Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Warga Betek Probolinggo Lebaran di Negeri Orang; Dentuman Rudal Tak Menyurutkan Semangat Bekerja dan Ibadah

Agus Faiz Musleh • Senin, 6 April 2026 | 19:58 WIB
BUKA PUASA: M. Husen Taufik, 28, asal Desa Betek, Kecamatan Krucil, saat menunaikan buka bersama rekan kerjanya di Makkah. Kini dia jadi driver pengantar jemaah haji dan umrah di Makkah.
BUKA PUASA: M. Husen Taufik, 28, asal Desa Betek, Kecamatan Krucil, saat menunaikan buka bersama rekan kerjanya di Makkah. Kini dia jadi driver pengantar jemaah haji dan umrah di Makkah.

 

Langit Makkah masih gelap ketika deru mesin bus perlahan memecah keheningan. Di balik kemudi, M. Husen Taufik, 28, menatap jalan panjang di hadapannya. Namun pikirannya sesekali melayang jauh—ke Desa Betek, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Tempat di mana Lebaran biasanya dirayakan dengan canda keluarga dan tradisi yang akrab sejak kecil.

 

Agus Faiz Musleh, Arab Saudi, Radar Bromo

Sejak menginjakkan kaki di Arab Saudi pada 2025, hidup Husen berubah. Dari udara sejuk pegunungan, ia kini terbiasa dengan panasnya gurun dan ritme kerja tanpa henti di antara dua kota suci, Makkah dan Madinah. Ia bekerja sebagai sopir yang mengantar jemaah haji dan umrah—perjalanan yang terus berulang, namun tak pernah benar-benar sama.

Ramadan di tanah suci memberinya pengalaman yang tak biasa. Waktu puasa terasa lebih panjang dibanding di Indonesia. Namun baginya, setiap lelah terbayar dengan keberkahan yang ia rasakan.

“Alhamdulillah, baik buka puasa maupun sahur tercukupi semuanya. Tidak kekurangan,” tuturnya.

Hari-harinya diisi perjalanan panjang: dari bandara menuju Makkah, lalu ke Madinah, dan kembali lagi. Di balik setir, ia tak hanya mengantar jemaah, tetapi juga menyaksikan beragam kisah dari orang-orang yang datang dengan harapan dan doa.

Di sela kesibukan itu, Husen tetap mencari ruang untuk beribadah. Baginya, momen paling menenangkan adalah ketika bisa berziarah dan menunaikan umrah.

“Alhamdulillah di sela-sela kesibukan, kami bisa beribadah, berziarah ke makam Baginda Nabi Muhammad SAW dan juga umrah. Semua berjalan lancar,” katanya.

Namun kehidupan di negeri orang tak selalu tenang. Bayang-bayang konflik di Timur Tengah sempat terasa, meski tidak langsung mengganggu aktivitasnya. Kabar ledakan di Riyadh, bahkan sempat terdengar hingga Madinah.

“Alhamdulillah di antara dua tanah suci, Makkah dan Madinah, baik-baik saja. Tapi di Riyad memang sempat terjadi pengeboman,” ungkapnya.

Dentuman itu tak lantas membuatnya gentar. Ia memilih tetap fokus pada tanggung jawabnya—mengantar jemaah dengan aman.

“Perasaan kami baik-baik saja, apalagi saat membawa jemaah. Yang penting mereka aman sampai tujuan,” ujarnya ringan.

Di balik cerita serius itu, Husen masih menyimpan selera humor khas kampung halaman. Kekhawatiran terbesarnya justru terdengar sederhana.

“Yang dikhawatirkan itu takut nggak punya uang karena di sini bekerja, salah satunya untuk membayar utang,” ucapnya sambil tertawa.

Adaptasi juga datang dari hal-hal kecil, seperti makanan. Lidah Jawa yang terbiasa nasi harus beralih ke roti khas Timur Tengah, seperti tamis dan kobus. “Awalnya sangat kesulitan. Tapi sekarang sudah terbiasa,” katanya.

Meski begitu, satu hal yang tak pernah berubah adalah rindu pada rumah. Ia mengobatinya dengan panggilan telepon yang hampir tak pernah absen setiap hari.

“Setiap hari pasti telepon kalau ada waktu senggang. Soalnya nggak ada yang mau ditelepon lagi, istri,” candanya.

Lebaran tahun ini menjadi momen yang berbeda. Tak ada takbir keliling, tak ada hidangan khas di meja makan. Sebagai gantinya, Husen merayakan malam kemenangan di dalam bus—bersama jemaah dari berbagai negara.

“Seperti hari ini, kami melaksanakan takbiran di dalam bus bersama jemaah yang hendak pulang ke negaranya,” tuturnya.

Di antara kursi-kursi penumpang, takbir menggema pelan, menyatukan rindu dari berbagai penjuru dunia. Sederhana, namun penuh makna.

Di tengah meningkatnya jumlah jemaah dan situasi kawasan yang dinamis, pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan yang jauh lebih ketat. Husen merasakan langsung perubahan itu.

“Sekarang superketat, baik di perjalanan, perhotelan, maupun di Makkah dan Madinah,” jelasnya.

Kebijakan tersebut membuat penyelenggaraan ibadah menjadi lebih tertata. Bahkan, Ramadan tahun ini disebut sebagai salah satu yang paling padat, dengan sekitar 900 ribu jemaah umrah.

Sudah dua kali Husen menjalani Ramadan di tanah suci. Dua kali pula ia melewati bulan penuh berkah itu tanpa cela.

“Alhamdulillah sudah dua kali Ramadan berjalan dengan baik dan tidak pernah mokel,” katanya bangga.

Di balik semua cerita itu, ada satu hal yang tetap tinggal: kerinduan. Kerinduan pada rumah, pada keluarga, dan pada Lebaran yang sederhana—namun selalu terasa paling utuh di kampung halaman. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#betek #mekkah #diaspora #krucil