Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Begini Cara SDN Ngadirejo 1 Menyatukan Alumni Lintas Generasi yang Pertemukan Gen X hingga Gen Alpha dalam Satu Sekolah

Muhamad Busthomi • Selasa, 10 Februari 2026 | 09:34 WIB
BUKAN SEKEDAR REUNI: Suasana di SDN Ngadirejo 1 saat alumni dan siswa memperingati hari ulang tahun sekolah, pekan lalu.
BUKAN SEKEDAR REUNI: Suasana di SDN Ngadirejo 1 saat alumni dan siswa memperingati hari ulang tahun sekolah, pekan lalu.

Sekolah dasar yang lahir dari anyaman bambu dan gotong royong warga desa itu merayakan usia ke-78 tahun—untuk pertama kalinya dalam sejarahnya. Bukan sekadar seremoni, melainkan ikhtiar menyambung ingatan, merawat kebanggaan, dan meneguhkan masa depan.

MUHAMAD BUSTHOMI, Tutur, Radar Bromo 

Kabut tipis masih menggantung di lereng pegunungan Nongkojajar, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, ketika halaman SDN Ngadirejo 1 mulai dipadati warga, siswa, guru, dan alumni, Sabtu (31/1) lalu.

Sepasang mata tua milik Sentot tampak berkaca-kaca saat kakinya kembali menginjak lantai ubin kelas II SDN Ngadirejo 1 yang masih terasa sama seperti 30 tahun lalu. 

Pria lulusan tahun 1996 itu terdiam sejenak, menyapu pandangan ke setiap sudut ruang yang kini dipenuhi riuh rendah tawa. 

Di sana, memori masa kecilnya seolah diputar kembali—saat sekolah ini belum semegah sekarang, menjadi saksi bisu perjuangannya mengeja huruf dan berhitung angka.

Sekolah ini dirintis pada Januari 1948, di masa Indonesia baru saja menata napas kemerdekaan. Surat keputusan pendirian resmi terbit pada 1 Mei 1948. 

Kala itu, bangunan sekolah masih sederhana—berdinding bambu (gedek), beratap seadanya.

Namun semangat warga Ngadirejo tak pernah setengah-setengah. Mereka bergotong royong membangun ruang belajar agar anak-anak desa bisa mengenyam pendidikan tanpa harus turun gunung.

“Sekolah ini lahir dari tekad warga. Dari bambu, dari peluh, dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan hidup,” ujar Kepala SDN Ngadirejo 1, Risdiyan Tri Wahyudi.

Puluhan tahun berlalu. Gedek berganti tembok, papan tulis kapur beralih ke perangkat pembelajaran yang lebih adaptif. 

Namun ruh sekolah—kesederhanaan, kedisiplinan, dan kedekatan dengan kehidupan warga pegunungan—tetap terjaga. 

Tak heran, SDN Ngadirejo 1 telah melahirkan ribuan alumni. Banyak di antaranya menjejak sukses di sektor pertanian, selaras dengan karakter geografis Tutur yang dikenal sebagai lumbung hortikultura Pasuruan.

Nama Nuriman, lulusan 1994, menjadi salah satu bukti. Kini ia dikenal sebagai juragan kentang di kawasan Nongkojajar. 

Sentot juga menapaki jalan serupa. Bambang, lulusan 1993, juga meneguhkan diri di dunia pertanian. 

“Di sekolah ini kami bukan hanya diajari membaca dan berhitung. Kami dibentuk untuk tekun, jujur, dan tidak mudah menyerah,” kata Nuriman. “Nilai-nilai itu yang saya bawa sampai sekarang.”

Sentot mengamini. Baginya, SDN Ngadirejo 1 adalah fondasi karakter. “Guru-guru dulu keras, tapi adil. Kami diajari disiplin dan tanggung jawab. Itu modal besar ketika kami terjun ke usaha,” ujarnya.

Peringatan hari jadi ke-78 ini menjadi penanda penting. Baru tahun ini perayaan digelar secara terbuka. Bahkan menjadi ruang temu alumni lintas angkatan. Mulai dari generasi X hingga generasi Alpha. 

Inisiatif itu datang dari kepala sekolah yang ingin menyatukan kembali jejaring lama yang sempat terberai oleh waktu. 

“Saya ingin alumni guyub. Sekolah ini besar karena dukungan masyarakat dan alumninya,” kata Risdiyan.

Rangkaian acara dikemas meriah dan membumi. Dimulai dengan pembukaan dan senam aerobik bersama, suasana halaman sekolah mencair. 

Sambutan kepala sekolah dan Camat Tutur memberi bingkai reflektif—tentang perjalanan panjang dan tantangan ke depan.

Doa lintas keyakinan dipimpin oleh tokoh agama—pak dukun, pendeta, dan ustadz—menjadi simbol harmoni khas pedesaan pegunungan. Momen puncak hadir saat potong tumpeng sekaligus peresmian Mars SDN Ngadirejo 1. 

Lagu itu, kata Risdiyan, bukan sekadar harmoni pelecut semangat. Melainkan janji yang dinyanyikan bersama. Potong pita menandai dibukanya rangkaian kegiatan rakyat: jalan sehat, bazar.

Tak berhenti di sana, kemeriahan pecah saat lomba-lomba tradisional digelar. Dari ibu-ibu yang adu ketangkasan nyuwun tumpeng hingga bapak-bapak yang terpingkal-pingkal saat balap karung. Semuanya menyatu dalam tawa.

Di usia yang tak lagi muda, SDN Ngadirejo 1 menghadapi tantangan zaman: persaingan dengan sekolah swasta, perubahan pola belajar, dan tuntutan kualitas. Risdiyan menyebut kepercayaan masyarakat sebagai kunci.

“Angka 78 memang bukan usia muda. Tapi kami menjaga kepercayaan dengan konsistensi: mutu pembelajaran, kedekatan dengan orang tua, dan adaptasi tanpa kehilangan nilai,” ujarnya.

Perubahan radikal tetap dilakukan—dalam batas yang berakar. “Kami menyesuaikan metode belajar, memanfaatkan teknologi yang relevan, tapi karakter, kedisiplinan, dan etos gotong royong tetap jadi poros,” tambahnya.

Keterlibatan alumni, kata Risdiyan, sangat terasa. “Antusiasmenya luar biasa. Tidak hanya datang saat perayaan, tapi juga mendukung program sekolah. Paguyuban alumni ini adalah energi baru,” sambungnya.

Lalu, warisan apa yang ingin ditinggalkan di usia ke-78? Risdiyan menjawab singkat namun dalam. 

“Sekolah yang dicintai muridnya, dipercaya orang tuanya, dan dibanggakan alumninya,” harapnya. (fun)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#gen alpha #reuni #gen X #pendidikan