Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menyiapkan Kehidupan Nyata dari Balik Tembok Rutan Bangil: Hidroponik-Kolam Ikan Jadi Jalan Pulang Warga Binaan

Muhamad Busthomi • Rabu, 17 Desember 2025 | 02:49 WIB

Sejumlah warga binaan dibantu petugas merawat hidroponik yang dikembangkan di Rutan Bangil.
Sejumlah warga binaan dibantu petugas merawat hidroponik yang dikembangkan di Rutan Bangil.
 

Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Rutan Bangil, rencana aplikatif dan berkelanjutan dilakukan. Dengan selektif, warga binaan diajari mandiri dan berfokus pada tiga sektor utama: perikanan, hidroponik, dan magot. Keterkaitan ketiganya diharapkan jadi jurus kunci sebagai bekal menuju kehidupan nyata.

MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo 

Pagi itu, sinar matahari jatuh lurus ke halaman belakang Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Bangil. Di balik tembok tinggi dan kawat pengaman, deretan pipa hidroponik tampak rapi berjajar.

Daun kangkung dan pakcoy berwarna hijau segar tumbuh subur, kontras dengan bayangan stigma yang kerap melekat pada tempat ini.

Beberapa warga binaan, mengenakan seragam sederhana, sibuk mengecek aliran air nutrisi, memastikan tanaman tumbuh sehat. Di sudut lain, kolam-kolam ikan berisi ribuan benih nila tampak tenang, menunggu waktu panen.

Inilah wajah lain pembinaan di Rutan Bangil. Bukan hanya menjalani hukuman, tetapi menyiapkan jalan pulang—pelan, pasti, dan bermartabat.

Program hidroponik dan budidaya ikan yang digulirkan Rutan Bangil sendiri bukan sekadar kegiatan pengisi waktu.

Ia dirancang sebagai bagian dari pembinaan kemandirian, sekaligus penguatan psikologis warga binaan. Namun, tidak semua warga binaan dilibatkan. Ada syarat ketat yang diterapkan.

Kepala Rutan Bangil, Yanuar Rinaldi, mengaku harus benar-benar selektif. Yang dilibatkan adalah warga binaan yang sudah menjalani dua pertiga masa pidana, yang mendekati bebas, cuti bersyarat, atau pembebasan bersyarat.

“Kami juga beri syarat tambahan: domisilinya Bangil. Kami tahu keluarga mereka, tahu rumahnya di mana. Jadi ketika bebas nanti, ada kesinambungan,” jelas Yanuar saat ditemui di sela peninjauan area pembinaan, pekan lalu.

Pendekatan itu sengaja dipilih. Menurut Yanuar, pembinaan tidak boleh terputus saat warga binaan keluar dari rutan. Justru, bekal keterampilan harus relevan dengan lingkungan tempat mereka kembali.

“Tujuannya sederhana, tapi penting. Supaya setelah bebas, mereka punya aktivitas positif, punya keterampilan, dan tidak kembali ke lingkaran lama,” ujarnya.

Di sektor hidroponik, Rutan Bangil menanam kangkung dan pakcoy. Dalam satu kali panen, hasilnya bisa mencapai sekitar 20 kilogram, dengan masa panen setiap tiga bulan sekali.

Jumlah itu mungkin terdengar sederhana. Tapi, bagi warga binaan, proses menanam hingga memanen punya makna yang jauh lebih dalam.

“Merawat tanaman itu melatih kesabaran dan tanggung jawab. Ada proses menunggu, ada rasa bangga saat panen,” kata Robi Setiawan, Kasubsi Pelayanan Rutan Bangil.

Tidak sekadar sukses panen. Kegiatan ini juga berdampak pada kondisi mental warga binaan. “Secara psikologis, ini positif. Mereka merasa dipercaya, merasa berguna,” jelasnya.

Tak berhenti di tanaman, Rutan Bangil juga mengembangkan budidaya perikanan. Pada Agustus lalu, sebanyak 10 ribu benih ikan nila ditebar di empat kolam yang berada di area belakang rutan.

Lokasi itu dipilih karena mendapat paparan sinar matahari cukup. Target panen direncanakan pada akhir tahun.

Menariknya, ide budi daya ikan ini lahir dari pengalaman personal. Salah satu pegawai pengamanan rutan telah lebih dulu mengembangkan budidaya ikan lele, mujair, gurami, dan nila di rumahnya. Praktik itu kemudian diadaptasi ke dalam program pembinaan.

“Kami lihat itu potensial dan realistis untuk diterapkan di rutan. Apalagi perikanan ini bisa dikombinasikan dengan pembinaan lain,” ujar Robi.

Saat ini, pembinaan kemandirian di Rutan Bangil difokuskan pada tiga sektor utama: perikanan, hidroponik, dan magot. Ketiganya saling terhubung dalam satu ekosistem sederhana.

Limbah organik dimanfaatkan untuk magot, magot bisa menjadi pakan ikan, dan air kolam dapat mendukung sistem tanam. Meski masih bertahap, arah pembinaan ini jelas: efisien, berkelanjutan, dan aplikatif.

Bagi Yanuar, program ini adalah investasi jangka panjang. “Kami tidak ingin pembinaan hanya selesai di sini. Yang kami bangun adalah pola pikir. Bahwa mereka bisa berubah, bisa mandiri, dan bisa diterima kembali di masyarakat,” tegasnya.

Dalam praktik sehari-hari, warga binaan yang terlibat mendapat pendampingan langsung. Mereka belajar mulai dari hal dasar—mengatur nutrisi tanaman, menjaga kualitas air kolam, hingga memahami siklus panen.

Tidak ada target muluk-muluk. Yang penting, proses berjalan dan nilai pembinaannya sampai.

Di sela kegiatan, suasana di area belakang rutan terasa berbeda. Tidak ada teriakan, tidak ada ketegangan. Yang ada hanya obrolan ringan tentang daun yang mulai lebar, ikan yang tumbuh cepat, atau rencana panen berikutnya.

Ruang itu menjadi semacam jeda. Tempat warga binaan belajar berdamai dengan diri sendiri sambil menyiapkan masa depan.

“Proyek rutan hijau ini sekaligus membangun kebiasaan baik. Bangun pagi, merawat, bertanggung jawab. Itu modal penting ketika mereka kembali ke masyarakat,” kata Robi. Dan di balik tembok rutan, proses itu sedang berjalan, setapak demi setapak. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#warga binaan #rutan bangil #hidroponik #tembok