Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menelisik Manajemen Kubah yang Antarkan Masjid di Lereng Gunung Bromo Pasuruan Ini Jadi Masjid Terbaik Se-Jawa Timur

Muhamad Busthomi • Selasa, 3 Maret 2026 | 21:34 WIB

 

 

Masjid An-Nur di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan yang terpilih jadi masjid terbaik se-Jawa Timur.
Masjid An-Nur di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan yang terpilih jadi masjid terbaik se-Jawa Timur.

Bukan di kota besar dengan gedung pencakar langit, gelar Masjid Terbaik se-Jatim justru jatuh ke pelukan sebuah masjid di lereng Gunung Bromo. Rahasianya? Keberanian memutar balik logika: jangan tanyakan apa yang masjid berikan padamu, tapi apa yang kau berikan untuk masjid dan jemaah.

MUHAMAD BUSTHOMI, Tutur, Radar Bromo

Hawa pegunungan di ketinggian Nongkojajar biasanya menembus jaket, merasuk hingga tulang. Namun sore itu, di halaman Masjid Besar An Nur Nongkojajar, dingin terasa jinak, seolah tertahan tepat di gerbang.

Kabut tipis menggantung rendah. Lantai halaman yang bersih berkilau lembap. Kubah masjid menjulang seperti mercusuar desa.

Di bawahnya, orang-orang bergerak dengan ritme tenang, menata sandal, menyapu serambi, menyapa satu sama lain. Pengajian menjelang berbuka segera dimulai.

Di tempat inilah pada 2024, bendera juara Masjid Award Jawa Timur ditancapkan. Bagi warga Nongkojajar, predikat itu terasa wajar.

Masjid yang berdiri sejak 1928 ini bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan itu adalah simpul peradaban desa.

Ketua Takmir H. Ahmad Roji menyebut, predikat juara bukanlah puncak. Melainkan ujian, terlebih saat Ramadan datang. “Ramadan momentum pembuktian. Masjid harus hadir melayani jemaah tanpa celah,” ujarnya.

Bangunan seluas 3.500 meter persegi itu menampung sekitar dua ribu orang. Dari jalan utama, kubahnya mendominasi lanskap kecil desa.

Letaknya di pusat Desa Wonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Diapit pasar, koperasi susu, bank, dan jalur menuju wisata internasional Gunung Bromo.

K.H. Yusuf Wijaya atau Gus Yus saat mengisi pengajian di Masjid An Nur Nongkojajar.
K.H. Yusuf Wijaya atau Gus Yus saat mengisi pengajian di Masjid An Nur Nongkojajar.

Sekretaris takmir Abdul Rokhim mengingatkan, sejak masa kolonial masjid ini sudah menjadi pusat dakwah di wilayah yang majemuk. “Pendiri masjid menghadapi tantangan besar. Tapi masjid tetap berdiri dan berkembang,” ujarnya.

Sejarah panjang itu dirangkum dalam refleksi Seabad Mengabdi pada masa kenaziran KH. Yusuf Wijaya. Dari sanalah takmir memutuskan mengubah tata kelola: dari manajemen masjid biasa menjadi pengelolaan profesional berbasis aset lokal. Kesadarannya sederhana. Masjid di gerbang wisata dunia tak boleh dikelola ala kadarnya.

“Kami melihat Nongkojajar kaya potensi. Mulai wisata, peternak, petani sayur, masyarakat majemuk. Masjid harus menjadi pusat pemberdayaan semua itu,” kata Roji.

Mereka menyebut, pendekatan ini dengan “kubah kekuatan aset”. Metafora arsitektur yang menaungi manusia, fasilitas, teknologi, jejaring, ekonomi, lingkungan, dan tradisi lokal dalam satu orientasi pelayanan.

Di bawah kubah itu, relawan, jemaah, petani, pemuda, hingga perempuan dapur sehat bergerak bersama. Bangunan dan lahan menjadi ruang publik.

QRIS, radio komunitas, dan dakwah digital memperluas jangkauan. Koperasi, UPZ, dan sedekah hasil tani menggerakkan ekonomi. Alam Nongkojajar menopang keberlanjutan. Gotong royong menjadi ruhnya.

“Prinsipnya dari jemaah untuk jemaah,” kata Roji. Moto itu diulang dalam forum takmir. “Jangan bertanya apa yang diberikan masjid kepada Anda. Tanyakan apa yang Anda berikan kepada masjid dan jemaah,” sambungnya.

Kalimat itu diterjemahkan dalam sistem. Administrasi, program, SOP, dan evaluasi disusun rapi. Struktur Idarah, Imarah, dan Riayah memiliki tanggung jawab jelas, termasuk bendahara masing-masing. Masjid bekerja seperti lembaga pelayanan: terukur dan terdokumentasi.

Masjid An Nur, Nongkojajar.
Masjid An Nur, Nongkojajar.

Hasilnya nyata. Tahun 2024, masjid ini meraih Juara 1 Masjid Award Jawa Timur, sekaligus meraih predikat Masjid Ramah Anak Kabupaten Pasuruan. Kepercayaan publik menguat. Donasi dan relawan bertambah. Inovasi berjalan tanpa jeda.

Di desa yang mayoritas masyarakatnya petani dan peternak, rasa memiliki tidak dibangun lewat ceramah panjang. Takmir memilih jalan membumi: mengaitkan ibadah dengan kebutuhan sehari-hari.

Lahirlah program sayur gratis, sedekah subuh berbasis hasil tani, hingga dapur sehat.

Setiap subuh, sayur segar dari petani lokal dibagikan kepada jemaah.

Rokhim menyebut, ada jaringan mitra petani yang menyumbang panen bergilir. “Petani merasa masjid bagian dari hidup mereka,” katanya.

Kepercayaan itu diperkuat tata kelola infak. Bendahara umum berfungsi sebagai ‘bank masjid’ yang mengoordinasikan bidang Idarah, Imarah, dan Riayah.

Sumber dana berasal dari kotak infak, kotak Jumat, parkir, pemanfaatan wakaf, seperti sewa toko, usaha masjid, hingga donatur tetap. Dana tidak mengendap. Tetapi kembali ke pelayanan dan pemberdayaan. Laporan rutin menjaga transparansi, jemaah tahu ke mana uang mereka mengalir.

Masjid juga membangun koperasi dan Unit Pengumpul Zakat. Dana sosial bergerak ke pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluarga. Perempuan terlibat dalam dapur sehat dan pengasuhan. “Jemaah merasa berdaya karena terlibat,” kata Rokhim.

Dalam penilaian Masjid Award yang mencakup Idarah (manajemen), Imarah (kegiatan), dan Riayah (fasilitas), An Nur unggul karena integrasi ketiganya. Roji menyebut keterlibatan jemaah sebagai senjata rahasia.

“Banyak masjid megah, tapi partisipasi warganya rendah. Di sini, jemaah penggerak,” katanya.

Dalam penilaian Idarah, Imarah, dan Riayah, kekuatan utama An Nur terletak pada keterlibatan warga. “Fasilitas bagus saja tidak cukup. Partisipasi jemaah kuncinya,” ujar Roji.

Fasilitas masjid dirancang inklusif. Taman bermain anak, kursi lansia dan kursi roda, penginapan musafir, ruang menyusui, konsultasi keluarga, wifi gratis, hingga program Jumat Berkah. Bahkan, ada satgas bencana berbasis relawan yang dinilai penting di wilayah pegunungan.

Pelayanan dijalankan oleh kombinasi karyawan takmir dan relawan jemaah. Karyawan memastikan standar layanan terjaga. Sementara partisipasi jemaah dipupuk melalui kegiatan PHBI, pengajian rutin, dan program sosial. Struktur profesional bertemu semangat gotong royong.

Transformasi juga merambah dunia digital. Infak melalui QRIS, kajian disiarkan lewat radio komunitas dan YouTube. Petani di ladang tetap dapat mengikuti dakwah tanpa meninggalkan pekerjaan. “Kami ingin dakwah menjangkau semua,” kata Rokhim.

Ramadan menjadi masa paling sibuk. Buka puasa, tadarus, kajian harian berlangsung terus. Relawan bergantian melayani. Di situlah prinsip ‘dari jemaah untuk jemaah’ hidup sepenuhnya. (hn)

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#An Nur #pasuruan #Nongkojajar #bromo #masjid #Tutur #jatim