Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Belajar dalam Keterbatasan, Kelas Rangkap di Lereng Gunung Bromo Kabupaten Probolinggo Jadi Percontohan Nasional

Didik Purwanto • Senin, 2 Februari 2026 | 05:15 WIB
MENGENAL PROFESI: Siswa Multigrade Kelas1-2 belajar membaca, memperkuat numerasi dan literasi melalui tulisan dan gambar.
MENGENAL PROFESI: Siswa Multigrade Kelas1-2 belajar membaca, memperkuat numerasi dan literasi melalui tulisan dan gambar.

Tak banyak daerah berani menjadikan keterbatasan sebagai titik tolak inovasi. Kabupaten Probolinggo memilih jalan itu dengan menerapkan pembelajaran kelas rangkap (multigrade) dan pendidikan berbasis multilayanan di wilayah terpencil. Dari lereng pegunungan, ikhtiar itu menjadikan Kabupaten Probolinggo sebagai role model pendidikan multigrade di tingkat nasional.

DIDIK PURWANTO, Sukapura, Radar Bromo

Hujan semalam membuat jalanan berkelok dan naik turun menuju Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura masih basah.

Delapan mobil rombongan Dinas Pendikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo, Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Kemdikdasmen dan Kedutaan Besar Australian,  harus berjalan lebih pelan menyusuri jalanan yang licin.

Setelah satu jam lebih, kondisi jalan terus berganti. Menandakan tujuan makin dekat.

Awalnya jalan aspal, berganti menjadi rabat beton, paving, hingga jalan makadam. Di kiri kanan, jurang dan ladang kentang silih berganti. Udara dingin masih menusuk, memberikan kesegaran di paru-paru.

Sekitar pukul 08.30, rombongan tiba di ujung jalan makadam. Tempat SDN Sariwani II berdiri di Dusun Gedong, Desa Sariwani. Sekolah kecil di lereng Pegunungan Bromo yang menjadi saksi bagaimana pendidikan terus bertahan di tengah keterbatasan.

Sambutan hangat datang dari senyum polos para murid yang mengenakan udeng khas Tengger. Sapaan santun mereka menjadi penanda awal bahwa pendidikan karakter di sekolah ini bukan sekadar slogan, namun telah tumbuh dan mengakar sejak dini.

Memasuki ruang kelas, di atas pintu tergantung plang penjelasan kelas multigrade. Di dalam ruangan, meja-meja tertata rapi dengan kursi membentuk huruf U. Setiap meja menjadi kelompok belajar kecil.

Interaksi antara guru dan siswa tampak hidup. Dalam satu ruang, kelas I dan II belajar berdampingan. Di ruang lain, kelas III dan IV, sementara kelas V dan VI menempati ruang tersendiri.

AKTIF BERINTERAKSI: Siswa multigrade kelas 5-6 praktikum dampak buruk penggundulan hutan (deforestasi)  terhadap iklim dan keanekaragaman hayati.
AKTIF BERINTERAKSI: Siswa multigrade kelas 5-6 praktikum dampak buruk penggundulan hutan (deforestasi) terhadap iklim dan keanekaragaman hayati.

Sejak 2018, SDN Sariwani II menerapkan pembelajaran kelas rangkap atau multigrade bersama tujuh sekolah lain Bukan semata karena keterbatasan jumlah murid, guru dan lokasi terpencil. Namun, merupakan pilihan sadar untuk memastikan hak belajar anak-anak di wilayah terpencil tetap terpenuhi.

Di SDN Sariwani II sendiri, total siswanya hanya 33 anak. Terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Namun, dari sekolah kecil inilah lahir cara belajar yang memberi harapan besar.

Plt Kepala SDN Sariwani II, Sumardi, M.Pd., yang mengabdi sejak 2003 sebagai honorer menjelaskan, saat ini sekolah hanya punya empat guru. Satu guru ASN dan tiga PPPK. Setiap pendidik memikul peran ganda.

Kepala sekolah merangkap guru kelas V dan VI. Guru kelas I–II juga mengampu pendidikan agama, sementara guru kelas III–IV merangkap operator sekolah.

“Awalnya tidak mudah. Tapi kami percaya, sekolah kecil tidak boleh menyerah pada keadaan. Kolaborasi menjadi kunci,” ujarnya.

Model kelas rangkap membuka ruang pembelajaran yang berbeda. Siswa yang lebih tua menjadi tutor sebaya bagi adik kelasnya. Proses belajar tak lagi satu arah. Anak-anak terbiasa berdiskusi, saling membantu, dan belajar sesuai kemampuan. Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi tumbuh secara alami.

Perlahan, hasilnya terlihat. Motivasi belajar siswa meningkat, suasana kelas lebih hidup dan menyenangkan. Orang tua mulai menyadari pentingnya pendidikan, dan lulusan sekolah ini terus melanjutkan ke jenjang SMP. Dampak positif itu tercermin dalam Rapor Pendidikan.

“Capaian literasi melonjak dari 83,33 pada 2024 menjadi 100 di tahun 2025. Numerasi juga meningkat dari 66,67 menjadi 67,17. Ini  bukan sekadar angkan. Namun, jadi bukti bahwa pendekatan yang tepat mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan,” kata Sumardi, yang diangkat sebagai PPPK pada 2022.

Saat pandemi Covid-19, pembelajaran dilakukan secara daring dan luring. Namun, penyampaian materi secara luring diprioritaskan agar pembelajaran tetap efektif. Apalagi, internet sulit diakses di tempatnya.

Karena itu, Sumardi menerapkan pembelajaran berbasis komunitas di sekolahnya. Guru turun langsung ke lapangan, mengunjungi rumah salah satu siswa. Anak-anak yang rumahnya berdekatan belajar bersama meski berbeda tingkat kelas. Dalam situasi ini, metode kelas rangkap terbukti sangat membantu.

“Dalam sehari, saya bisa dua kali kunjungan. Setiap pembelajaran berlangsung sekitar dua hingga dua setengah jam dengan beragam jenjang siswa. Metode kelas rangkap benar-benar membantu proses belajar saat pandemi,” tuturnya.

Sisi positif yang lain, pola ini menumbuhkan nilai kerja sama dan kepedulian. Terjadi asah, asih, dan asuh antara kakak dan adik kelas yang memperkuat interaksi sosial antarsiswa.

Mengusung visi Tampil Beda, SDN Sariwani II menerjemahkannya melalui berbagai program. Mulai penguatan literasi dan numerasi, pelatihan guru dan KKG, parenting bagi orang tua, hingga pengembangan sekolah sebagai pilot pembelajaran kelas rangkap.

Bagi SDN Sariwani II, kelas rangkap bukan sekadar solusi teknis, melainkan cara menjaga denyut pendidikan di wilayah terpencil. Di sekolah kecil ini, belajar tidak diukur dari jumlah siswa. Melainkan dari semangat yang tumbuh di dalam kelas.

“Dari ruang kelas sederhana, pendidikan akan selalu menemukan jalannya, selama ada kemauan untuk beradaptasi dan peduli pada masa depan anak-anak,” ucap Sumardi penuh haru.

Praktik di Sariwani sejalan dengan kebijakan daerah. Kabupaten Probolinggo mengenal pembelajaran kelas rangkap melalui Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia periode 2016–2019.

Program ini kemudian dijalankan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, khususnya di wilayah terpencil. Pemkab Probolinggo bahkan menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 18/2019 tentang Pengelolaan Pembelajaran Kelas Rangkap (Multigrade Teaching) Jenjang Sekolah Dasar.

Keberhasilan tersebut tampak di SDN Sariwani II yang menjadi contoh praktik baik pembelajaran multigrade.

Sekolah ini mendapat perhatian berbagai pemangku kebijakan nasional dan mitra internasional saat menerima kunjungan Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Gita Kamath, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen RI Suharti, serta Deputi Bidang Pembangunan Manusia Bappenas Pungkas Bahjuri Ali, Jumat (30/1).

Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono menyebut, pembelajaran multigrade sebagai solusi strategis bagi sekolah di wilayah pegunungan.

“Model ini lahir dari kebutuhan nyata. Dengan jumlah guru terbatas dan medan sulit, multigrade menjadi pilihan rasional agar layanan pendidikan tetap berjalan,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 186 lembaga pendidikan di Kabupaten Probolinggo menerapkan pembelajaran multigrade. Di Kecamatan Sukapura terdapat sembilan sekolah, dengan SDN Sariwani II sebagai salah satu pilot project yang dinilai berhasil.

Wakil Duta Besar Australia Gita Kamath menyatakan dukungan terhadap pengembangan pembelajaran multigrade yang adaptif dan inklusif. “Apa yang kami lihat di Sariwani menunjukkan komitmen kuat menghadirkan pendidikan berkualitas, adaptif dan inklusif,” katanya.

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen RI Suharti menegaskan, keterbatasan jumlah murid dan guru bukan alasan menurunkan mutu pembelajaran. “Multigrade terbukti efektif dan layak diperluas ke sekolah kecil lainnya di Indonesia,” ujarnya.

Sementara Deputi Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali menilai, pembelajaran multigrade relevan untuk daerah terpencil. Menurutnya, penggabungan kelas justru membuat pembelajaran lebih efisien selama kualitas tetap terjaga.

Dari sini, SDN Sariwani II membuktikan bahwa di tengah keterbatasan, pendidikan tetap berjalan. Harapan tetap dirawat dalam satu ruang kelas oleh satu guru, dengan semangat yang tak pernah padam. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#kelas rangkap #role model #bromo #percontohan nasional #pendidikan #sekolah #multigrade class #probolinggo