Fandy Adyaksa Laksono, 30, kembali harus merasakan Idul Fitri di negeri orang. Mahasiswa S-2 University of Sheffield, United Kingdom (UK) atau Inggris itu merayakan Lebaran dengan komunitas muslim UK dan warga Indonesia yang ada di UK.
ARIF MASHUDI, Inggris, Radar Bromo
Sejak tahun 2025, mahasiswa asal Jalan Bengawan Solo, Gang Merpati 39 RT 3/RW 1, Kecamatan Kademangan, Kota Probolingo, itu menetap di Inggris. Dia berhasil meraih beasiswa bergengsi Chevening Scholarship, sebuah pencapaian yang hanya diraih segelintir orang dari ribuan pelamar.
Beasiswa ini full dari Pemerintah Inggris dengan tingkat kesulitan 99 persen. Di mana kuota untuk Indonesia tahun 2025 hanya 40 orang dan Fandy menjadi salah satu yang berhasil menembusnya.
Namun di balik pencapaian itu, ada harga yang harus dibayar: merelakan momen Lebaran jauh dari rumah.
Tahun ini, Fandy memutuskan untuk tidak pulang. Waktu studinya yang masih tersisa membuatnya memilih bertahan di Inggris. Keputusan itu bukan tanpa pergulatan batin. Sebab, Lebaran baginya bukan sekadar hari raya, melainkan tentang pulang, keluarga, dan kebersamaan yang tak tergantikan.
“Di sini tidak semeriah di Indonesia. Tapi tetap ada kebahagiaan, meski berbeda,” terang lulusan SMAN 2 Kota Probolinggo dan S-1 Universitas Brawijaya tersebut.
Di Inggris, umat Muslim adalah minoritas. Ramadan berjalan lebih sunyi. Tidak ada tradisi ngabuburit, tidak ada pasar takjil yang ramai menjelang magrib. Hari-hari berpuasa terasa seperti hari biasa, hanya saja dijalani dengan perut kosong dan hati yang lebih sabar.
Beruntung, putra pasangan almarhum Rudi Sulaksono dan Sulasmi itu tidak sepenuhnya sendiri. Ia menemukan kehangatan dalam kebersamaan komunitas Muslim internasional, terutama dari Timur Tengah yang aktif menggelar buka puasa bersama.
Bahkan, kampusnya rutin mengadakan iftar mingguan. Sebuah ruang kecil untuk berbagi rasa di tengah keterasingan.
Puasa di Inggris pun memiliki ritme berbeda. Tahun ini jatuh di musim dingin, dengan durasi sekitar 12–13 jam. Waktu berbuka sering kali datang saat ia masih berada di kelas.
“Kalau sudah waktu berbuka, ya membatalkan puasa dengan sederhana. Biasanya dengan seteguk air atau sepotong makanan di sela perkuliahan,” tuturnya.
Di balik rutinitas itu, rindu perlahan menumpuk. Sebagai Presiden Perkumpulan Pelajar Indonesia Sheffield periode 2025–2026, Fandy mencoba merajut kembali suasana Lebaran yang ia kenal.
Bersama Komunitas Islam Britania Raya (KIBAR) di Sheffield, ia menginisiasi perayaan Idul Fitri sederhana bagi warga Indonesia. Tidak ada kemewahan. Hanya kebersamaan yang diupayakan.
Acara itu digelar dengan konsep potluck. Setiap orang membawa makanan dari rumah, lalu disatukan dalam satu meja panjang. Sebuah simbol bahwa meski jauh dari tanah air, mereka tetap memiliki “rumah” dalam bentuk kebersamaan.
Di situlah, untuk sesaat, rindu terasa sedikit terobati. Memang mungkin tidak ada suara ibu yang memanggil dari dapur atau pelukan hangat keluarga di pagi hari Lebaran.
Namun di antara tawa sesama perantau dan hidangan yang dibagi bersama, Fandy menemukan cara lain untuk merayakan. Cara yang sederhana, tapi penuh makna.
Lebaran di negeri orang, pada akhirnya bukan tentang kemeriahan. Melainkan tentang bagaimana seseorang menjaga rasa pulang, meski tubuhnya berada ribuan kilometer dari rumah. (hn-selesai)
Editor : Muhammad Fahmi