Rumah Budaya Roma Sondhuk tidak hanya sebagai pusat kebudayaan dan galeri kreatif di Kelurahan Sidomukti, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Rumah budaya ini menjadi tempat berinteraksi mulai seniman, sastrawan, dan budayawan, termasuk kunjungan dari berbagai komunitas sastra.
AGUS FAIZ MUSLEH, Kraksaan, Radar Bromo
Bahkan saat Ramadan lalu, mereka baru saja menggelar Ngaji Budaya. Di momen itu, ada dialog interaktif yang membahas soal kebudayaan hingga pameran keris dan pusaka nusantara. Para pemerhati budaya, empu, kolektor hingga generasi muda yang bukan hanya berasal dari Probolinggo, berkumpul.
Kebetulan saat itu mereka sedang membahas keris. Saat banyak orang berdiskusi, sorotan malam itu tertuju pada seorang Mpuperempuan muda asal Kampung Keris Aeng Tongtong, Sumenep, Madura. Dia adalah Empu Ikka Arista, satu-satunya perempuan Empu di Indonesia saat ini.
Di hadapan para pecinta pusaka Probolinggo, ia membentangkan cerita panjang tentang keris yang jauh melampaui bayangan orang kebanyakan. Kata Ikka, keris dalam kebudayaan Nusantara sejak awal bukanlah senjata tajam seperti yang sering disimpulkan secara sederhana.
“Kalau hari ini kita mengatakan keris itu senjata tajam, itu sebenarnya cara pandang yang banyak dipengaruhi era kolonial,” ujarnya.
Ikka menjelaskan bahwa keris menjadi simbol perjalanan kedewasaan seseorang dalam budaya Jawa. Ia mencontohkan bagaimana seorang anak yang mulai memasuki masa akil balig akan diberi amanah keris oleh orang tuanya.
Perjalanan simbolik itu terus berlanjut. Saat seseorang menikah, ia akan menerima keris leluhur dari keluarganya. “Artinya dia tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, tapi juga pada terah dan silsilah keluarganya,” ujarnya.
Setelah itu, keluarga mertua juga akan memberikan keris kepada menantunya.
“Maknanya, bukan hanya keluarga sendiri yang harus dijaga, tetapi keluarga pasangan juga menjadi tanggung jawabnya,” lanjutnya.
Dalam tradisi Keraton bahkan ada pusaka khusus seperti Kanjeng Kiai Piturun yang hanya diwariskan kepada generasi berikutnya yang menjadi raja. “Seorang sultan akan mewariskan keris tertentu yang hanya turun kepada penerus tahta,” katanya.
Hal itu menunjukkan bahwa keris memiliki fungsi simbolik, sosial, sekaligus spiritual dalam tatanan budaya. Aturan penggunaan keris juga memiliki tata cara tersendiri. Dalam beberapa busana adat, misalnya, keris diselipkan di belakang dengan posisi sengkelit tertentu.
Menurut Ikka, keberagaman bentuk keris sebenarnya mencerminkan ekosistem budaya yang luas. Ia juga menyinggung pentingnya menjaga identitas kultural, termasuk melalui bahasa. “Kalau logat bahasa kita hilang, identitas kultural kita juga ikut hilang,” katanya.
Banyak orang juga salah memahami pamor keris. Pola pada bilah keris sering dikira digambar seperti lukisan. Padahal pamor lahir dari proses tempa dan lipatan logam yang berlapis. “Pamor itu bukan digambar. Itu hasil warna besi yang ditempa dan dilipat berkali-kali,” ujarnya.
Ikka juga menyoroti tantangan pelestarian keris di era modern. Salah satunya adalah minimnya minat generasi muda. “Anak muda yang suka keris itu jarang. Paradigmanya keris dianggap mistis dan tidak relevan dengan hari ini,” katanya.
Di Madura sendiri, keris pernah mengalami masa larangan pada abad ke-18. Namun keris-keris Madura justru banyak dibeli oleh kolektor Belanda dan menyebar ke wilayah Tapal Kuda.
“Sampai sekarang keris Madura terkenal karena kualitas besinya dan teknik tempa lipatnya,” ujarnya.
Namun tantangan baru juga muncul dari produk luar negeri. Ikka mencontohkan golok produksi pabrik dari China yang membanjiri pasar dengan harga murah. “Teman-teman perajin golok di Jawa Barat banyak yang sudah gulung tikar,” katanya.
Meski demikian, ia optimistis keris masih memiliki daya tahan. Sebab yang dimiliki keris bukan hanya teknik, tetapi juga tradisi. “Teknologinya mungkin bisa ditiru. Tapi ritus tradisinya tidak mereka punya,” katanya.
Ia mencontohkan tradisi jamas pusaka di bulan Suro, penggunaan keris dalam pernikahan, hingga berbagai ritual adat yang masih bertahan. Tradisi-tradisi itulah yang membuat keris diakui sebagai warisan budaya tak benda.
Pembahasan soal keris masih terus mengalir di Rumah Budaya Roma Sondhuk. Di atas meja pameran, bilah-bilah pusaka itu tetap berkilau tenang. Seolah mengingatkan bahwa di balik setiap lekuk pamor, tersimpan kisah panjang tentang peradaban, pengetahuan, spiritualitas, dan identitas Nusantara yang terus hidup hingga hari ini.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dikdaya Ahmad Arif Hermawan yang juga turut hadir di Ngaji Budaya, mengapresiasi atas inisiatif komunitas budaya yang menyelenggarakan kegiatan ini sekaligus pameran keris sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan.
“Keris adalah warisan budaya tak benda yang khas asli Indonesia dan telah diakui dunia melalui UNESCO. Karena itu menjadi kewajiban kita sebagai pewaris budaya untuk terus melestarikannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keris tidak hanya dipandang sebagai benda pusaka, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang harmoni antara manusia, alam dan Sang Pencipta.
“Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, generasi muda perlu terus dikenalkan dengan warisan budaya seperti keris agar tidak kehilangan akar identitasnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Founder Roma Sondhuk Probolinggo Nur Syamsi Zakariya menyebutkan, konsep Ngaji Budaya tahun ini sengaja dibuat berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya kegiatan hanya berupa diskusi kebudayaan, namun kegiatan terakhir yang digelar saat Ramadan lalu dipadukan dengan pameran pusaka Nusantara yang menampilkan berbagai peninggalan bersejarah seperti keris, tombak dan artefak budaya lain.
“Selain diskusi, kami juga bisa menyaksikan langsung warisan kebudayaan itu sendiri. Di sini ada pusaka keris, tombak dan berbagai peninggalan masa lalu yang merupakan hasil kebudayaan leluhur kita,” ujarnya.
Menurutnya, pameran tersebut juga menghadirkan para praktisi budaya sekaligus Empu pembuat keris. Selain Ikka Arista, ada tiga Empu yang ikut hadir. Dari kegiatan itu, Nus Syamsi ingin memberikan pemahaman kepada generasi muda bahwa keris bukan sekadar senjata tradisional. Tetapi bagian penting dari identitas budaya Nusantara.
Ia menegaskan, Indonesia sesungguhnya memiliki kekuatan besar di bidang kebudayaan yang bahkan diakui dunia. “Indonesia ini sesungguhnya negara dengan super power kebudayaan. Kita memiliki kekayaan adat, tradisi, seni, kuliner, motif batik hingga artefak. Di dalam semua itu ada ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan kearifan para leluhur kita,” jelasnya.
Namun ia menilai tradisi luhur saat ini mulai tergerus oleh berbagai produk modernitas yang kerap kehilangan nilai kebijaksanaan budaya. “Tradisi luhur kita mulai tergeser oleh benda-benda modern yang tidak memiliki nilai-nilai kebijaksanaan. Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua,” katanya.
Karena itu, ia menilai kegiatan Ngaji Budaya menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur. “Jika tradisi tidak hanya dipahami bentuknya saja, tetapi juga nilai luhur di dalamnya, maka itu bisa menjadi kekuatan besar untuk membentuk kembali perilaku manusia Indonesia,” tegasnya. (mu)
Editor : Abdul Wahid