Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Siswi SMAN 1 Probolinggo Raih Perunggu Lari 1.500 Meter di Ajang Nasional  

Inneke Agustin • Kamis, 15 Januari 2026 | 18:51 WIB

 

LARI: Feilya Rahmandani Ismail, 17, siswi SMA Negeri 1 Probolinggo meraih Juara 3 dalam ajang Kejuaraan Atletik se-Indonesia, East Java Youth and Kid`s Athletic sesion 3.
LARI: Feilya Rahmandani Ismail, 17, siswi SMA Negeri 1 Probolinggo meraih Juara 3 dalam ajang Kejuaraan Atletik se-Indonesia, East Java Youth and Kid`s Athletic sesion 3.

Di bawah langit Surabaya yang cerah, Feilya Rahmandani Ismail, 17, menorehkan prestasi atletik tingkat nasional. Meraih Juara 3 lari 1.500 meter di ajang East Java Youth and Kid`s Athletic sesion 3. Sebuah kisah tentang kegigihan, konsistensi, dan mimpi yang dikejar tanpa ragu.

 INNEKE AGUSTIN, Kanigaran, Radar Bromo

Bagi Filya Rahmandani Ismail, dunia atletik sejatinya bukan cinta pertama. Sejak kelas 5 sekolah dasar, pelajar SMAN 1 Kota Probolinggo itu telah jatuh hati pada olahraga. Kala itu, voli menjadi pintu awal yang membawanya mengenal arti disiplin dan kemenangan.

Deretan prestasi pun ia ukir sejak usia belia. Juara 1 voli putri antarklub U-17 Walikota Cup 2022, Juara 1 voli putri tingkat SMP sederajat se-Kabupaten/Kota Probolinggo di tahun yang sama, hingga sederet gelar juara lainnya yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Lia (panggilannya), aktif di dunia olahraga semula karena motivasi orang tuanya. Sang ayah yang merupakan anggota TNI, dahulu merupakan seorang atlet militer.

“Ayah pernah berpesan carilah kegiatan selain sekolah, tapi harus yang positif dan menyehatkan. Saya pikir, apalagi kalau bukan menjadi atlet,” ungkapnya.

Namun hidup selalu punya cara memperkenalkan tantangan baru. Memasuki kelas 12, Lia mulai melirik lintasan atletik. Sebuah dunia yang menuntut ketahanan fisik sekaligus mental.

Keputusan itu tak sia-sia. Pada Kejuaraan Kota Atletik Probolinggo 2025, ia langsung menyabet Juara 1 nomor 1.500 meter putri dan Juara 1 nomor 400 meter putri kelompok umur 16–18 tahun.

“Saya banting setir dari yang awalnya voli, kini di atletik karena ingin fokus ke cabor individu. Ke depannya saya akan serius di cabor atletik ini,” tegasnya.

Hingga akhirnya, Lia mengikuti Kejuaraan Atletik Se-Indonesia, East Java Youth and Kid’s Athletic sesion 3 pada 20 Desember 2025. Lomba ini digelar di Lapangan Atletik Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Lia turun di nomor lari 1.500 meter.

Ajang ini bukan kali pertama ia ikuti. Lia pernah ikut di sesi 2, tapi harus puas di posisi keempat. Tanpa podium, tanpa medali. Namun justru dari kegagalan itulah tekadnya ditempa.

“Dua bulan sebelum lomba saya latihan rutin. Programnya dari PASI Kota Probolinggo,” ujarnya.

Setiap sore pukul 15.00 hingga 17.30, Lia berlari melawan panas dan lelah. Hari Minggu tak pernah benar-benar libur. Pagi buta ia sudah berada di Stadion Bayuangga atau berlatih di sekitar rumahnya di Kelurahan Triwung Lor, Kademangan.

Di lintasan Unesa, tantangan terbesar bukanlah atlet dari Bojonegoro, Batu, atau Tuban. Musuh terberat justru datang dari dalam diri.

“Yang paling berat itu melawan rasa malas dan capek saat latihan,” ucap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Momen paling berkesan terjadi di 300 meter terakhir lomba 1.500 meter. Saat itu Lia berada di posisi keempat, tertinggal sekitar 50 meter.

Tenaga nyaris habis. Langkah terasa berat. Namun dari pinggir lapangan, suara-suara itu datang. Ayahnya, pelatihnya, dan rekan-rekan PASI Kota Probolinggo berteriak memberi semangat. “Di situ saya seperti dapat tenaga lagi,” kenangnya.

Enam puluh meter terakhir menjadi penentu. Lia menyalip satu per satu lawan di saat-saat krusial. Garis finis pun terlewati dengan catatan waktu 5:40.88, mengantarkannya meraih medali perunggu.

Di atasnya berdiri atlet MAN 5 Bojonegoro. Namun, Lia tetap bangga. Bukan sekadar karena meraih medali, tetapi karena berhasil menaklukkan dirinya sendiri.

Di balik prestasi itu, Lia tetaplah pelajar dengan kewajiban akademik. Ia belajar menata waktu: sepulang sekolah langsung berlatih, malam hari diisi dengan les hingga pukul 20.00. Lelah, malas, dan keinginan menyerah kerap datang silih berganti, namun ia memilih bertahan.

“Juara itu bukan kebetulan. Yang latihan setiap hari saja masih harus berjuang keras, apalagi kalau jarang latihan. Konsistensi adalah kunci,” tegasnya.

Kepala SMA Negeri 1 Kota Probolinggo Mohamad Zaini mengakui, prestasi Lia merupakan capaian yang sangat membanggakan. Ini menjadi bukti bahwa peserta didik di sekolahnya mampu berkompetisi bukan dalam hal akademik saja, melainkan olahraga juga. Bahkan hingga tingkat nasional.

“Semangat juang, disiplin, dan kerja kerasnya patut diacungi jempol. Semoga prestasi ini menjadi motivasi untuk peserta didik lainnya. Terus berlatih, berprestasi, dan mengharumkan nama sekolah,” pungkasnya.

Langkah Lia mungkin masih kecil di lintasan panjang bernama masa depan. Namun dari setiap ayunan kakinya, tersimpan keyakinan bahwa mimpi akan selalu menemukan jalannya—selama ada kemauan untuk terus berlari. (hn)

 

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#lari #atletik #nasional #sman 1 probolinggo