Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Kapolres Pasuruan Kota yang Baru, AKBP Titus Yudho Uly: Cucu Kapolda NTT Pertama, Pernah Jadi Bagian FPU PBB di Sudan

Fuad Alyzen • Jumat, 13 Februari 2026 | 10:50 WIB
AKRAB: Kru Radar Bromo Biro Pasuruan saat berbincang dengan Kapolres Pasuruan Kota AKBP Titus Yudho Uly (pakai baju dinas).
AKRAB: Kru Radar Bromo Biro Pasuruan saat berbincang dengan Kapolres Pasuruan Kota AKBP Titus Yudho Uly (pakai baju dinas).

Tongkat komando Polres Pasuruan Kota kini dipegang AKBP Titus Yudho Uly. Dia berasal dari keluarga Polri. Kakeknya merupakan Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) pertama. Di luar itu, dia memiliki sederet pengalaman bertugas dan pendidikan di dalam dan luar negeri.

FUAD ALYZEN, Pasuruan, Radar Bromo

PAGI itu suasana di Mapolres Pasuruan Kota terasa hangat dan hidup. Langkah para anggota berirama dengan tugas masing-masing. Sapa dan senyum berbalas di lorong-lorong kantor.

Ada pula masyarakat yang berkunjung ke Mapolres Pasuruan Kota untuk mengurus sejumlah keperluan. Di pos penjagaan, mereka dipersilakan masuk dengan ramah.

Plt Kasi Humas Polres Pasuruan Kota Aipda Junaidi mempersilakan wartawan Jawa Pos Radar Bromo masuk ke ruang lobi Mapolresta. Di tengah dinamika itu, hadir pria gagah berkacamata dan berseragam rapi.

“Silakan duduk, monggo,” ucapnya ringan mempersilakan dengan senyum yang tak dibuat-buat.

Dialah AKBP Titus Yudho Uly, Kapolres Pasuruan Kota yang baru. Tak ada jarak yang ia bangun.

Sebelum berbincang, ia mengaku baru saja berkeliling memperkenalkan diri kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, serta jajaran pemerintahan.

Baginya, jabatan bukan sekadar tongkat komando. Melainkan amanah yang harus diawali dengan silaturahmi.

“Baru selesai keliling di kota. Untuk yang kabupaten belum. Maklum, baru menjabat,” terang bapak tiga anak itu.

Titus lahir di Jakarta pada 8 Februari 1984. Darah kepolisian mengalir kuat dalam keluarganya. Ia adalah putra Irjen Pol (Purn) Jacki Uly dan cucu Kombes Pol (Purn) Drs. Titus Uly, Kapolda pertama di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tak heran, sejak remaja dia bertekad menjadi polisi dan meneruskan tradisi keluarga. Namun Titus enggan berlindung di balik nama besar keluarga.

Ia memilih menapaki jalannya sendiri. Menguatkan bekal keilmuan dan pengalaman sebagai fondasi pengabdian.

Masa remajanya ditempa di Kupang, NTT hingga lulus dari SMA Katolik Giovanni. Selepas itu, ia menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada 2005.

Pendidikan formalnya tak berhenti di sana. Ia melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta, lalu meraih gelar Magister Sains Kajian Ilmu Kepolisian dari Universitas Indonesia.

Pada 2021, ia menyelesaikan Pendidikan Penjenjangan Kedinasan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Deretan pendidikan kejuruan pun ia jalani: mulai Pendidikan Dasar Brimob di Watukosek, Pendidikan Terjun Bebas di Marinir Surabaya, hingga Pendidikan Anti-Teror di Amerika Serikat.

Ia juga mengikuti program pelatihan internasional, seperti Pendidikan Manajemen Logistik PBB di Sentul. Serta Pendidikan Manajemen Operasi PBB di Yordania.

Bekal keilmuan itu tak berhenti sebagai deretan sertifikat. Ia terjun langsung dalam berbagai medan tugas.

Pernah menjalankan tugas internasional sebagai bagian dari Formed Police Unit (FPU) PBB di Sudan pada 2008. Ia juga terlibat dalam sejumlah operasi penting di dalam negeri. Termasuk penanganan terorisme di Poso serta konflik bersenjata di Papua.

Selama berkarir, dia dipercaya mengembang sejumlah jabatan strategis. Mulai dari Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Komandan Gegana Sat Brimob Polda Gorontalo, juga Komandan Batalyon A Resimen III Pasukan Pelopor.  

Ia pun pernah menimba pendidikan (Dik) Reserse di Bundeskriminalamt (BKA), Jerman selama setahun. BKA adalah Kantor Polisi Kriminal Federal Jerman. Fungsinya kurang lebih setara dengan FBI di Amerika Serikat atau Bareskrim Polri di Indonesia.

Di setiap penugasan, risiko menjadi sahabatnya sehari-hari. Bahkan, sang istri, Desna Christanti, pernah ikut mendampingi di wilayah konflik.

“Sudah biasa suasana peperangan,” ujarnya setengah berseloroh. Bagi Titus, keluarga adalah penguat, bukan penghalang pengabdian.

Prestasinya pun tercatat. Pada 2023, ia meraih juara kedua dalam Kejuaraan Menembak Kapolri Cup. Lalu pada Selasa 14 Januari 2025, dia dilantik Kapolda Jawa Timur Irjen Imam Sugianto sebagai Kapolres Blitar Kota.

Selama menjabat itu, ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas, profesional, dan humanis. Kini, estafet tugas membawanya ke Pasuruan Kota.

Di balik rekam jejak panjang itu, Titus tetap tampil membumi. Ia menyadari, menjadi Kapolres bukan sekadar memimpin personel, tetapi juga memahami denyut masyarakat.

Sejak bertugas di Jawa Timur, ia belajar menyelami kultur Jawa. Mendekati masyarakat dengan tata krama, mendengar sebelum bertindak, dan mengedepankan dialog.

Baginya, ilmu yang tinggi harus beriringan dengan kerendahan hati. Pengalaman di medan internasional maupun daerah konflik, menjadi bekal ketegasan.

Namun pendekatan humanis tetap menjadi pilihan dalam membangun kepercayaan publik.

Kini di Kota Santri, ia memulai lembar baru pengabdian. Dengan latar pendidikan yang kokoh, pengalaman bertugas yang teruji, serta sikap yang tetap membumi, AKBP Titus Yudho Uly menapaki tugasnya.

Bukan sekadar sebagai cucu Kapolda pertama di NTT, melainkan sebagai perwira yang ingin menghadirkan rasa aman dengan hati. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#ntt #kapolda #kapolres pasuruan kota #AKBP Titus Yudho Uly #polisi