Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketika Narapidana di Lapas IIB Pasuruan Bikin Batik Tulis, Belajar Sebulan Sudah Mengerti Komposisi

Fandi Armanto • Rabu, 11 Februari 2026 | 12:45 WIB
JADI BEKAL: Warga binaan di Lapas Pasuruan melakukan pewarnaan pada batik tulis dipantau oleh Nabila Ans yang sedang magang.
JADI BEKAL: Warga binaan di Lapas Pasuruan melakukan pewarnaan pada batik tulis dipantau oleh Nabila Ans yang sedang magang.

Berbagai keterampilan diberikan oleh lapas IIB Pasuruan pada warga binaan (WB). Salah satunya membuat batik tulis. Pelatihan ini diberikan dengan menggandeng lulusan Universitas Negeri Malang (UM) yang melakukan magang di lapas setempat sebagai instruktur.

FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo

Seorang pria terlihat membuat pola di kain berbentuk persegi panjang. Ia menggambar naga menggunakan pensil. Lalu, pola itu ditimpa dengan water glass. Begitulah kegiatan yang dilakukan sejumlah WB Lapas IIB Pasuruan sejak sebulan terakhir.

Mereka membuat batik tulis. Namun alat canting yang digunakan sudah modern. Mereka memakai canting elektrik.

Para WB mendapatkan ilmu tersebut dari Nabila Ans Winda Putri, lulusan seni rupa UM yang mengikuti program magang di sana.

Ada sembilan WB yang mendapatkan keterampilan ini. Mereka diajarkan berbagai tahapan dalam membuat batik tulis.

Mulai dari membuat pola, proses nyanting, teknik water glass, proses pelorodan, penjemuran hingga proses pewarnaan.

Rahmat Hidayat, 26, warga Kota Surabaya salah satu WB yang mendapatkan keterampilan ini.

Ia menyebut keahlian ini baru dipelajarinya sejak Desember lalu. Setiap Senin sampai Jumat ia membuat batik tulis yang dibimbing oleh Nabila. Motif dan pola yang dibuat diperoleh dari internet.

Membuat batik tulis ini bisa dibilang tidak mudah. Perlu usaha dan kesabaran agar menghasilkan produk yang baik.

Jika tidak hati-hati, maka kualitas produk bisa jelek. Paling sulit saat melakukan proses menyanting.

Pria yang terkena pidana menjual narkoba ini menyebut pada bagian melukis pola dengan menggunakan lilin panas itu perlu dilakukan secara hati hati.

Jika terlalu panas, maka lilin bisa melebar. Harus pandai dalam mengambil posisi saat tangan sedang menyanting. Sebaiknya tidak terlalu menunduk.

"Kalau terlalu menunduk, maka lilin bisa keluar terlalu banyak. Kalau terlalu panas bisa dicabut dari colokannya. Tangan kiri mengarahkan dan tangan kanan bergerak," kata Rahmat.

Pria yang sudah menjalani masa pidana selama 3 tahun lebih ini menerangkan, saat pertama kali membuat batik tulis ia mencoba di selembar potongan kain agar memudahkan saat membuat pola.

Meski sebelumnya tidak memiliki dasar, namun ia bisa menguasai dengan cepat. Ia bisa membuat batik tulis setelah berlatih selama sehari. Kuncinya adalah telaten.

"Hasil karya batik tulis buatan kami ini beragam. Ada selendang, ada juga kemeja. Sementara belum dijual. Masih disimpan," jelas pria yang memiliki mimpi punya usaha garmen ini.

Instruktur batik tulis, Nabila Ans menerangkan membuat batik tulis sebenarnya tidak sulit. Semua bisa asalkan sabar dan telaten. Sebab proses pembuatannya cukup panjang. Mulai dari membuat pola, melakukan proses menyanting, lalu menggunakan water glass agar warna tidak luntur. 

Caranya, dengan melarutkan waterglass dalam air. Rasio campurannya adalah 1:5 atau 1:1 jika menginginkan hasil yang kuat. Selanjutnya kain dikeringkan semalaman.

Usai mengering, kain di rebus sebagai tahapan pelorodan sampai air mendidih hingga keluar gelembung. Lalu kain dibilas untuk menghilangkan sisa lilin yang menempel.

"Selanjutnya jemur di ruang tertutup sampai kering agar warna tidak pudar. Kain bisa dipotong untuk dijadikan baju. Pembuatan ini butuh empat hari," katanya.

Bella-sapaannya menyebut, yang perlu diperhatikan adalah proses pewarnaan. Tahapan ini perlu kehati hatian.

Tujuannya meminimalisir kesalahan saat pewarnaan. Meski jika saat pewarnaan ada kesalahan, tetap bisa diperbaiki dengan ditimpa menggunakan warna lain.

Warna terang bisa ditimpa dengan warna gelap. Jika memakai warna gelap, maka bisa menggunakan warna gelap lainnya yang lebih gelap. Jika ingin menciptkan warna gradasi bisa menggunakan warna ungu dan krem.

Dengan cara menggunakan warna yang lebih muda lalu ditimpa denga warna yang gelap.

"Di sini saya menggunakan elektrik untuk proses menyanting. Lebih mudah ini daripada cara tradisional. Tinggal nunggu lilin leleh dulu sembari ditiup agar tidak terlalu panas," sebut kelahiran November 2003 ini.

Lulusan S1 seni rupa UM 2025 ini menyebut, untuk pewarnanya ia menggunakan bubuk remasol. Ada lima warna. Terdiri dsri warna dasar yakni merah, kuning dan biru serta warna hitam dan biru tua.

Bubuk ini dicampur dengan air dan untuk menghasilkan warna yang diinginkan bisa disesuaikan untuk campurannya.

Misalnya, saat ingin membuat warna merah muda, maka warna merah dicampur dengan air yang banyak. Namun saat menciptakan warna merah darah, bubuk dimasukkan dengan komposisi lebih banyak daripada air. Bubuk ukuran 25 gram bisa digunakan untuk kain sepanjang lima meter.

Warga Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang ini menjelaskan, mayoritas WB mampu menerjemahkan tahapan pembuatan batik tulis dengan baik.

Mereka bisa membuat pola yang berbeda. Meski keterampilan ini baru ditekuni oleh WB sejak bulan lalu, namun kualitas batik yang mereka buat itu bagus.

"Para WB ini tekun. Meski ini ilmu baru, namun mereka mau belajar. Intinya keterampilan maupun kesenian itu bisa dilakukan siapapun asal mau berusaha," sebut Bella.

Kasubdit Kegiatan Kerja Lapas IIB Pasuruan, Bobby Fransisco menyebut Nabila Ans Winda Putri datang sebagai magang yang mengikuti program pemagangan yang diberikan oleh pusat.

Kebetulan ia mendapatkan kesempatan untuk magang di Lapas IIB Pasuruan. Keberadaannya bisa memberikan ilmu baru bagi WB.

Mereka diberi keterampilan membuat batik tulis yang sebelumnya tidak WB ketahui. Tentu harapannya, keterampilan ini bisa berguna bagi WB.

Minat dan bakat WB semakin terasah dan saat mereka kembali terjun ke masyarakat, WB bisa menjadi pribadi yang siap dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

"Harapannya produk buatan WB ini tetap bisa memasarkan ciri khas Lapas Pasuruan. Serta memberikan motivasi bagi WB jika mereka bisa menjadi lebih baik," sebut Bobby. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#membatik #lapas pasuruan