lain berdiri. Terdiri atas dua ruangan. Yaitu, ruangan untuk BPD dan BUMDes.

Lalu di selatan bangunan utama, berdiri pendapa balai desa. Seperti pendapa yang lain, bentuknya terbuka. Bangunan ini adalah bangunan baru dengan kondisi yang masih bagus.

Seiring waktu, kondisi dua lokal bangunan mulai rusak. Yaitu, bangunan utama dan bangunan yang di sebelah timurnya.

Memasuki tahun 2024, kerangka atap dan bagian dalam gedung mulai lapuk. Kerusakan awalnya tidak terlihat karena tertutup asbes. Namun kondisi sebenarnya terungkap setelah atap bangunan mulai berjatuhan.

Terutama atap ruangan pelayanan dan ruang kepala desa. Saat hujan turun, air masuk ke dalam ruangan hingga menyebabkan banjir.

“Ambrol, bolong. Saat hujan airnya masuk ke dalam ruangan,” ujar Sekretaris Desa Sumberanyar Senewi.

Melihat kondisi itu, Kepala Desa Sumberanyar Safiudin sempat melakukan perbaikan dengan mengganti bagian kerangka yang rusak. Saat itu, perbaikan dilakukan menggunakan dana pribadi.

“Memang bangunan ini sudah tua. Belum pernah rehab sama sekali. Selama saya memimpin, baru dua kali direhab pakai uang pribadi,” ujarnya.

Namun perbaikan tersebut tidak mampu menghentikan kerusakan. Kerangka lain yang sudah lapuk, menyusul rusak dan berjatuhan secara perlahan.

Meski bangunan dalam kondisi rawan, pelayanan masyarakat tetap berlangsung di dalam gedung. Hingga akhirnya, pada April 2025, atap ruangan kades dan pelayanan benar-benar ambrol.

Bahkan, salah satu kerangka sempat jatuh tepat di meja kepala desa. Beruntung kejadian itu terjadi pada malam hari.

Karena kondisi itu, sejak 16 April 2025, aktivitas pelayanan dipindahkan ke bangunan di sebelah timur.  Yaitu ke ruangan BPD dan BUMDes.

Dua ruangan kecil tersebut kini harus menampung seluruh aktivitas perangkat desa, sekaligus melayani lebih dari lima ribu warga. Kondisinya pun jauh dari ideal.

Atap ruangan tempat mengungsi itu sering bocor dan saat hujan, air menggenang di lantai. Tidak hanya ruang kerja yang terdampak, dokumen penting desa juga ikut rusak.

Saat bangunan ambruk pada 2025, banyak berkas warga terkena air hujan hingga hancur. Sebagian kecil masih bisa diselamatkan, tetapi banyak data harus dibuat ulang karena sudah tidak terbaca.

Keterbatasan ruang membuat pelayanan tidak maksimal. Perangkat desa harus berbagi tempat. Bahkan, terkadang tidak memiliki ruang kerja sama sekali.

Sebab, biasanya hanya ruangan BPD yang dipakai pelayanan tiap hari. Sementara ruang BUMDEs jarang bisa dipakai karena perangkat BUMDes hampir tiap hari ngantor.

Kalau sudah seperti itu, layanan diberikan di pendapa balai desa. Termasuk rapat juga selalu dilakukan di pendapa. Namun rapat sering terhenti karena harus mendahulukan warga yang datang untuk dilayani.

Safiudin mengungkapkan, pihaknya telah mengajukan proposal perbaikan kepada Pemkab Pasuruan. Namun belum direspons.

Ia khawatir bangunan lama bisa ambruk total sewaktu-waktu, terutama saat jam kerja. Sebab, retakan tembok sepanjang 2–3 meter dan kondisi lantai yang kerap banjir saat hujan semakin memperparah situasi.

Kaur Keuangan Desa Sumberanyar Ninuk juga merasakan dampak kondisi tersebut. Selain mengganggu pelayanan, situasi itu menimbulkan rasa tidak nyaman. Terlebih letak kantor berada di tepi jalan nasional.

“Kadang saya sendiri malu. Karena selain di tepi jalan nasional, kalau ada tamu mau diterima di mana. Kami tidak punya ruamgan karena ambruk,” katanya.

Di tengah segala keterbatasan, perangkat desa tetap menjalankan tugasnya. Dengan ruang sempit, atap bocor, dan ancaman bangunan ambruk, mereka terus melayani warga setiap hari. Sembari berharap adanya perhatian agar pelayanan publik bisa kembali berjalan dengan layak. (hn)

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#Sumberanyar #pasuruan #rusak parah #nguling #balai desa