Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Melihat Aksi Teatrikal Siswa SMPN 8 Kota Pasuruan untuk Peringati Hari Pahlawan

Fandi Armanto • Rabu, 12 November 2025 | 19:00 WIB
TUMBUHKAN RASA CINTA: Teatrikal detik-detik tentara Belanda mendarat di Kota Surabaya yang digelar di SMPN 8 Kota Pasuruan saat Hari Pahlawan Nasional.
TUMBUHKAN RASA CINTA: Teatrikal detik-detik tentara Belanda mendarat di Kota Surabaya yang digelar di SMPN 8 Kota Pasuruan saat Hari Pahlawan Nasional.

Banyak cara bisa dilakukan untuk memperingati Hari Pahlawan yang jatuh tiap tanggal 10 November. SMPN 8 Kota Pasuruan, misalnya. Mereka mengajak siswa dan warga lingkungan sekolah menggelar teatrikal perjuangan pahlawan saat mengusir tentara sekutu.

FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo

Sejumlah laki-laki dan perempuan tampak berada di tengah tanah lapang. Ada yang membawa wadah nasi, ada yang bermain kartu hingga bersenda gurau.

Keakraban itu hanya berlangsung sejenak. Tiba tiba ada laki laki yang datang dengan langkah terburu buru membawa radio.

Ia lantas meminta mereka mendengarkan siaran radio itu. Dalam siaran itu terdengar suara Bung Tomo yang berapi api. Ia menggugah arek arek Suroboyo untuk bangkit melawan tentara belanda yang dibonceng oleh tentara Inggris. Tak lama kemudian, pertempuran sengit terjadi.

Dengan bambu runcing, mereka bersatu melawan tentara musuh yang membawa senapan.

Begitulah aksi yang tersaji di lapangan SMPN 8 Pasuruan, Senin (10/11). Kegiatan teatrikal itu dilakukan oleh para siswa untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional.

Kegiatan ini diikuti seluruh siswa mulai kelas 7 hingga kelas 9. Setiap siswa dan guru memakai kostum perjuangan.

Ada yang mengenakan seragam TNI, perawat, hingga rakyat jelata. Selama 45 menit, mereka mengikuti teatrikal mulai dari penyerangan tentara sekutu, pengusiran mereka dari kota Surabaya, perobekan bendera belanda di hotel Yamato hingga pawai ke perumahan seraya memekik “Merdeka!”.

Kepala SMPN 8 Pasuruan, Arif Syaifurrohman menuturkan, ide teatrikal ini karena sekolah ingin membuat perayaan dalam rangka memperingati Hari Pahwalan Nasional. Agar perayaan lebih berkesan pada siswa, sekolah membuat parade teatrikal detik detik penyerangan tentara sekutu di kota Surabaya.

Kostum yang dikenakan oleh siswa disesuaikan dengan kemampuan mereka. Dianjurkan tidak membeli. Boleh memakai kostum yang sudah dimiliki atau bisa menyewa. Kostumnya bisa bermacam-macam. Terpenting mencerminkan profesi pahlawan nasional yang mengikuti teatrikal kelas 8 dan 9.

"Kalau hanya upacara kan sudah menjadi rutinitas siswa setiap senin. Agar lebih berkesan pada siswa kami kemas dengan kegiatan teatrikal," jelas Arif.

Mantan guru SMPN 4 Pasuruan ini menjelaskan, teatrikal dimulai dengan pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno-Hatta.

Awalnya hidup masyarakat tenang dengan digambarkan laki-laki dan perempuan yang tampak bersenda gurau. Namun ketenangan ini tidak berlangsung lama.

Belanda kembali datang dengan membonceng tentara Inggris. Mereka ingin menegakkan kembali kekuasaan Belanda. Aksi berlanjut dengan mereka yang tampak mendengarkan suara pidato Bung Tomo di radio yang berapi api.

Pidato ini membuat semangat mereka membara dan menyerang tentara Belanda untuk mengusirnya dari Kota Surabaya. Adegan bergeser saat tentara Belanda mengibarkan bendera di Hotel Yamato.

Arek arek Suroboyo yang marah lantas merobek warna biru dalam bendera itu. Lalu diikuti dengan adegan pekikan merdeka dan penghormatan rakyat pada bendera merah putih. Teatrikal diakhiri pawai sejauh 500 meter ke pemukiman di Sekargadung.

"Siswa menjadi tahu apa yang menjadi latar belakang hari pahlawan itu. Sehingga rasa cinta tanah air bisa terbentuk sejak dini," kata Arif.

Salah satu peserta teatrikal, Rafael Mahesa Dika menyebut, dia sempat berlatih selama dua pekan agar bisa memeragakan teatrikal dengan baik. Ia memerankan komandan tentara Belanda. Ia mengenakan kostum serba putih yang diperoleh secara siswa.

"Senang bisa mengikuti teatrikal ini. Saya jadi tahu ternyata awal mula hari pahlawan nasional itu seperti ini," jelas ketua Osis ini.

Geilsy Rafifah Bintang Jodiansyah menambahkan, ia memerankan sebagai rakyat jelata. Untuk mendukung perannya, ia mengenakan pakaian kebaya. Ia terlibat dalam adegan melawan tentara Belanda dengan menggunakan bambu runcing.

"Kebetulan saya punya kebaya, jadi tidak perlu sewa atau beli. Perannya cukup susah. Tapi tadi lancar," jelas siswi kelas 9 ini. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#hari pahlawan nasioanal #10 November #teatrikal #SMPN 8