Menanam anggur sudah menjadi hobi Ciamik, 41. Dia menyulap teras rumahnya yang berukuran kecil menjadi kebun anggur kualitas unggul. Bibit anggur miliknya banyak diminati hingga Singapura.
ACHMAD ARIANTO, Kraksaan, Radar Bromo
Sore itu, Ciamik terlihat sibuk memangkas daun yang tumbuh lebat pada tanaman anggur miliknya, yang ditanam di teras rumahnya yang berlokasi di Desa Asembagus, Kecamatan Kraksaan.
Satu persatu daun tersebut dipotong hingga pohon terlihat rapi dan sedap dipandang. Itulah aktivitas yang dilakukan olehnya saat senggang.
Menanam anggur merupakan hobi Ciamik sejak dia masih remaja. Hobi ini muncul ketika dirinya melihat bapak dari temannya yang memiliki sebuah pohon anggur yang memiliki buah lebat.
Dari situ lalu muncul keinginan untuk memiliki sebuah pohon anggur yang ditanam di rumah.
Keinginan tersebut baru terwujud pada tahun 2004 setelah lulus SMA. Dengan keterampilan dan pengetahuan yang masih minim, Ciamik kemudian menanam buah merambat tersebut di samping teras rumah.
“Sebelumnya memang dilarang menanam anggur oleh orang tua. Selain lahannya yang tidak ada, di halaman rumah juga ada pohon mangga. Tapi setelah membujuk orang tua, akhirnya diperbolehkan,” katanya mengawali cerita.
Pertama kali dia mengawali berkebun anggur, dirinya menanam jenis anggur jupiter. Anggur yang berukuran kecil dengan karakteristik rasa unik yang manis namun sedikit kecut.
Jenis ini dipilih karena mudah untuk dipelihara dan mudah berbuah, namun demikian perlu perawatan yang tepat.
Anggur kemudian dipeliharanya dengan telaten. Sayangnya anggur tersebut tidak kunjung berbuah.
Sehingga dia sering bertanya pada teman bahkan orang tua temannya yang sudah lama berkebun anggur. Usaha yang dilakukan berhasil hingga akhirnya pohon anggur jupiter tersebut berbuah lebat.
“Awal-awalnya tidak langsung sukses. Beberapa kali tanaman layu dan tak berbuah. Setelah sharing dengan yang lebih senior, akhir bisa berbuah,” ucapnya.
Begitu berhasil menanam anggur dan berhasil berbuah, Ciamik makin penasaran untuk membudidayakan anggur import jenis lainnya.
Hingga akhirnya teras rumah berukuran 4 x 5 meter yang sisinya masih berupa tanah tersebut, jadi sasaran uji coba tanam anggur. Namun kali ini jenis anggur yang ditanam adalah Everest, Moondrop, dan Neo Muscat/Tamaki.
Jenis anggur ini dipilih karena selain mudah untuk dibesarkan. Pemeliharaannya juga tidak ribet, dan tidak mudah mati karena penyakit tanaman maupun hama.
Dengan metode tanam yang sama dengan anggur jupiter yang sebelumnya, tiga jenis anggur import tersebut ditanam. Rupanya anggur tersebut juga berhasil tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang cukup lebat.
“Metodenya sama. Hanya jenisnya saja yang berbeda. Rupanya juga berhasil dan berbuah,” bebernya.
Ciamik menceritakan, saking lebatnya buah anggur miliknya sampai saudara dan tetangga rumah meminta bibit anggur untuk ditanam di rumah. Sayang kala itu Ciamik belum bisa mengembangbiakkan anggur. Hanya fokus pada hobi menanam saja.
Adanya permintaan tersebut, Ciamik kemudian terpacu untuk melakukan pembibitan vegetatif. Beberapa kali percobaan dilakukan hingga akhirnya dia berhasil mengembangbiakkan anggur-anggur yang ditanam di rumahnya.
“Singkatnya, setelah di rumah berbuah lebat, kan banyak yang tanya bibitnya. Akhirnya saya belajar dan ternyata bisa mengembangbiakkannya,” tandasnya.
Ciamik menjelaskan bahwa dalam budi daya anggur ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari media tanam yang tepat untuk pertumbuhan akar. Tanaman ini harus ditanam pada media tanam porous yakni media tanam yang gembur dan mudah menyerap air.
Siklus penanaman anggur dimulai dari tahap pembesaran pohon. Hal ini dilakukan sejak masa tanam sampai usia kisaran 5–6 bulan.
Dalam masa pembesaran pohon tersebut, pertumbuhan akar, daun, dan batang begitu diperhatikan. Jangan sampai ada hama atau terserang penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhannya.
Selanjutnya pada usia 7 bulan mulai tahap berbuah. Pada masa tersebut, juga perlu diperhatikan keseluruhan pohon. Jangan sampai anggur terkena penyakit atau hama.
“Ada 2 fase menanam anggur, fase pertama pembesaran dan kedua, fase belajar berbuah. Yang perlu diperhatikan adalah pemberian pupuk dan kondisi tanamannya,” tuturnya.
Setelah bertahun-tahun berkebun anggur, pada tahun 2021, Ciamik menambah areal tanam. Memanfaatkan teras rumah berukuran 3 x 6 meter di Desa Pondok Kelor, Kecamatan Paiton, dia menanam anggur jenis import.
Dua rumah yang ditempatinya kini tidak hanya dijadikan sebagai wisata petik anggur skala rumahan. Tetapi juga menjadi salah satu jujugan pecinta anggur untuk belajar berkebun sekaligus membeli bibit anggur unggulan miliknya.
“Usia anggur yang ditanam di rumah sudah cukup lama, jadi sudah bisa berbuah terus menerus. Banyak yang datang karena penasaran kemudian memetik anggur untuk dibawa pulang. Kalau bibit sudah banyak yang beli, bahkan dulu ada orang dari Singapura datang membeli bibit untuk dibawa pulang,” pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni