Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perjuangan Muhammad Dava Nuri Saputra Melawan Penyakit Tumor, Setahun Periksa Menunggu Jadwal Operasi

Arif Mashudi • Rabu, 18 Februari 2026 | 10:30 WIB

KESAKITAN: Muhammad Dava Nuri Saputra, didampingi ibunya, Nur Halimah.
KESAKITAN: Muhammad Dava Nuri Saputra, didampingi ibunya, Nur Halimah.

Setahun ini, Muhammad Dava Nuri Saputra, 20, berjuang melawan penyakit tumor yang dideritanya. Hampir tiap pekan, dia harus bolak balik kontrol periksa ke RSUD dr. Soetomo Surabaya. Dia harus sabar menunggu jadwal operasi.

ARIF MASHUDI, Mayangan, Radar Bromo

Dava-sapaan akrabnya tinggal di sebuah rumah sederhana di Gang Kiyai Mugi RT 9 RW IX, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. Sekitar pukul 10.30, Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke rumahnya.

Di ruang tamu berukuran berkisar 2 x 2 meter, Dava didampingi ibunya, Nur Halimah menceritakan tentang penyakit tumor yang dideritanya. Tumor itu tumbuh besar terlihat di belakang pinggang kanannya.

Setahun lalu, benjolan itu tidak sampai segenggam tangan. Kini, tumor itu sudah membesar hampir sebesar bola sepak.

Tidak hanya berat yang dirasakan, tapi sakit dipikulnya selama ini. Dava yang memiliki tubuh tinggi, harus merasakan penderitakan penyakit tumor yang dideritanya.

”Awal tahu ada benjolan itu Februari 2025 mas. Saya pikir benjolan biasa. Saya periksa ke Puskesmas, terus dirujuk periksa ke RSUD Saleh (dr. Mohamad Saleh),” kata siswa lulusan SMK Taman Siswa Kota Probolinggo tahun 2025.

Dava mengaku, dirinya ingin sembuh dan sehat kembali. Karena itu, saat dibawa periksa ke RSUD dr. Mohamad Saleh, tidak disampaikan vonis penyakit apa.

Hanya disebutkan, ada tulang rusuk bagian bawah yang hancur. Saat itu dia difoto rontgen, CT Scan. Kemudian, dia dirujuk periksa ke RSUD dr. Soetomo Surabaya.

”Saya disuruh periksa ke RSUD Soetomo Surabaya yang alatnya lebih lengkap. Karena ingin sembuh, ya periksa mas ke Surabaya,” ujarnya.           

Sejak awal periksa hingga bulan Desember, dia belum pernah diberi obat oleh RSUD dr. Soetomo Surabaya. Hanya dirontgen, diambil jaringannya dan pemeriksaan lainnya.

Sehingga, kakaknya yang tidak tega merasakan dirinya kesakitan, akhirnya membeli obat sendiri.

Sampai akhirnya, Desember saat kontrol periksa ke RSUD dr. Soetomo, dia  menyampaikan ke petugas untuk minta obat dan saat itu baru diberi obat paint killer atau pereda nyeri.

”Obatnya harus diminum rutin 3 kali sehari. Kalau tidak teratur, pasti sakit nyeri dari bagian belakang tembus ke bagian depan perut kanan ini,” ungkapnya.

Dengan kondisi tumor yang makin membesar, Dava mengaku, dia tidak bisa beraktivitas normal dan terlalu lama. Bahkan, duduk pun tidak betah lama-lama.

Sehingga, saat periksa atau kontrol ke RSUD dr Soetomo, dia acapkali tiduran sembari menunggu antrean.

Itupun harus diberi bantal sebagai penopang. Jika tidak diberi bantal, akan terasa sakit bagian belakang dan perut.

”Saya tiduran juga tidak bisa bebas. Jadi tidur harus miring ke kiri dan diganjal bantal. Telentang atau mengkurep juga gak bisa, karena ada benjolan tumor ini,” ungkapnya.

Dava mengharapkan, ada penanganan medis yang lebih baik dengan segera dioperasi. Supaya, penyakit yang ada di tubuhnya bisa segera diangkat. Karena dia berkeinginan lulus sekolah kemarin bisa langsung kerja”Saya ingin sekali bisa cepat kerja, supaya bisa bantu ibu,” ujarnya.

Sementara Nur Halimah, ibunda Dava mengaku, Dafa adalah anak yatim. Suaminya, Rio Herman meninggal saat Dava masih kelas VI SD.

Dia sebelumnya kerja di home industry tali raffia. Tetapi, karena Dava sakit dan harus merawatnya, akhirnya berhenti bekerja.

Kebetulan, putra pertama dan keduanya sudah bekerja. Jadi selama ini, kehidupannya dibantu oleh anak pertama dan keduanya.

”Termasuk untuk biaya pengobatan Dava, dibantu kakak-kakaknya. Kalau kontrol ke Surabaya, pinjam mobil ke saudara, saya bayar sopir dan BBM nya,” ujarnya.

Selama ini diakui Nur Halimah, harus wira-wiri ke Surabaya untuk kontrol periksa. Awalnya, hanya sebulan sekali. Kemudian berlanjut dua kali sebulan sampai bulan kemarin harus tiap minggu. Tetapi sampai sekarang belum ada kepastian jadwal operasi penyakit tumor anaknya.

”Ini belum ada jadwal kapan mau operasi. Kami berharap, segera ada penanganan serius dari rumah sakit, supaya anak saya bisa cepat sembuh,” harapnya. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#tumor