Di rumah sempit berukuran 4 x 6 meter itu, Sum menimang cucu yang baru ia kenal. Bayi berusia 9 bulan itu pulang dari Malaysia tanpa ibu, tanpa ayah. Dari rumah sakit di Johor hingga kampung kecil di Probolinggo, kisah SA adalah cerita tentang penelantaran, stigma masyarakat, dan seorang nenek yang akhirnya memilih kasih sayang di atas segalanya.
AGUS FAIZ MUSLEH, Kraksaan, Radar Bromo
Pagi itu, Sum, 65, duduk di ambang pintu rumahnya di Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Tatapannya kosong, menyimpan cerita panjang tentang luka, penyesalan, dan harapan.
Di pangkuannya, sesekali ia membenahi selimut tipis yang membungkus SA, cucunya. Bayi mungil berusia 9 bulan itu baru dipulangkan dari Malaysia.
Sebab, ditelantarkan oleh ibunya JU, 36, di sebuah rumah sakit di Johor, Malaysia.
Warga Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, itu pun menceritakan perjalanan anak pertamanya, JU. Sejak 2010, JU meninggalkan rumah demi menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di negeri seberang.
Dengan izin suaminya, JU berangkat ke Malaysia dengan niat bekerja. Seperti pekerja migran lain, JU membawa mimpi sederhana.
Bisa membantu ekonomi keluarga, membiayai anak-anaknya, dan pulang dengan wajah lebih tegak.
Beberapa bulan setelah keberangkatannya, kabar buruk sampai ke telinga keluarga.
JU dikabarkan menjalin hubungan dengan pria lain. Isu itu berujung pada keputusan pahit. Sang suami menjatuhkan talak padanya.
Sejak saat itu, status JU menggantung. Ia tidak memiliki surat cerai resmi, sehingga tak pernah bisa menikah lagi secara resmi. Sementara suaminya, menikah siri dengan perempuan lain.
Di Malaysia, JU bekerja di sebuah kedai kopi. Komunikasi dengan keluarga makin sulit. Kabar datang terputus-putus, bahkan kadang tak datang sama sekali.
Hingga suatu hari di bulan September 2025, keluarga mendengar sesuatu yang membuat dada mereka runtuh.
JU menelepon dan mengaku sedang berada di rumah sakit. Alasannya terdengar biasa: menjaga anak bosnya yang sedang sakit.
Pelan-pelan, fakta terkuak. Anak yang dikatakan sebagai “anak bos” itu ternyata adalah darah dagingnya. Anak yang lahir dari rahim JU, dari hubungan yang hingga kini tak pernah jelas siapa ayahnya.
“Kami kaget. Sangat kaget,” tutur Maidi, seorang pendamping TKSK Kraksaan, mengenang momen itu. “Awalnya pihak keluarga ingin bayi JU ini dipulangkan saja. Tapi mereka ragu karena tidak tahu bibit, bobot, bebet dari anak tersebut," tambahnya.
Keraguan itu manusiawi. Di desa kecil, stigma tumbuh lebih cepat dari empati. Anak yang lahir tanpa ayah, jelas seringkali menjadi sasaran bisik-bisik, tudingan, bahkan cap buruk.
Pendekatan tak bisa dilakukan dengan paksaan. TKSK bersama Dinas Sosial memilih berjalan pelan, persuasif, mengetuk hati, bukan memukul logika. Satu kalimat sederhana akhirnya meluluhkan Sum.
“Saat itu, kami jelaskan ke neneknya agar tidak mempermasalahkan bibit, bobot, dan bebet. Anak ini keluar dari rahim anak ibu," kata Maidi menirukan perkataanya kepada Sum.
Kalimat itu membuat Sum tertegun. Ia terdiam, air matanya jatuh tanpa suara. Hatinya luluh dan akhirnya bersedia menerima SA.
“Kami kemudian sepakat memulangkan JU dan anaknya. Namun proses pemulangan itu tak berjalan mulus,” jelas Maidi.
Saat semua persiapan hampir rampung, JU justru menghilang pada September 2025. Tak ada kabar, tak ada jejak.
Yang miris, JU meninggalkan bayinya yang saat itu masih berusia 3 bulan di rumah sakit sendirian. Bahkan, dalam kondisi sakit paru-paru. Praktis, bayi JU hanya ditemani dan dirawat para tenaga medis.
Pemkab Probolinggo pun tak tinggal diam. Disnaker, Dinas Sosial, dan TKSK terus mengupayakan pemulangan SA. Juga melibatkan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan Pemprov Jawa Timur melalui UPT Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2TK).
“Kami tahunya September. Tapi anak ini belum bisa dipulangkan karena masih menjalani perawatan. Bisa dipulangkan setelah dinyatakan sembuh," tambahnya.
Hingga akhirnya, pada 28 Januari 2026, kabar melegakan itu datang. SA dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Seluruh berkas rekam medis SA juga dibawa pulang.
“Berkas-berkasnya dibawa oleh puskesmas untuk mengetahui penanganan dan tindakan lebih lanjut untuk perawatan," kata Maidi.
Kepulangan SA sendiri terasa sunyi, meski tetap melegakan. Tak ada sambutan khusus, hanya pelukan neneknya untuk SA.
Di rumah kecil mereka, Sum tinggal bersama anak bungsu dan menantunya. Suaminya, Naeran 70, sudah renta. Kadang bekerja sebagai buruh nelayan dengan penghasilan tak menentu.
Rumah mereka jauh dari kata layak. JU dan Sum masuk Desil 3, sementara anak bungsunya berada di Desil 1, keluarga miskin dengan kerentanan tinggi.
Sum tak menampik, awalnya ia berat menerima SA. Bukan karena bibit, bebet, dan bobotnya. Namun, jauh lebih menyakitkan.
“Banyak yang ngomongin SA. Ada yang bilang anak ini sakit HIV. Bahkan setelah sampai rumah, masih ada yang menyindir, katanya anak paketan," imbuhnya menghela napas.
Bagi Sum, cibiran demi cibiran yang didengarnya jauh lebih menyesakkan daripada kemiskinan. Beruntung, Maidi dan sejumlah petugas Dinsos dan Disnaker banyak memberikan pemahaman padanya.
Sum juga jadi legawa dan menerima SA dengan lapang dada. “Sekarang saya paham. Dia sudah saya anggap cucu sendiri,” tuturnya.
Memang, dia belum tahu pasti bagaimana perkembangan kesehatan SA ke depan. Namun satu hal ia yakini: kasih sayang tak membutuhkan harta.
“Saya dan anak bungsu saya akan merawat dia sepenuh hati. Walaupun ekonomi kami bukan lagi pas-pasan. Tapi kurang,” ujarnya tertunduk.
Di tengah rumah sempit itu, Sum menyelipkan doa yang sederhana namun dalam. Ia berharap SA kelak menjadi anak pembawa berkah. Anak yang membuka pintu rezeki. Anak yang menghapus luka masa lalu, bukan mewarisinya.
"Semoga dia menjadi pembuka rezeki untuk keluarga," katanya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi