Pagi itu, area Pojok WBK (Wilayah Bebas Korupsi) di Rutan Kelas IIB Bangil terasa berbeda. Udara hangat, tapi suasana justru adem oleh lalu-lalang warga yang datang dengan wajah penasaran.
MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo
Beberapa ibu terlihat antre sambil menenteng kartu identitas. Sementara petugas Rutan Bangil menyiapkan meja pemeriksaan, lengkap dengan alat cek tekanan darah dan glukometer.
Yang menarik, kegiatan ini bukan untuk warga binaan. Melainkan untuk masyarakat umum di sekitar Rutan Bangil. “Silakan antre, Bu. Nanti dicek tekanan darah dulu ya,” ujar seorang petugas klinik Rutan Bangil pada seorang lansia.
Di sisi lain, seorang pria paro baya duduk sembari mengobrol santai dengan petugas keamanan. Menandakan bahwa batas antara rutan dan masyarakat di luar tembok, setidaknya hari itu, dibuat lebih cair.
Inilah pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Rutan Kelas IIB Bangil pada Kamis (13/11) pekan lalu. Sebuah langkah yang memperlihatkan bagaimana lembaga pemasyarakatan bisa membuka pintu lebih lebar bagi masyarakat. Bukan hanya dalam konteks pembinaan warga binaan, tetapi juga pelayanan publik.
Kepala Rutan Bangil Yanuar Rinaldi menegaskan, kegiatan ini bagian dari komitmen rutan untuk menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalankan hukuman. Ia ingin Rutan Bangil tidak hanya dikenal sebagai tempat pembinaan.
“Tetapi juga sebagai mitra yang hadir untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat menumbuhkan kepercayaan dan semangat gotong royong di lingkungan sekitar,” terangnya.
Kegiatan berlangsung sejak pagi, memanfaatkan area Pojok WBK yang selama ini menjadi ruang konsultasi dan pelayanan bagi keluarga warga binaan. Namun hari itu, ruang tersebut berubah menjadi klinik mini terbuka.
Tenaga medis dari Klinik Rutan Bangil melayani pemeriksaan dasar. Seperti cek gula darah, tekanan darah, serta konsultasi kesehatan ringan.
Salah satu warga, Rahma, 46, mengaku terkejut sekaligus senang. “Baru kali ini saya masuk area rutan untuk periksa kesehatan. Ternyata suasananya ramah, tidak seperti yang dibayangkan,” tuturnya sambil menunggu hasil cek gula darah.
Bagi Rutan Bangil, kegiatan seperti ini bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah cara membangun kepercayaan publik. Hal yang kerap menjadi tantangan bagi institusi pemasyarakatan.
Yanuar menyebut, kegiatan pelayanan kesehatan ini sejalan dengan upaya rutan menghapus jarak psikologis dan stigma yang selama ini melekat. “Rutan sering dianggap tempat yang menakutkan. Padahal, kami punya banyak kegiatan pembinaan dan pelayanan publik yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, layanan gratis ini juga membantu warga sekitar yang membutuhkan pemeriksaan rutin. Namun, kerap menunda karena alasan biaya atau akses. Dengan menggandeng tenaga medis internal, rutan mampu menyediakan layanan yang cepat dan profesional.
“Banyak warga yang akhirnya tahu bahwa kami punya fasilitas kesehatan cukup lengkap,” katanya. Mereka juga bisa konsultasi tentang pola hidup sehat, terutama bagi yang berisiko diabetes atau hipertensi.
Di tengah kegiatan, tampak sejumlah petugas rutan membantu mengatur antrean, menunjukkan bahwa kegiatan ini melibatkan seluruh lini. Para pegawai, mulai dari staf administrasi hingga keamanan, turun langsung berinteraksi dengan warga. Hubungan yang biasanya terbatas pada kunjungan warga binaan, hari itu terasa lebih luas dan terbuka.
“Kami ingin masyarakat merasa dekat dengan rutan. Bukan sekadar datang kalau ada keluarganya yang menjalani hukuman. Tapi melihat bahwa kami bagian dari lingkungan mereka, dan siap bekerja sama kapan pun,” bebernya.
Yanuar menegaskan, langkah ini sejalan dengan semangat BerAKHLAK. Nilai dasar ASN yang kini menjadi kompas pelayanan publik. Di dalamnya terkandung dorongan untuk selalu berorientasi pada pelayanan, bekerja akuntabel, meningkatkan kompetensi, menjaga hubungan yang harmonis, tetap loyal pada amanah, cepat beradaptasi, serta mengedepankan kolaborasi.
Menurutnya, momentum HUT Korpri ke-54 menjadi pengingat penting bahwa pelayanan terbaik kepada masyarakat tidak boleh berhenti pada rutinitas birokrasi. “Korpri itu tentang pengabdian. Jadi di momen ulang tahun ini, kami ingin menghadirkan sesuatu yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujarnya.
Menariknya, beberapa warga binaan juga dilibatkan secara tidak langsung. Mereka menyiapkan kebersihan area dan perlengkapan sederhana sebelum kegiatan dimulai.
“Kami ikut bantu bersih-bersih sejak pagi,” ujar salah satu warga binaan yang enggan disebut namanya. Keterlibatan mereka memberi pesan kuat: pembinaan bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga kesempatan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial.
Menjelang siang, antrean mulai menipis. Para warga pulang membawa hasil pemeriksaan. Sebagian dengan catatan medis, sebagian lagi dengan saran pola hidup sehat.
Tapi yang paling penting, mereka pulang dengan pengalaman baru tentang rutan. Bahwa di balik pintu besi dan tembok tinggi itu, ada manusia-manusia yang bekerja bukan hanya menjaga, tapi juga melayani.
“Kami ingin menjaga hubungan ini. Semakin dekat kami dengan masyarakat, semakin baik pula layanan yang bisa kami berikan,” pungkas Yanuar. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi