Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hampir Setahun Sekolah Rakyat Terintegrasi 07 Kota Probolinggo Berjalan: Siswa Didampingi 24 Jam, Cetak Siswa Mandiri

Arif Mashudi • Kamis, 23 April 2026 | 18:25 WIB

 

DIBEKALI SKILL: Siswi SRT 7 Kota Proboiinggo juga dibekali ilmu kewirausahaan. Seperti  cara budi daya jamur. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)
DIBEKALI SKILL: Siswi SRT 7 Kota Proboiinggo juga dibekali ilmu kewirausahaan. Seperti cara budi daya jamur. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)

 

Hampir setahun sudah, Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Kota Probolinggo berjalan. Kementerian Komdigi RI sampai turun langsung untuk meninjau SRT yang menjadi model integrasi pengentasan kemiskinan.

ARIF MASHUDI, Mayangan - Radar Bromo

Pagi itu, sekitar pukul 09.30, suasana di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Kota Probolinggo di Jalan Ikan Belanak, Mayangan, terasa lebih hidup.

Belasan jurnalis datang bersama rombongan Kementerian Komunikasi dan Digital RI yang diwakili Direktur Ekosistem Media Farida Dewi Maharani.

Para siswa menyambut dengan paduan suara Hymne Guru—sederhana, namun penuh semangat. Kunjungan itu bukan sekadar seremoni.

Hampir setahun sejak diresmikan pada 14 Juli 2025, SRT 7 mulai dilirik sebagai model pendidikan terintegrasi untuk pengentasan kemiskinan.

Baca Juga: Sisa Dua Seragam yang Belum Diterima di Sekolah Rakyat Menengah Pertama di Kota Pasuruan

Di hadapan tamu, pihak pemerintah kota dan sekolah memaparkan bagaimana konsep itu dijalankan dalam keseharian. SRT 7 menggabungkan pendidikan jenjang SMP dan SMA dalam satu lingkungan, dengan 49 siswa SMP dan 42 siswa SMA.

Namun pembelajaran di sini tidak berhenti pada ruang kelas. Sekolah merancang pendidikan yang memadukan akademik, keterampilan praktis, dan adaptasi teknologi.

“Sekolah Rakyat Terintegrasi karena ada sekolah tingkat SMP dan SMA. Jumlah siswa SMP 49 anak dan SMA 42 anak. Mereka tidak hanya mendapatkan pembelajaran formal, kami fokus membekali anak-anak dengan keterampilan praktis dan adaptasi teknologi,” terang Kepala SRT 7 Kota Probolinggo Susilowati.

Pendekatan itu tampak dalam aktivitas siswa yang tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik. Salah satunya melalui program kewirausahaan dengan memproduksi olahan kopi seperti kopi rempah dan kopi wine. Dari sana, siswa belajar proses produksi, manajemen sederhana, hingga membaca peluang pasar.

Di luar kelas, pengembangan diri terus diperluas. Kegiatan ekstrakurikuler meliputi pramuka, seni tari, desain grafis, hingga bahasa Jepang. Ke depan, sekolah berencana menambah robotik dan bahasa Mandarin. Semua diarahkan agar siswa memiliki bekal menghadapi dunia yang terus berubah.

Untuk memastikan masa depan siswa, sekolah menjalin kemitraan dengan berbagai pihak. Bagi yang ingin bekerja, tersedia pelatihan vokasi melalui Balai Latihan Kerja (BLK), terutama di bidang otomotif dan keterampilan teknis. Sementara itu, penguatan bahasa asing membuka peluang kerja lebih luas, termasuk ke luar negeri.

“Kami ingin anak-anak memiliki bekal keterampilan. Jika tidak melanjutkan pendidikan, mereka tetap punya kemampuan untuk berusaha secara mandiri,” ujarnya.

Pendampingan juga dilakukan dengan memetakan minat siswa sejak dini. Mereka yang bercita-cita menjadi anggota TNI atau Polri mendapat pembinaan bersama Kodim dan Polres. Sementara yang ingin kuliah diarahkan melalui jalur prestasi.

“Kami memetakan minat dan potensi siswa sejak dini. Jadi, saat mereka lulus, sudah punya arah, apakah melanjutkan kuliah, bekerja, atau berwirausaha,” lanjut Susilowati.

Hasilnya mulai terlihat. Salah satu siswa SMP mampu berpidato dalam bahasa Jepang di hadapan Presiden pada sebuah kesempatan nasional.

“Ini menunjukkan bahwa dengan akses dan pembinaan yang tepat, potensi anak-anak bisa berkembang luar biasa,” katanya.

Hasil itu tidak instan. Kehidupan di SRT 7 dibangun dengan disiplin. Aktivitas dimulai sejak pukul 04.00.

Diawali salat berjamaah dan mengaji, dilanjutkan salat Duha sebelum sekolah. Siswa mendapatkan tiga kali makan setiap hari, dan malam hari diisi dengan belajar hingga pukul 20.30.

Seluruh proses itu didampingi secara intensif. Sebanyak 18 guru, 20 wali asuh, dan 8 wali asrama mendampingi siswa selama 24 jam secara bergiliran. Setiap wali asuh bertanggung jawab atas lima siswa dan memantau perkembangan mereka.

“Di sini ada 18 guru sekolah rakyat, 20 wali asuh, dan 8 wali asrama. Satu wali asuh mendampingi 5 anak asuh. Wali asuh stand by di Sekolah Rakyat 24 jam, dengan cara sif. Jadi anak-anak selalu mendapatkan pengawasan dan pendampingan penuh,” ungkapnya.

Bagi banyak siswa, sekolah ini menjadi titik balik. Sebagian berasal dari keluarga prasejahtera, bahkan ada yang sempat menjadi tulang punggung keluarga. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya pendidikan, tetapi juga pendampingan mental dan sosial.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Probolinggo Madihah menjelaskan, program ini dirancang sebagai strategi terintegrasi untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.

“Sejak program ini disampaikan pemerintah pusat, kami langsung menindaklanjuti dengan pengajuan dan penyediaan sarana prasarana. Alhamdulillah, Kota Probolinggo termasuk dalam kategori rintisan awal,” ujarnya.

Pendampingan juga menyasar keluarga siswa. Sekitar 60 orang tua telah mengikuti pelatihan keterampilan seperti laundry dan pengolahan makanan, disertai bantuan alat dan akses permodalan. Tujuannya agar keluarga memiliki penghasilan mandiri sehingga anak dapat fokus belajar.

Perubahan mulai terlihat pada diri siswa. Kepercayaan diri tumbuh, begitu pula cara pandang terhadap masa depan.

“Dulu ada yang bercita-cita sangat sederhana karena keterbatasan akses. Sekarang setelah mendapatkan pendidikan dan pendampingan, kepercayaan diri mereka tumbuh dan cara pandang terhadap masa depan berubah,” ungkap Madihah.

Dari ruang sederhana itu, harapan perlahan dibangun. SRT 7 tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang transformasi sosial. “Kami ingin memastikan anak-anak lulus tidak menganggur. Mereka harus mampu berdiri sendiri, bahkan membantu keluarganya,” ujar Susilowati. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#Sekolah Rakyat #Kota Probolinggo #komdigi #siswa