Suaranya redup, empuk, namun ritmis: blug… gebluk… blug. Terdengar sederhana, tidak meledak-ledak, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Tradisi syiiran Blug Gebluk telah menjaga napas dakwah di desa-desa Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, selama lebih dari seratus tahun.
MUHAMAD BUSTHOMI, Rembang, Radar Bromo
Suara tersebut lahir dari benda paling akrab dalam kehidupan sehari-hari: bantal. Namun bagi warga Rembang, bunyi “blug gebluk” bukan sekadar pukulan. Tradisi ini telah menjadi medium dakwah, ruang belajar, sekaligus perekat sosial yang usianya melampaui satu abad.
Dalam praktiknya, Blug Gebluk merupakan perpaduan antara pembacaan syair dengan iringan tepuk tangan dan pukulan bantal yang dimainkan secara berkelompok. Unsur kebersamaannya terasa kuat. Setiap ritme dibangun bersama, setiap bait dilantunkan serempak, menghadirkan suasana yang hidup sekaligus hangat.
Di tengah lantunan syiir, suara pukulan bantal mengiringi setiap bait dengan ritme teratur. “Ngawiti kulo kelawan bismillah…” Suara jemaah menyatu, membentuk harmoni sederhana yang sarat makna. Ajaran fikih, akidah, hingga akhlak disisipkan dalam bait-bait berbahasa Jawa dan Madura, disampaikan tanpa kesan menggurui.
Ketua Lesbumi MWC NU Kecamatan Rembang Zainul Arifin menyebut, tradisi tersebut sebagai salah satu warisan dakwah paling unik di Pasuruan. Tidak hanya bertahan lama, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Di balik tradisi tersebut, terdapat dua nama penting yakni Kiai Zainal Abidin dan KH Abdurrosyid. Keduanya dikenal sebagai perancang awal syiiran Blug Gebluk dengan menggunakan pendekatan budaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang saat itu masih minim akses pendidikan formal.
“Syiiran Kiai Abdurrosyid lebih fokus pada akidah, sementara Kiai Zainal Abidin banyak menyusun syiir tentang fikih dan akhlak,” terang Zainul.
Pilihan menggunakan syiir bukan tanpa alasan. Bahasa lisan dalam bentuk tembang lebih mudah diingat. Ketika dikombinasikan dengan ritme tepuk tangan dan pukulan bantal, pesan menjadi lebih hidup dan meresap dalam ingatan kolektif.
Menariknya, syiiran yang dilantunkan hingga kini masih dipertahankan secara tekstual sebagaimana diajarkan para pencetusnya. Penyalinan dilakukan lintas generasi agar tetap bisa dipelajari jemaah. Sebagian naskah masih berupa teks asli, sementara sebagian lain merupakan hasil salinan ulang, namun tetap merujuk pada karya dua ulama tersebut.
“Masih dirawat sampai sekarang. Sudah tiga generasi disalin dan ditulis ulang,” ujar Zainul.
Sebaran jemaah tidak lagi terbatas di Kecamatan Rembang. Kelompok dari wilayah lain seperti Pandaan dan Kraton ikut terlibat. Namun di Rembang sendiri, hampir seluruh desa memiliki kelompok Blug Gebluk.
Peran penting dalam penyebaran tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh Kiai Abdul Hamid. Sebagai santri dari kedua ulama tersebut, dakwah syiiran Blug Gebluk semakin meluas ke desa-desa di luar Rembang.
Momentum penting terjadi setelah masa penjajahan berakhir. Tradisi Blug Gebluk berkembang menjadi kegiatan kolektif lintas desa. Pada 1950, kegiatan rutin mulai dibentuk melalui anjangsana dari satu musala ke musala lain. Setiap pertemuan menjadi ruang perjumpaan untuk belajar agama sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga.
“Kiai Zainal Abidin membimbing penggabungan jemaah dari berbagai musala. Dari situ lahir tradisi rutin malam Selasa yang masih bertahan sampai sekarang,” ujar Zainul.
Salah satu pusat kegiatan berada di Pesantren Roudlotul Hamdi. Dalam satu majelis, jumlah jemaah bisa mencapai ratusan orang. Secara keseluruhan, pengikut setia Blug Gebluk telah menembus angka ribuan.
Daya tarik utama tradisi ini terletak pada kesederhanaannya. Bantal sebagai alat utama menghasilkan suara rendah yang stabil dan tidak mengganggu. Namun makna simboliknya jauh lebih dalam. Pukulan tersebut menghadirkan suasana gembira, menjadikan proses belajar terasa ringan.
“Pendekatan ini menunjukkan kecerdasan para ulama terdahulu. Dakwah tidak ditempatkan sebagai aktivitas yang kaku, melainkan pengalaman yang menyenangkan,” kata Zainul.
Unsur seni menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Para kiai di Rembang dikenal memiliki kedekatan dengan dunia seni. Dua pencetus Blug Gebluk bahkan dikenal sebagai pecinta seni dan teater, yang kemudian memanfaatkan seni sebagai medium dakwah.
“Seni menjadi jembatan antara pesan agama dan kehidupan sehari-hari. Kitab-kitab klasik diterjemahkan ke dalam syiir, lalu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami,” jelas Zainul.
Karakteristik wilayah juga memberi warna tersendiri. Di Rembang bagian selatan, syiir dilantunkan dalam bahasa Madura. Sementara di wilayah utara, bahasa Jawa lebih dominan. Variasi tersebut menunjukkan kemampuan tradisi ini untuk beradaptasi dengan konteks sosial masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, tradisi Blug Gebluk tidak berhenti di musala desa. Panggung yang lebih luas mulai dijajaki. Pada 2023, kesenian ini tampil di Taman Mini Indonesia Indah dan kembali tampil dalam agenda Rawat Budaya Pendalungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI.
Langkah tersebut menjadi penanda bahwa tradisi lokal memiliki daya hidup yang kuat di tengah arus modernisasi.
Namun di balik perjalanan panjang itu, terdapat pesan yang tetap relevan. Blug Gebluk bukan sekadar kesenian, melainkan cara pandang tentang pendidikan, bahwa pembentukan akidah, adab, dan pengetahuan tidak selalu harus berlangsung dalam ruang formal.
“Kadang, proses belajar justru lebih efektif ketika hadir dalam suasana akrab, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan penuh kegembiraan,” beber Zainul.
Di Rembang, suara blug… gebluk… masih terus terdengar. Tidak keras, tidak pula memaksa. Namun cukup untuk mengingatkan bahwa dakwah pernah menemukan jalannya melalui benda paling sederhana di dalam rumah. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi