Mengajak masyarakat untuk hidup sehat tidaklah mudah. Apalagi menggelorakan olahraga pagi di desa seperti di pesisir Pasuruan. Tapi yang dilakukan Terpaksa Running Club (TRC) berbeda. Sebuah komunitas lari di Kabupaten Pasuruan yang sekarang menjadi wadah untuk mengajak masyarakat hidup sehat.
FUAD ALYZEN, Lekok, Radar Bromo
Agenda TRC bisa dijumpai tiap hari Jumat dan Minggu pagi di wilayah Kecamatan Lekok. Selepas subuh, banyak pria, wanita, anak-anak hingga orangtua berjejer di jalan. Mereka mengenakan baju olahraga dan bersepatu.
Minggu (19/4) pagi itu mereka tengah bersiap melakukan olahraga lari. Pesertanya bukan hanya masyarakat Kecamatan Lekok dari berbagai desa.
Tapi ada beberapa dari kecamatan lain seperti Grati dan Nguling. Semuanya bersemangat untuk menempuh rute 5 kilometer.
Menariknya, para pesertanya tidak memandang profesi. Ada yang petani, nelayan, guru, pengusaha, ibu rumah tangga. Tak semuanya mengenakan jersey lari.
Ada yang hanya memakai celana training dan kaus. Tetapi semuanya kompak memakai sepatu, karena mereka akan melahap lintasan aspal.
Inilah yang dilakukan Terpaksa Running Club (TRC) kurun tiga bulan ini. Hampir setiap Jumat dan Minggu, ada puluhan orang yang ikut serta berlari. Mereka semua mencari sehat.
Koordinator komunitas TRC Mashabi, 33, mengatakan, sebenarnya komunitas sudah memiliki rencana sejak dua tahun terakhir. Tapi baru bisa direalisasikan sejak Januari 2026
Kata Mashabi, nama TRC diambil dari sebuah cerita pembentukan dan perekrutan peserta lari. Tantangannya, mengajak masyarakat desa dan pesisir seperti di Lekok, tentu berbeda dengan masyarakat lainnya.
Mereka akan mengikuti ketika sudah melihat action yang positif. Jadi “Jadi untuk merekrut dengan cara step by step,” beber Mashabi yang berasal dari Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok.
Setiap mereka mengajak masyarakat, TRC mengkampanyekan dan mengajak warga untuk menjaga kesehatan. Selain itu tentu saja mengedukasi perihal cara berlari.
Menariknya, selama mereka menggelar kegiatan, UMKM turut dilibatkan. Mereka bekerjasama dengan UMKM agar menyediakan minuman yang nantinya dibeli oleh peserta lari.
“Sudah ada dua UMKM yang bekerja sama dengan kami. Semacam angkringan nanti start finish-nya lari pagi di sana. Peserta membeli minuman dan makanan pisang. Jadi membantu menghidupi ekonomi mereka,” sampainya.
Abi panggilan akrab Mashabi menjelaskan, awalnya lari pagi ini terinspirasi dari kehidupan masyarakat di wilayah Lekok.
Umumnya masyarakat di Lekok memulai pagi harinya dengan merokok dan meminum kopi. Memulai dengan cara hidup tidak sehat sebelum kemudian mereka bekerja.
Tak jarang masyarakat pesisir, banyak yang mengalami kolesterol tinggi, diabetes dan lainnya. Terutama pada usia lanjut usia. Penyakit mudah datang pada mereka. Dan rata-rata jarang yang berolahraga.

Sementara fasilitas olahraga di Lekok minim bahkan tidak memiliki. Seperti lapangan olahraga dan lainnya. Minimnya fasilitas inilah yang membuat masyarakat makin enggan untuk berolahraga. “Hanya sebagian orang-orang yang senang olahraga,” ujarnya.
Berangkat dari sana, TRC mencoba mencari anggota. Mulanya, hanya segelintir saja yang ikut. Tapi perlahan, kegiatan lari yang digelar tiap Jumat dan Minggu pagi, mulai banyak peminatnya.
Sebab olahraga ini tak perlu fasilitas atau tempat olahraga. Dimanapun bisa berolahraga dan gratis. Hanya dengan memanfaatkan jalan, masing-masing akan bisa berolahraga.
Abi mengaku, awalnya agak kesulitan untuk mengajak masyarakat olahraga lari. Dia dan anggota komunitas lainnya kemudian memasukkan acara seperti senam hingga pemberian doorprize kecil-kecilan.
Masyarakat merasa senang dan perlahan masyarakat lainnya mengikutinya. Karena kegiatan ini bersifat umum.
Selain itu dia mengajak fotografer sehingga foto semua aktivitas dikirim di grub WhatsApp. Semuanya senang karena momen itu menjadi aktivitas rutin mereka.
Sibro Malisi adalah salah satunya. Pria asal Pasinan ini sudah sejak februari lalu mengikuti event lari yang digelar TRC.
“Awalnya ikut serta dan lama-lama makin asyik. Bisa bertemu dan berkenalan dengan teman baru,” beber bapak dua anak ini.
Sibro terkadang mengajak istri dan anaknya. Bagi Sibro, mengenalkan olahraga ke keluarga itu penting karena mereka akan terbiasa untuk memilih hidup sehat.
Lain lagi dengan Nurul, warga Desa Sumberanyar dari Nguling. Awalnya dia diajak untuk mengikuti lari yang digelar TRC ini oleh saudaranya.
“Kebetulan saat itu Minggu sedang libur. Ternyata lari menyisiri jalan desa ini menyenangkan. Bahkan udaranya lebih sejuk daripada lari di perkotaan,” beber Nurul.
Lain lagi dengan Mahsunah, 32, seorang ibu rumah tangga asal Lekok yang menyatakan kesenangannya mengikuti running. Karena bertahun-tahun biasanya malas gerak, kini bisa semakin semangat beraktivitas setalah lari. Dan merasakan juga manfaatnya.
“Dari yang mager sampai jadi kecanduan lari yang kencang, terimakasih TRC,” katanya.
Peserta lainnya Faizin, 35, seorang tenaga kependidikan di Sekolah Rakyat menyatakan, awalnya setiap hari malas untuk lari. Tapi setelah gabung di TRC, dia ingin lari setiap hari.
“Awalnya olahraga malas. Sejak ikut TRC ini jadi senang berolahraga,” kata warga Kecamatan Lekok ini.
Nia Kurnia, 35, seorang wali asuh di SRT 48 Pasuruan menyatakan, sekarang badannya lebih segar. Pikiran lebih jernih dan dia bisa menambah teman yang satu frekuensi. “Pokoknya senang. Badan dulu kaku sekarang rutin ikut TRC jadi fresh,” akunya.
Hingga sekarang semakin lama banyak masyarakat yang semakin menggemari olahraga lari. TRC mencatat peserta banyak bertambah dari berbagai usia dan profesi. Saat ini total keseluruhan 64 anggota dari yang awalnya hanya terhitung jari.
Selain lari pagi, mereka diberikan edukasi untuk menambah wawasan bagaimana cara berlari bagi usia muda maupun tua. Termasuk manfaatnya. Sehingga ketika mereka sedang melaksanakan olahraga lari, yang tua bisa berlari dan jarak beberapa kilometer nanti jalan kaki.
Sebab usia tua rentan bisa menyederai lutut bagi mereka yang baru melaksanakannya. Berbeda dengan usia muda otot mereka masih lentur dan bisa berlari cepat sejauh 3 sampai 5 kilometer.
Rencana ke depan edukasi berupa tentang makanan dan kesehatan lainnya. “Ke depan edukasinya bukan hanya lari pagi. Tapi juga yang lainnya agar masyarakat hidup sehat dan mencegah penyakit datang,” ujarnya.
Kata Abi, TRC sengaja menjadwalkan kegiatan Jumat dan Minggu. Karena mayoritas aktivitas di Kecamatan Lekok lebih nyaman di dua hari tersebut. Banyak sekolah swasta yang liburnya hari Jumat, sementara sekolah umum liburnya Minggu. (fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni