Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ikhtiar Kacabdin Wilayah Probolinggo Slamet Goestiantoko Menjaga Akhlak Siswa: Pendidikan Tak Cukup dengan Pintar

Moch Vikry Romadhoni • Senin, 26 Januari 2026 | 19:51 WIB
SILATURAHMI: Kacabdin Probolinggo Slamet Goestiantoko (Kiri) saat bersilaturami bersama Jawa Pos Radar Bromo
SILATURAHMI: Kacabdin Probolinggo Slamet Goestiantoko (Kiri) saat bersilaturami bersama Jawa Pos Radar Bromo

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Probolinggo, Slamet Goestiantoko memilih cara yang barangkali terdengar sederhana, namun konsisten dijalankan. Yaitu membangun benteng akhlak sejak anak-anak melangkah ke ruang kelas.

Ia memahami betul, gawai kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pelajar.

Informasi bisa diakses hanya dengan satu sentuhan jari.
Ilmu pengetahuan tak lagi sepenuhnya bergantung pada kehadiran guru di depan kelas.

Namun di balik kemudahan itu, Slamet melihat tantangan besar yang tak bisa diabaikan.

“Anak-anak hari ini bisa pintar tanpa guru. Tapi kalau urusan akhlak, itu tidak bisa dilepas begitu saja. Harus ada pembinaan langsung,” ujarnya Senin (26/1) saat silaturahmi bersama Jawa Pos Radar Bromo di Kantor Cabdin Probolinggo, Kelurahan/ Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.

Pengalaman panjangnya di dunia pendidikan membentuk pandangan itu. Mantan guru fisika asal Kabupaten Pamekasan itu menyaksikan langsung bagaimana pengaruh lingkungan dan teknologi perlahan menggerus nilai-nilai dasar jika tidak diimbangi dengan pembinaan karakter yang kuat.

Kini, dengan tanggung jawab yang lebih luas sebagai kepala cabdin, prinsip itu tetap ia pegang teguh.

Pria yang juga seorang ayah dari tiga anak ini menilai digitalisasi dari dua sisi. Di satu sisi, membuka ruang belajar tanpa batas.

Di sisi lain, menghadirkan pengaruh negatif yang kerap luput dari pengawasan.

Karena itu, sekolah harus hadir sebagai ruang aman, tempat anak-anak belajar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu ikhtiar yang terus didorong Slamet adalah pembiasaan kegiatan keagamaan di sekolah.

Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, siswa diimbau untuk memiliki wudhu terlebih dahulu. Setelah masuk kelas, luangkan waktu lima hingga sepuluh menit digunakan untuk mengaji surat-surat pendek.

Rutinitas ini sebagai pembiasaan yang diharapkan tertanam dalam diri peserta didik.

“Kita mulai dari hal-hal kecil, tapi dilakukan terus-menerus,” katanya.

Selain itu, monitoring salat juga menjadi perhatian tersendiri. Slamet tak menutup mata terhadap realitas anak muda masa kini yang kerap larut dengan ponsel, bahkan di waktu-waktu panggilan ibadah.

Fenomena tersebut, menurutnya, tidak cukup disikapi dengan larangan, melainkan dengan pendampingan dan pengingat yang berkelanjutan.

Dengan cara itulah, ia meyakini perilaku tercela, termasuk kenakalan remaja, bisa ditekan. Bukan karena takut dihukum, melainkan karena tumbuhnya kesadaran dari dalam diri siswa.

Baginya, ini merupakan bagian dari ikhtiar dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi emas yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

Jejak kepemimpinan Slamet di sekolah turut memperkuat keyakinannya. Selama empat tahun menjabat sebagai kepala sekolah, ia pernah mengantarkan lembaganya menjadi sekolah Adiwiyata untuk pertama kalinya di tanah kelahirannya.

Sebuah capaian yang menandai komitmennya dalam membangun lingkungan belajar yang sehat, berkarakter, dan berkelanjutan.

Dalam menjalani perannya, Slamet memegang prinsip hidup yang sederhana: menebar kebaikan di mana pun berada dan mempermudah urusan orang lain. Ia mengaku terinspirasi oleh pemikiran almarhum Gus Dur.

Dalam posisi apa pun, selalu ada pihak yang tak sejalan. Setiap orang pasti ada saja yang benci bagi Slamet, yang terpenting adalah terus berjalan lurus dan menjalani hidup seperti biasanya.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, Slamet Goestiantoko memilih konsistensi sebagai pijakan.

Ia percaya, pendidikan sejati bukan hanya soal mencetak anak-anak yang pintar, tetapi juga tentang menyiapkan manusia yang berakhlak serta siap menghadapi dunia digital tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Ia juga menjunjung tinggi spiritualnya, selain tanpa meninggalkan salat lima waktu ketika berpijak di Kota Probolinggo, Slamet mencari tempat tinggal dengan lingkungan yang dekat dengan masjid.

Baginya masjid merupakan tempat ia rehat menenangkan diri setelah seharian sibuk dengan masalah duniawi.

“Saya suka bersosial untuk menambah kerabat, apalagi ketika bulan puasa nanti momen tadarus yang menjadi tempat yang paling saya sukai,” katanya (don/mie)

Baca Juga: PPDB SMA, Cabdin Pendidikan Masih Tunggu Revisi Juknis

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Slamet Goestiantoko #AKHLAK #siswa #Kacabdin #pendidikan #sekolah #probolinggo #digital