Keterbatasan fisik tak selalu jadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya. Seperti teman disabilitas netra di Kota Pasuruan, misalnya. Meski punya keterbatasan, mereka mampu membuat keset dari kain perca yang dijual ke berbagai kalangan.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
Sejumlah pria tampak duduk di depan alat penjepit untuk menyulam. Mereka terlihat menyusun besi pada alat itu secara teratur. Berurutan sesuai ukuran.
Tampak tangan mereka memotong kain perca yang dililitkan pada besi. Disusun ke atas hingga alat menjadi penuh.
Begitulah keseharian Diego Mustain, 38 dan Ahmad Nur Rudi, 24 di Rumah Hebat Disabilitas (Rehat) Kota Pasuruan. Setiap harinya, saat tidak ada pelanggan pijat refleksi, mereka menghabiskan waktu dengan membuat keset. Keset ini terbuat dari kain perca.
Mustain-sapaan akrab Diego Mustain menuturkan, sehari-harinya ia bekerja sebagai terapis. Ia bisa melakukan pijat seluruh anggota badan. Terapis ini dilakukan tiap hari di Rehat di Jalan Kyai Mansyur, Sekargadung, Purworejo. Saat tidak ada tamu, ia selalu menyulam.
"Tamu yang datang untuk massage setiap harinya ada. Tapi di sela-sela menunggu tamu, saya biasanya ya menyulam keset ini," katanya.
Warga Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo ini menyebut, dia pernah belajar di Kota Malang untuk menyulam keset. Di tahun lalu, Dinas Sosial (Dinsos) kembali memberikan pelatihan dua kali yang bekerja sama dengan Kota Malang.
Teknik menyulam keset ini butuh ketaletenan dan kesabaran. Caranya, kain perca dililitkan pada besi yang berukuran lebih tinggi dibanding besi lainnya.
Ini dilakukan berulang kali hingga besi pada alat ini penuh. Agar hasilnya bagus, maka besi yang digunakan tidak boleh bergeser.
Setelah bagian besi penuh, maka penahannya bisa dilepas, namun besinya tetap dibiarkan menempel untuk dilakukan proses penjahitan yang dilakukan dengan cara memasukkan kain sisa ke dalam lubang besi.
"Lalu setelah itu kain sisa ini bisa ditarik. Jumlah jahitan sebanyak jumlah rajutannya. Penjahitan ini bisa dilakukan di atas meja," katanya.
Ia menyebut penyulaman keset ini membutuhkan kain perca sebanyak satu gulungan dengan kain perca yang ukuran padat. Kain perca padat itu memiliki berat tiga kilogram.
Namun jika kain percanya kecil, maka membutuhkan hingga tiga gulung untuk membuat satu keset.
"Tidak sulit membuatnya, yang penting telaten dan sabar. Dalam sehari, kalau sudah pandai, bisa membuat tiga keset," jelas Mustain.
Disabilitas netra lainnya, Ahmad Nur Rudi, 24 menyebut ada 20 orang disabilitas yang dilatih menyulam keset. Mulai dari netra dan daksa.
Namun yang aktif setiap hari hanya lima orang. Mereka adalah disabilitas netra. Disabilitas daksa lebih fokus pada membuat mural atau lainnya.
Awalnya, saat pertama kali menyulam keset, ia sering meraba pada besi yang terpasang pada alat sulam.
Saat ini karena sudah terbiasa, ia sudah hafal pada letak besi panjang yang dipakai untuk melilitkan kain perca. Agar hasilnya bagus, ia selalu mengikuti pada besi.
Keset yang diproduksi ada dua jenis. Kualitas baik hingga premium. Premium dibanderol lebih malah. Sekitar Rp 35 ribu karena kain perca yang digunakan lebih bagus. Sementara keset kualitas baik dijual Rp 25 ribu. Keset ini dijual ke sejumlah kalangan.
"Dijual di kalangan sendiri. Teman, relasi hingga ASN Kota Pasuruan juga banyak yang memesan. Tiap pekan ada saja yang beli," kata Rudi.
Kepala Dinsos Kokoh Arie Hidayat menyebut, kemandirian penyandang disabilitas memang harus terus dibina. Produksi keset ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk produktivitas ekonomi.
Dinsos hadir memberikan pendampingan dan fasilitasi pemasaran agar karya luar biasa ini dapat terserap pasar. Sekaligus menjadi simbol pemberdayaan inklusif di wilayah. Seluruh hasil penjualan keset ini diperuntukkan bagi teman disabilitas.
"Kualitas keset teman disabilitas berbeda dengan di pasaran. Kualitasnya premium. Jauh lebih bagus. Lebih tebal," sebut Kokoh. (fun)
Editor : Abdul Wahid