Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Keseruan Kitiran, Permainan Tradisional yang Masih Bertahan di Bukit Ungkapan Tutur Pasuruan

Rizal Syatori • Selasa, 17 Maret 2026 | 15:52 WIB
Sejumlah bocah memainkan kitiran di bukit Ungkapan, Tutur, Kabupaten Pasuruan. (Istimewa)
Sejumlah bocah memainkan kitiran di bukit Ungkapan, Tutur, Kabupaten Pasuruan. (Istimewa)

 

Di tengah gempuran permainan modern, warga Dusun Pronojiwo, Desa Blarang, Kecamatan Tutur di Kabupaten Pasuruan, masih setia merawat sebuah permainan tradisional yang unik. Namanya kitiran—kincir angin sederhana yang hingga kini tetap digemari berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa.

RIZAL FAHMI SYATORI, Tutur, Radar Bromo

Angin sore berembus cukup kencang di Bukit Ungkapan. Di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut itu, deretan baling-baling kayu mulai berputar cepat. Sesekali terdengar bunyi berderak keras—wuuurrrr. Mirip suara baling-baling helikopter yang terbang rendah.

Benda yang berputar itu bukan turbin modern. Warga Dusun Pronojiwo di Desa Blarang, Kecamatan Tutur, menyebutnya kitiran. Sebuah permainan tradisional berbentuk kincir angin sederhana yang hingga kini masih digemari lintas generasi.

Di bukit itu, belasan kitiran berdiri berjajar. Ukurannya beragam. Ada yang kecil dengan diameter 20–30 sentimeter. Ada pula yang jauh lebih besar, mencapai 2–5 meter. Semuanya berputar mengikuti arah angin yang bertiup dari lereng pegunungan.

Di bawahnya, warga berkumpul. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berdiri menikmati pemandangan itu. Bagi sebagian orang, bukit ini bukan sekadar tempat bermain. Di sinilah tradisi lama tetap hidup.

“Ini permainan tradisional warga Pronojiwo. Sudah ada sejak zaman nenek moyang,” kata Kepala Dusun Pronojiwo Henus.

Meski terlihat seperti kincir angin biasa, masyarakat setempat punya sebutan sendiri: kitiran. Permainan ini diwariskan turun-temurun dan masih menjadi hiburan favorit warga.

Bukit Ungkapan dipilih sebagai lokasi utama karena posisinya cukup tinggi dan terbuka. Angin bertiup lebih kencang di sini. Aksesnya pun tidak sulit. Warga bisa berjalan kaki atau naik sepeda motor melewati jalan paving yang kemudian berubah menjadi tanah padat.

Dari puncak bukit, pemandangan pegunungan juga menjadi bonus tersendiri. Siluet Gunung Arjuno dan Gunung Tanggung terlihat jelas di kejauhan, mempercantik suasana.

Namun permainan kitiran tidak bisa dilakukan setiap waktu. Ada musimnya.

Menurut Wahyudi, 40, tokoh pemuda Dusun Pronojiwo, warga biasanya bermain kitiran pada bulan-bulan tertentu saat angin bertiup kencang. Biasanya sekitar Februari sampai Maret.

Tahun ini, musim angin bertepatan dengan bulan Ramadan. Warga memanfaatkan waktu siang hingga sore hari untuk bermain. Menjelang matahari terbenam, suasana bukit semakin ramai. Banyak warga datang sekadar melihat atau ikut memasang kitiran.

“Semakin sore biasanya semakin ramai warga yang datang. Anginnya juga makin kencang,” kata Wahyudi.

Tak hanya warga Pronojiwo yang datang. Pengunjung dari dusun sekitar seperti Dukutan di Desa Ngendro, Ngepring di Desa Tlogosari, hingga Cemoro di Desa Blarang, juga sering datang.

Sebelum dipasang di bukit, kitiran dibawa dari rumah masing-masing. Cara membawanya cukup unik. Ada yang dipanggul sambil mengendarai motor. Ada pula yang mengikatnya di jok belakang.

Sesampainya di lokasi, kitiran dirangkai lalu dipasang di atas tiang bambu yang ditancapkan ke tanah. Setelah permainan selesai, semua kembali dibongkar dan dibawa pulang.

Kitiran tidak bisa dibuat sembarangan. Warga menggunakan kayu tertentu seperti mahoni, bawangan, waru wangkit, atau gendis. Pada bagian belakang dipasang “buntutan” dari daun pijih atau pelepah kelapa agar baling-baling lebih stabil saat tertiup angin.

Tiangnya menggunakan bambu dengan ukuran lebih tinggi dari diameter kitiran. Sehingga, baling-baling dapat berputar bebas.

Saat angin berembus kencang, baling-baling kayu itu berputar cepat dan menghasilkan suara khas. “Senang kalau sudah bunyi. Suaranya seperti helikopter,” kata Wahyudi sambil tersenyum.

Setelah selesai dimainkan, kitiran biasanya disimpan di rumah. Banyak warga menggantungnya di atas atap pawon atau dapur. Tujuannya agar kayu tetap kering karena terkena asap api. Tak heran jika sebagian kitiran warnanya menghitam.

Meski zaman terus berubah dan permainan digital semakin mendominasi, kitiran tetap bertahan di Dusun Pronojiwo. Tradisi sederhana ini masih dirawat oleh warga. Bukan sekadar permainan, tetapi juga bagian dari cerita yang terus berputar bersama angin di Bukit Ungkapan. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#kitiran #bukit ungkapan #pasuruan #permainan tradisional #Tutur