Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Inilah Upaya dan Cerita Masyarakat dan Personel BPBD Seusai Banjir Besar Menerjang Probolinggo

Inneke Agustin • Rabu, 21 Januari 2026 | 09:10 WIB
TEBAL: Material lumpur yang tersisa di jalan masuk pemukiman di Dusun Bibis, Desa Lemah Kembar, Sumberasih setelah banjir.
TEBAL: Material lumpur yang tersisa di jalan masuk pemukiman di Dusun Bibis, Desa Lemah Kembar, Sumberasih setelah banjir.

Banjir yang menerjang Probolinggo tak hanya meninggalkan jejak lumpur di lantai-lantai rumah warga. Bencana ini menyisakan duka yang mengendap di dada. Di balik air yang surut, tersimpan cerita kehilangan-perabot yang rusak, rumah yang jebol, hingga ternak yang hilang dan mati tak terselamatkan.

INNEKE AGUSTIN, Sumberasih, Radar Bromo

Hujan turun tanpa jeda pada Sabtu (17/1) sore. Langit Kabupaten Probolinggo seolah menumpahkan seluruh isinya. Delapan kecamatan terendam banjir, dan salah satu yang paling terdampak adalah Dusun Bibis, Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih. Air datang cepat, meninggi hingga sekitar satu meter—nyaris sedada orang dewasa.

Banjir terjadi akibat curah hujan tinggi yang dibarengi kondisi sungai dari daerah hulu yang membawa material lumpur dan sampah.

Aliran air tak lagi tertahan, meluap, lalu merangsek ke pemukiman warga tanpa aba-aba. Kepanikan merebak.

Warga berhamburan menyelamatkan apa yang masih bisa digenggam: perabotan, barang elektronik, dan hewan ternak—harta yang selama ini menjadi sandaran hidup.

Namun derasnya arus tak memberi banyak pilihan. Dalam hitungan menit, air telah menguasai segalanya.

Sipuk, 69, warga Desa Lemah Kembar, hanya bisa pasrah. Di rumahnya, ia memelihara satu ekor sapi dan sembilan ekor kambing. Saat banjir datang, ia hanya sempat menyelamatkan sapi kesayangannya.

Setelah air mulai surut, ia memberanikan diri mengecek kandang. Dari sembilan ekor kambing, hanya lima yang masih bernyawa. Empat lainnya ditemukan mati dengan perut mengembung—terlalu banyak menelan air banjir. “Airnya deras sekali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Tak sedikit warga yang juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan makanan dan air bersih pasca banjir.

Aktivitas harian terhenti. Rumah-rumah masih berantakan. Untuk makan, sebagian warga masih mengandalkan kiriman dari keluarga di luar daerah atau kiriman dari BPBD.

Kondisi rumah yang amburadul terlihat di rumah Suni, 53, salah satu warga terdampak. Saat ditemui Suni belum bisa beraktivitas normal.

BANTU: Personel BPBD memlihat batu bata yang terlepas dari bangunan rumah warga. Bata itu dipilah karena ada yang bisa dipakai lagi.
BANTU: Personel BPBD memlihat batu bata yang terlepas dari bangunan rumah warga. Bata itu dipilah karena ada yang bisa dipakai lagi.

Rumahnya masih dipenuhi sisa lumpur, sementara perabotan rusak tak bisa digunakan. Dia tak bisa memasak karena kompor di dapur rusak. Tidur pun harus di lantai lantaran kasur masih basah.

Di sudut lain desa, rumah Ahmadi, 50, berdiri dengan luka menganga. Dinding ruang keluarganya jebol diterjang banjir. Lubang sepanjang delapan meter dengan tinggi tiga meter membiarkan angin malam masuk bebas. Rumah yang dulu hangat, kini terasa kosong dan rapuh.

Setelah banjir menerjang, warga masih disibukkan dengan kerja bakti. Begitu juga dengan personel dan relawan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Probolinggo. Mereka ikut turun tangan membantu warga.

Salah satunya, Eko Alim Pradana. Dia mengatakan pihaknya membantu membersihkan lumpur sekaligus menyelamatkan material bangunan yang masih bisa digunakan. “Kami juga mengamankan bata-bata yang masih layak, karena rumahnya rencananya akan dibangun kembali,” ujarnya.

Selasa (20/1) pagi, Eko bersama lima personel TRC lainnya kembali menyusuri rumah-rumah warga di Desa Lemah Kembar. Lumpur setebal tiga hingga lima sentimeter masih menempel di ruang tamu, dapur, kamar, hingga ruang keluarga. Karena cuaca mendung dan gerimis, lumpur belum mengeras.

Selama membantu warga, dia dan relawan lainnya membantu proses pembersihan dengan membawa sekop dan pacul, lalu disemprot air hingga bersih. “Di jalan sudah bersih karena sebelumnya dibantu damkar. Tapi di dalam rumah masih berantakan. Banyak pakaian dan perabot masak yang terpaksa dibuang,” terang Eko.

Pembersihan material banjir juga dilakukan di Pondok Pesantren Nurut Taufik, Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas. Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, menyampaikan bahwa tim BPBD Kabupaten Probolinggo bersama BPBD Jatim menyedot sisa air dan pembersihan lumpur setinggi sekitar 20 sentimeter pada Senin (19/1).

“Air yang tersisa kami sedot menggunakan pompa, lalu lumpur dibersihkan. Prosesnya sekitar dua jam,” jelasnya.

Hingga Selasa (20/1) berdasarkan data sementara BPBD, banjir Sabtu (17/1) lalu mengakibatkan tiga jembatan rusak, lima jembatan putus, delapan plengsengan ambrol. Ada ratusan rumah terdampak di delapan kecamatan.

Kini, setelah air benar-benar pergi, warga Sumberasih masih bergelut dengan lumpur dan kehilangan. Sebab, bagi warga, banjir bukan sekadar peristiwa alam—melainkan luka yang tak mudah hilang, meski air mulai surut.

Jajaran Pemkab Probolinggo bersama seluruh pemangku kepentingan terus berkoordinasi untuk mencari solusi jangka panjang. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#banjir #putus #Sumberasih #probolinggo #jembatan rusak