Tebing Sungai Kertosono di Jalan Gus Dur di Kelurahan Sidomukti ambrol pada Kamis 22/1) dini hari membuat sejumlah bangunan ambrol. Salah satunya rumah milik Nurmaulina, 21. Setiap kali hujan turun, Nurmaulina harus dibuat deg-degan.
AGUS FAIZ MUSLEH, Kraksaan, Radar Bromo
SAAT hujan turun di Kraksaan, dada Nurmaulina sesak. Di rumah yang berdiri di bibir Sungai Kertosono, Kelurahan Kandangjati, Kecamatan Kraksaan, mendung bukan lagi sekadar tanda hujan. Mendung adalah isyarat bahaya.
“Kalau sudah gelap dan angin mulai beda, rasanya deg-degan,” kata Nurmaulina dengan suara lirih.
Ia berdiri di dapur rumahnya. Dinding bagian belakang rumah tampak merekah. Ada dinding yang retak memanjang.
Lantai kamar mandi sedikit menurun, hampir tak kasat mata, tapi cukup membuat siapapun yang berdiri di atasnya merasa tak lagi sepenuhnya aman.
Rumah itu tak runtuh, tepatnya belum. Tapi ancamannya nyata dan rasanya terus mendekat.
Sepekan yang lalu yakni Kamis (22/1) dini hari, tebing Sungai Kertosono longsor. Longsor itu bukan yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir.
Di rumah itu, Nurmaulina tidak sendirian. Ada empat jiwa yang bertahan di bawah atap yang sama. Adiknya, Muhammad Iqbal Maulana.
Ada pul akakaknya, Nur Nadia Maharani, 26, yang bekerja di sebuah kafe. Dan seorang wanita lansia yakni neneknya, yang tak lagi bisa berlari bila bahaya datang tiba-tiba.
Rumah itu sudah ditempati lebih dari 20 tahun. Orang tuanya membangun hidup di sana, pelan-pelan, bata demi bata. Ibunya sudah wafat, sementara ayahnya sedang bekerja di luar Jawa.
Sejak longsor terjadi, Nurmaulina sudah menghubungi ayahnya. Dari jauh, sang ayah hanya bisa meminta kenalan untuk datang mengecek. Jarak membuat banyak hal tak bisa dilakukan segera. “Kami di sini cuma bisa nunggu,” ujarnya.
Longsor itu menghantam tebing sungai di belakang deretan rumah dan ruko. Tiga ruko dan dua rumah terdampak. Salah satunya adalah rumah Nurmaulina.
Di ruko-ruko itu, hampir separuh bangunan amblas. Tanah di bawahnya seolah hilang ditelan sungai. Sementara rumah saudara Nurmaulina yang berada tepat di selatan rumahnya, ambrol di bagian dapur. Tak bersisa.
Bagaimana dengan rumah Nurmaulina? Bangunannya memang masih berdiri. Tapi ketakutan selalu datang setiap kali hujan turun. Sejak longsor itu, hujan bukan lagi penyejuk. Hujan adalah pengingat bahwa tanah bisa bergerak lagi. Apalagi banjir bisa datang tanpa permisi. “Kalau hujan lagi, takut. Takut ada banjir kiriman,” katanya.
Ketakutan itu bukan muncul tiba-tiba. Tahun lalu, tanda-tanda sudah ada. Plengsengan tebing mulai rusak. Laporan sudah disampaikan ke BPBD. Petugas datang, survei, melihat kondisi. Setelah itu, waktu berjalan seperti biasa. Sampai akhirnya longsor benar-benar terjadi.
“Dulu cuma dilihat saja oleh petugas. Habis itu ya sudah. Sekarang malah begini,” ucap Nurmaulina, nada suaranya menyimpan kecewa yang lama dipendam.
Ia tidak paham soal teknis. Tidak mengerti istilah mitigasi atau struktur tanah. Yang ia tahu, rumah itu semakin rapuh. Yang ia rasakan, setiap gerimis membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Wakil Bupati Probolinggo, Lora Fahmi, sudah datang ke lokasi pasca kejadian. Menyarankan agar warga yang terkena dampak supaya mengungsi. Cuaca ekstrem diprediksi hingga Maret. Saran itu masuk akal, tapi tidak sederhana.
Mengungsi bukan hanya soal pindah tempat. Ada barang, ada kenangan, ada rasa memiliki. Ada nenek yang sulit diajak berpindah. Ada adik yang masih sekolah. Ada kakak yang harus tetap bekerja.
“Mungkin kalau ngungsi, ke rumah saudara seberang jalan,” kata Nurmaulina. Itu bakal dilakukan jika keadaan memaksa.
Untuk sementara, warga sekitar ikut membantu. Gotong royong sederhana, tapi penuh arti. Jika kamar mandi tak lagi aman, mereka siap mandi di rumah tetangga. Tak ada gengsi di situ. Yang ada hanya keinginan untuk selamat. “Kalau kondisi lebih parah, ya terpaksa pindah,” ujarnya.
Saat ini, Nurmaulina sedang liburan kuliah. Ia mahasiswa semester 4 UIN Malang, jurusan Pendidikan IPS. Tapi liburan ini jauh dari kata tenang.
Ia tahu, saat kembali ke Malang nanti, pikirannya akan tertinggal di rumah. Di tebing sungai. Di retakan dapur. Di lantai kamar mandi yang pelan-pelan turun.
“Kalau nanti kuliah lagi, pasti kepikiran rumah bagaimana,” katanya.
Tak ada laki-laki dewasa di rumah. Sang ayah jauh. Ia dan kakaknya memikul kekhawatiran itu sendiri.
Biasanya, jika ada genteng bocor atau kerusakan kecil, mereka memanggil orang untuk memperbaiki. Tapi longsor bukan soal genteng. Ini tentang tanah yang bergerak, tentang alam yang tak bisa ditawar.
Hingga kini, penanganan belum banyak berubah. Baru sebatas pengecekan. Belum ada langkah lanjutan. Sementara cuaca tak bisa ditebak. “Cuaca kan nggak ada yang tahu,” kata Nurmaulina.
Ia hanya berharap satu hal: agar semuanya cepat ditangani. Agar ada kepastian. Agar malam-malam tak lagi diisi dengan suara sungai yang membuat dada berdebar.
Di tepi Sungai Kertosono, Nurmaulina belajar tentang rapuhnya tempat bernama rumah. Tentang bertahan di antara ketidakpastian. Tentang berharap, meski tak tahu harus berharap kepada siapa lebih dulu.
Angin segar dari pemerintah belum terdengar jelas oleh telinga Maulina. Namun, kepala dinas PUPR Kabupaten Probolinggo menyebutkan jika pemerintah telah selesai melakukan asesmen terhadap dampak bencana alam di aliran sungai Kertosono tersebut.
"Kami sudah asesmen dan sudah dilaporkan ke pihak Provinsi. Penanganannya kami menunggu kabar dari provinsi," katanya. (fun)
Editor : Abdul Wahid