Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sisi Lain Vita Suci Rahayu Ketua Bawaslu Kota Pasuruan yang Tekuni Bisnis Sulam dan Bordir

Fahrizal Firmani • Rabu, 15 April 2026 | 11:07 WIB
AKTIF-BISNIS: Vita Suci saat ditemui di ruangan Bawaslu. Inset, Vita dengan produk bordir buatannya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
AKTIF-BISNIS: Vita Suci saat ditemui di ruangan Bawaslu. Inset, Vita dengan produk bordir buatannya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Latar belakang Vita Suci Rahayu sebagai aktivis berpengaruh dalam pribadinya. Kemampuan dalam bekerja sama dan kepemimpinan terbawa. Ia dipercaya menjadi pimpinan Bawaslu Kota Pasuruan sembari menekuni bisnis sulam dan bordir.

FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo

PILIHAN Vita Suci Rahayu menekuni sulam dan bordir berawal dari keinginannya menaikkan taraf hidup warga Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Sebab banyak yang menjadikan bordir dan sulam sebagai pekerjaan sampingan. Namun mereka mendapat honor kecil.

Upahnya tiga sampai empat ribu rupiah untuk satu pasang sepatu. Kebetulan pekerjaannya saat itu sebagai pendamping jalan lain menuju mandiri dan sejahtera (Jalin Matra), program dari Pemprov Jatim. Karena sering ke desa, ia sering menerima keluhan mereka terkait upah.

"Saya menjadi koordinator Jalin Matra di 2014-2019. Banyak ibu-ibu yang bilang ingin dapat upah lebih tinggi," kata warga Bugul Lor, Panggungrejo ini.

Vita menyebut pekerjaan utama warga Kecamatan Rembang, utamanya Desa Kanigoro dan Krengih adalah petani. Perempuan di sana menanam jagung di ladang. Sembari menunggu panen, mereka menerima bordir dan sulam sepatu.

Karena sering menerima keluhan itu, Vita memutuskan membuat bisnis sulam dan bordir di 2019.

Agar hasil yang dibuat bisa lebih mahal, maka dia menggunakan bahan premium. Jins hingga katun untuk sepatu saat rata-rata banyak yang menggunakan bahan sisa.

Dia menyiapkan bahan dan motifnya. Ia menggambar pola dan desain yang akan disulam.

Sementara pengerjaan dilakukan orang lain. Ia mempekerjaan warga lokal Rembang. Mereka tinggal membuat bordir mengikuti pola yang dibuat.

"Kebetulan saya itu suka menggambar. Jadi saya memutuskan membuka bisnis sulam dan bordir ini," jelas Vita.

Wanita kelahiran 17 Januari ini menyebut mereka diberi upah Rp 7 ribu per pasang dan saat ini lebih dari Rp 10 ribu per sepatu. Bisnisnya terus berkembang. Ia juga menyasar mukena, taplak meja hingga sarung bantal. Ia juga menerima kustom bordir pada pakaian.

Harganya bervariasi. Untuk sepatu per pasang sekitar Rp 65 ribu, sementara mukena bisa Rp 125 ribu. Sedangkan kustom bordir pakaian Rp 100 ribu.

Proses pengerjaan kustom ini butuh satu hingga dua pekan, tergantung tingkat kerumitan pola.

"Saat itu saya menjadi panitia pemilihan kecamatan (PPK) Panggungrejo. Saat senggang, saya membuat pola untuk bordir dan sulaman," jelas Vita.

Lulusan S1 Ilmu Administrasi Negara ini menyebut ia menjual produknya itu di secara offline di surabaya dan denpasar serta melalui online di market place. Namun bisnis offline-nya hanya bertahan dua tahun. Saat ini fokus di market place. Bisnis mukenanya laris manis. Sempat menjadi produk nomor satu di market place.

Rata-rata penjualan per hari saat itu bisa mencapai diatas 100 buah. Saat ini masih tetap tinggi, di kisaran 40 buah per hari. Harganya yang bersahabat dan pola bordirnya yang unik menjadi penyebab banyaknya permintaan.

"Bahannya juga bukan bahan sembarangan. Saya pakai kain katun sutra diamond. Jadi bahannya halus dan nyaman," tuturnya.

Lulusan Universitas Negeri Jember (Unej) ini menyebut saat ini bisnisnya tetap berjalan. Namun karena kesibukannya sebagai ketua Bawaslu sejak 2023, maka ia hanya fokus pada menambah barang lama jika habis. Ia juga tidak menerima permintaan kustom bordir pada pakaian. Alasannya, sebagai pimpinan Bawaslu, ia punya tanggung jawab rutin setiap harinya.

Namun bisnis bordir dan tanggung jawab sebagai ketua bawaslu sama sama dinikmati olehnya. Di bawaslu, ia menjadi pelayan masyarakat dan penjaga demokrasi, sementara di bisnis bordir ia bisa membantu masyarakat.

"Saya tinggal menyediakan bahan dan pekerja menggarap sesuai pola yang sudah ada," kata perempuan asli Kota Pasuruan ini.

Lulusan SMAN 1 Pasuruan mengatakan profesi yang ditekuninya saat ini tidak terlepas dari keterlibatannya sebagai aktivis saat menjadi mahasiswa. Selama menempuh pendidikan di UNEJ, ia aktif dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Di organisasi ini, ia dibekali kepemimpinan, tanggung jawan dan kerja sama bersama tim.

Kemampuan inilah yang terbawa sampai saat ini. Sebagai ketua Bawaslu, ia harus bisa memimpin dan membawa bawaslu menjadi lebih baik. Sementara dalam bisnis, ia harus mampu mengarahkan dan bekerja sama dengan orsng lain.

"Hampir mirip baik di bawaslu dan bisnis bordir yang ditekuni. Harus pandai kerja sama dan bisa memimpin," sebut Vita. (fun)

 

Editor : Abdul Wahid
#bordir #bawaslu