Hermanto dulu dikenal sebagai pemain bertahan tangguh yang pernah memperkuat Persekabpas dan Persipro. Kini, ia menghabiskan hari-harinya menjaga keamanan di pabrik PT Gudang Garam Tbk, Gempol. Meski jalan hidupnya berbelok, kecintaannya pada sepak bola tetap melekat erat. Semangatnya bekerja keras dan menjaga disiplin tetap sama seperti saat merumput.
Rizal Fahmi Syatori, Gempol, Radar Bromo
DENGAN tubuh tegap dan gerakan sigap, lelaki 37 tahun itu membuka portal gerbang pabrik PT Gudang Garam Tbk di Plant Gempol, Kabupaten Pasuruan. Seragam security melekat rapi di tubuhnya yang tinggi: 181 sentimeter dengan berat 100 kilogram.
Itulah Hermanto saat ini. Di balik penampilan tegas sebagai seorang penjaga keamanan, ia menyimpan kisahnya sebagai mantan pemain sepak bola profesional yang pernah merumput bersama klub-klub besar tanah air.
“Dulu sepak bola adalah hidup saya. Sekarang, saya lebih fokus bekerja,” terang warga Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil ini.
Kecintaan Hermanto terhadap sepak bola sudah tumbuh sejak kecil. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah akrab dengan bola, lapangan, dan debu yang menempel di kaki.
Bakat itu mengalir dari sang ayah, almarhum Sudirmanto yang semasa hidupnya memperkuat tim legendaris asal Bangil, Assyabab Bangil.
“Bisa dibilang, sepak bola ini turunan. Ayah dulu juga pemain. Saya ikut-ikut latihan, lama-lama jadi terbiasa dan jatuh cinta,” kenangnya.
Selama masa sekolah –SD hingga SMK- Hermanto yang akrab disapa Herman Kuncir tergabung dalam Sekolah Sepak Bola (SSB) Assyabab Bangil. Dari sanalah kemampuannya diasah hingga akhirnya membuka jalan menuju dunia profesional.
Karier sepak bolanya dimulai pada tahun 2006 bersama Persekabpas Junior. Setelah lulus sekolah, ia sempat memperkuat Mojokerto Putra (MP) selama satu musim. Lalu kembali ke Persekabpas pada 2008 di Divisi Utama.
Tahun 2009 menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Hermanto bergabung dengan Persipro Probolinggo dan bertahan hingga 2012 di Divisi Utama. Ia sempat satu tim dengan nama-nama besar seperti I Putu Gede dan Akhmad Junaedi.
Setelahnya, ia memperkuat Persenga Nganjuk di Divisi I selama satu musim dan sempat kembali ke Persekabpas pada 2014 untuk tampil di Liga 3. Di lapangan, ia dikenal sebagai pemain bertahan tangguh dengan nomor punggung favoritnya: 5.
“Posisi saya center back, bertahan. Saya suka tantangan menjaga pertahanan di lapangan,” terang alumni SMPN 3 Bangil dan SMK A. Yani Bangil itu.
Tahun 2016 menjadi babak baru dalam hidupnya. Hermanto memutuskan gantung sepatu dan mulai bekerja sebagai security di PT Gudang Garam Tbk, Plant Gempol.
Meski sempat mencoba bertahan di Liga 3 sambil bekerja, padatnya jadwal membuatnya harus memilih. “Akhirnya saya dicoret karena jarang latihan. Ya bagaimana lagi. Kerja juga tanggung jawab,” katanya tertawa kecil.
Namun, Hermanto tak menyesal. Baginya, sepak bola sudah memberikan banyak hal — pengalaman, teman, bahkan pintu rezeki.
“Kerja di sini juga berkah dari sepak bola. Banyak hal yang saya pelajari dari lapangan yang bisa diterapkan di pekerjaan,” ujarnya penuh syukur.
Meski kini kesibukan utamanya menjaga keamanan pabrik, semangat dan kecintaannya pada sepak bola tak pernah padam. Dalam seminggu, ia masih rutin berlatih dua hingga tiga kali bersama Garuda FC, klub internal yang beranggotakan para security PT Gudang Garam.
“Kalau sekarang, sepak bola buat olahraga saja. Untuk menjaga kebugaran, cari keringat dan merawat keakraban,” katanya.
Keluarganya — istri dan dua anaknya — juga selalu memberi dukungan. Bahkan, Hermanto sempat dipercaya menjadi asisten pelatih Bangil FC di ajang Piala Bupati Pasuruan Cup, mendampingi pelatih kepala Abdul Muntholib.
“Sebenarnya ingin fokus jadi pelatih. Tapi ya, pekerjaan tetap utama,” ucapnya sambil tersenyum.
Bagi Hermanto, sepak bola bukan hanya soal gol dan kemenangan. Ia bagian dari perjalanan hidup. Dari seorang anak kecil yang menendang bola di lapangan kampung, hingga kini menjaga gerbang pabrik besar dengan disiplin dan tanggung jawab yang sama.
“Saya tetap bersyukur. Hidup ini seperti pertandingan, yang penting tetap semangat dan main bersih,” tutupnya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi