Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Inilah Dewan Kemakmuran Masjid Darul Awabin, Ladang Ikhtiar Lapas Probolinggo yang Ajarkan Narapidana Baca Alquran Mulai dari Nol

Inneke Agustin • Rabu, 3 Desember 2025 | 19:45 WIB
LAYAKNYA PESANTREN: Anggota DKM Darul Awabin di Lapas Kelas IIB Probolinggo saat menampilkan hadrah.
LAYAKNYA PESANTREN: Anggota DKM Darul Awabin di Lapas Kelas IIB Probolinggo saat menampilkan hadrah.

Di balik dinding sunyi penjara, kehidupan tak hanya berjalan dalam hitungan hari menuju kebebasan. Di sana, di ruang yang sering dipenuhi penyesalan dan pencarian makna, tumbuh harapan untuk memperbaiki diri. Inilah latar belakang  terbentuknya Dewan Kemakmuran Masjid Darul Awabin di Lapas Kelas IIB Probolinggo. Sebuah upaya memantik cahaya dari balik jeruji.

INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo

Dewan Kemakmuran masjid (DKM) ini baru dibentuk November lalu ini dinaungi delapan pengurus inti. Ada ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa seksi bidang. Mereka dibantu anggota dari tiap kamar hunian, membentuk lingkaran kecil yang perlahan menabur kebaikan.

Tugas mereka tak ringan. Menjaga kebersihan masjid, mengajarkan mengaji, memperkenalkan fikih, membimbing sholat, hingga mengantar mereka yang mampu menjadi tahfiz.

Mereka juga menjadi telinga bagi warga binaan yang datang membawa keluh dan resah. Saat hari besar keagamaan tiba, merekalah yang menyiapkan perayaan: dari Isra Mikraj hingga Maulid Nabi.

“Banyak dari mereka datang dari titik nol. Tak mengenal huruf-huruf Alquran. Maka kami mulai dari Iqra`, perlahan mengenalkan surat-surat pendek. Dimulai dari tiga Kul: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas,” tutur Satimo, 52, yang didaulat menjadi Ketua DKM Darul Awabin.

Kesabaran yang ditanamkan itu akhirnya tumbuh menjadi buah manis. Beberapa warga binaan berhasil diwisuda sebelum masa tahanannya berakhir. Mereka bukan hanya bisa membaca, tapi menamatkan Alquran, bahkan menghafal ayat-ayat panjang.

Salah satu yang membanggakan adalah Miarto, 72, seorang driver yang terjerat kasus kelalaian berkendara. Menjelang hari kebebasannya, ia telah menghafal 80 ayat dari Surah Al-Baqarah. Ada pula Subianto, 42, mantan pengguna narkoba, yang menghafal 65 ayat.

“Mereka setor hafalan setiap minggu. Kalau tidak hafal, tidak apa-apa. Yang penting istiqomah. Mengajar mereka itu seperti mengukir di atas air—perlu kesabaran yang luas,” ujar Satimo.

Tak hanya mengaji, suasana spiritual di Lapas Probolinggo kini terasa lebih hidup. Para warga binaan mulai terbiasa melaksanakan salat dhuha dan berlatih hadrah.

Mereka yang awalnya tak tahu tata cara salat kini belajar wudhu, doa, hingga gerakan dasar. Masjid kecil itu menjadi ruang di mana tangan-tangan yang pernah salah arah kembali belajar meraba titik pulang.

Humas Lapas Kelas IIB Probolinggo, Reky Arif Rahman menegaskan bahwa DKM adalah kepanjangan tangan lembaga dalam membentuk karakter religius warga binaan. Perwakilan DKM ditempatkan di hampir seluruh kamar hunian untuk menjaga keberlanjutan dakwah dan pembinaan. “Kami juga memiliki kamar pesantren di blok C1 dan C2,” ujarnya.

Warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang memiliki minat dan bakat dalam agama, ditempatkan di blok tersebut. Pembinaan dilakukan secara khusus, melibatkan MUI, Kemenag, dan pembimbing khusus dari luar lapas. Untuk masuk ke kamar itu, warga binaan harus melewati asesmen ketat.

“Pemula masuk C2. Jika sudah berkembang dan dinilai lebih siap, barulah naik ke C1,” tambahnya.

Kalapas Kelas IIB Probolinggo, Bayu Muhammad Hendaruseto memandang, pembentukan DKM sebagai langkah pembinaan yang tidak sekadar administratif.  Tetapi sebagai jantung dari upaya perubahan.

“DKM menjadi sarana menumbuhkan akhlak, memperbaiki diri, dan memperkuat karakter spiritual warga binaan,” ujarnya.

Masjid di dalam lapas bukan lagi hanya tempat beribadah, melainkan pusat pendidikan akhlak dan moral; sebuah ruang yang menenangkan, mengikat kerukunan, dan menjadi wadah lahirnya perubahan perlahan-lahan.

Bayu berharap, ketika kelak para warga binaan kembali ke masyarakat, mereka membawa pulang bekal keagamaan yang cukup: sebagai pegangan hidup, sebagai penyangga moral, dan sebagai cahaya kecil yang mampu menuntun mereka menjauhi kesalahan yang pernah menggelincirkan.

“Semoga DKM Darul Awabin menjadi sumber keberkahan, penguatan pembinaan, dan investasi pahala jangka panjang—baik untuk dunia maupun akhirat,” tutupnya. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#alquran #lapas probolinggo #narapidana