Di usia yang masih belia, Alyssa Shakira Kusumawardani telah menjejakkan kaki pada panggung prestasi yang tak semua anak seusianya mampu raih. Gadis berusia 11 tahun itu kini dikenal sebagai karateka sabuk coklat, dengan deretan medali yang berkilau—bukan hanya oleh emasnya, tetapi juga oleh cerita di balik setiap perjuangan.
INNEKE AGUSTIN, Dringu, Radar Bromo
Prestasi terkininya diraih pada Polije Open Karate Championship IV (Piala Direktur) di Jember, 29–30 November 2025. Di ajang bergengsi yang diikuti 1.029 atlet dari 48 kontingen se-Indonesia itu, Shakira pulang membawa dua medali emas dari nomor Kata dan Kumite.
Tak hanya itu, tahun ini Shakira juga berhasil menyabet dua medali emas sekaligus dalam ajang Kejuaraan Karate Piala Wali Kota Malang, Sabtu (17/5) lalu. Sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa ketekunan, bila dirawat sejak dini akan tumbuh menjadi keunggulan.
Perjalanan Shakira mengenal karate bermula secara sederhana. Saat pandemi Covid-19 melanda, ia baru berusia enam tahun. Kondisi kala itu memaksanya menunda masuk sekolah dasar.
Hari-harinya pun diisi dengan bermain di sekitar rumah, bersama anak-anak tetangga. Dari situlah segalanya bermula—tanpa rencana besar, tanpa ambisi yang disusun rapi.
“Awalnya ikut-ikutan anak tetangga latihan karate. Saya kira cuma sehari. Tapi kok besoknya ikut lagi, lalu besoknya lagi,” kenang Alfin Hidayati Ilmiah, 53, sang nenek yang sejak awal menjadi saksi tumbuhnya kecintaan Shakira pada olahraga bela diri tersebut.
Dari yang semula sekadar ikut bermain, perlahan berubah menjadi keseriusan. Kini, Shakira bahkan dipercaya menjadi asisten pelatih karate di SD Negeri Pabean, Desa Pabean, Kecamatan Dringu, setiap Selasa sore selama dua jam. Sebuah peran yang jarang disandang anak seusianya.
Di balik langkah-langkah tegap Shakira, ada sosok oma atau nenek yang selalu setia mengiringi. Sang oma bukan hanya pendamping, melainkan juga penyemangat utama. Tak jarang, sang oma pula yang mengantar Shakira bertanding ke luar kota, menunggu di tribun dengan doa yang tak pernah putus.
“Saya selalu mendukung apapun kegiatan Shakira, terutama olahraga. Tapi saya tekankan satu hal—komitmen. Kalau memang serius, harus dijalani sungguh-sungguh, bukan sekadar mainan,” ujar Alfin.
Bagi Shakira, karate terasa menyenangkan. Kelihatannya keren, seru, dan banyak perlombaannya. Dunia tatami tak pernah membuatnya gentar.
Ia justru merasa tertantang. Shakira bergabung dengan Dojo Bravo Kabupaten Probolinggo dan rutin berlatih di Kantor Kecamatan Dringu setiap Rabu serta Minggu. Namun belakangan, latihan dialihkan ke sistem privat di rumahnya.
Pada masa awal latihan, Shakira lebih menonjol di nomor Kata. Gerakan-gerakannya rapi, hafalan jurusnya kuat. Seiring waktu, Kumite pun dikuasainya. Tahun 2022, Shakira telah berani menjajal panggung nasional lewat Piala Rektor Esa Unggul di Jakarta. Di antara ratusan peserta, ia membawa pulang medali perunggu.
“Pesan Oma waktu itu, harus percaya diri dan fokus,” tutur siswi kelas 5 SDK Mater Dei Probolinggo ini.
Namun dari sekian banyak medali, ada satu yang paling membekas di hati Shakira. Medali emas Festival dan Open Kejuaraan Karate Direktur Cup XI Jember 2023. Bukan karena warna emasnya, melainkan karena makna di baliknya.
Hari itu, tepat saat Shakira bertanding, sang ayah berpulang akibat kecelakaan. Duka dan kemenangan datang bersamaan, menyisakan luka yang tak mudah diucap.
“Pelatih sempat mengatakan bahwa kalau mau tidak ikut, tidak apa-apa. Tapi saya memaksa ikut dengan harapan sepulang bertanding papi bisa kembali lagi. Tapi ternyata tidak. Jadi waktu pulang dari Jember, saya langsung ke makam papi sambil membawa medali,” ucap Shakira lirih.
“Saya ingin papi lihat. Saya ingin papi bangga,” sambung cucu dari Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Kabupaten Probolinggo, Agus Budianto ini.
Sejak saat itu, setiap medali emas bukan lagi sekadar prestasi. Ia adalah persembahan. Kini koleksi medalinya mencapai 17 medali emas, 2 perak, dan 1 perunggu selama karirnya di dunia karate. Medali menjadi pesan sunyi dari seorang anak kepada ayahnya. Dari peluh dan air mata, ada doa yang terus melangit. Shakira pun terus melangkah dengan karate sebagai jalannya. (fun)
Editor : Abdul Wahid