Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Rhenate, Siswi SMAN 1 Bangil yang Raih Emas PON Matematika: Tertarik Fisika agar Kelak Jadi Ahli Nuklir

Muhamad Busthomi • Rabu, 29 Oktober 2025 | 14:40 WIB

 

 

DIUNDANG BUPATI: Rhenate Kartika Paksi Sulfianto, 16, berbincang dengan Bupati Pasuruan H.M. Rusdi Sutejo yang mengundangnya bertemu, beberapa hari setelah meraih medali emas.
DIUNDANG BUPATI: Rhenate Kartika Paksi Sulfianto, 16, berbincang dengan Bupati Pasuruan H.M. Rusdi Sutejo yang mengundangnya bertemu, beberapa hari setelah meraih medali emas.

Tekun belajar membuat Rhenate Kartika Paksi Sulfianto sukses menjadi jagoan angka dan logika. Baru-baru ini, siswi SMAN 1 Bangil tersebut meraih emas di Pekan Olimpiade Nasional. Dari bilangan dan simbol, ia sedang menulis mimpinya menjadi ahli nuklir.

MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo

Suara langkah sepatu terdengar pelan di koridor SMA Negeri 1 Bangil, pagi itu. Di antara hiruk pikuk siswa yang bersiap masuk kelas, ada satu sosok yang tampak sedikit berbeda.

Wajahnya teduh, matanya jernih menatap jauh ke depan. Ia adalah Rhenate Kartika Paksi Sulfianto, siswi kelas XI IPA-2 yang baru saja membuat harum nama Kabupaten Pasuruan.

Gadis 16 tahun itu menyabet medali emas pada ajang Pekan Olimpiade Nasional (PON) 2025 bidang Matematika. Kegiatan itu digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Auditorium Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta pada 27 September 2025.

Nilai A+ yang ia raih membuatnya menempati posisi puncak. Mengungguli ratusan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.

Kemenangan itu bukan sekadar angka di kertas. Bagi Rhena—begitu ia biasa disapa—prestasi ini adalah bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam bisa mengantarkan siapa pun pada puncak prestasi.

Beberapa hari setelah lomba, Rhena diundang ke Kantor Bupati Pasuruan. Siang itu, di ruang kerja yang sejuk dan rapi, Bupati H.M. Rusdi Sutejo menyambutnya dengan senyum lebar.

Di sebelahnya ada ayah Rhena, Hendri Sulfianto. Dia tampak terharu melihat anaknya duduk di hadapan orang nomor satu di Kabupaten Pasuruan itu.

“Alhamdulillah, siswi asal Kabupaten Pasuruan bisa meraih medali emas, mengalahkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia,” ujar Mas Rusdi, sapaan akrab Bupati.

Bupati Rusdi tampak bangga. Ia menyebut capaian Rhena bukan hanya kemenangan pribadi, tapi juga kemenangan untuk seluruh masyarakat Pasuruan.

“Prestasi ini membuktikan bahwa anak daerah mampu bersaing di tingkat nasional. Bahkan, di bidang yang sering dianggap sulit, seperti matematika,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Mas Rusdi berjanji akan memperjuangkan beasiswa bagi siswa-siswi berprestasi di bidang akademik. Seperti halnya beasiswa yang diberikan untuk atlet olahraga.

“Kalau di bidang olahraga sudah berjalan. Nanti kami upayakan juga bagi anak-anak yang berprestasi di bidang akademik,” ujarnya optimistis.

Di hadapan Bupati, Rhena dengan tenang bercerita tentang mimpinya. Meski sukses di bidang matematika, kini ia justru tertarik menekuni fisika, terutama fisika nuklir.

“Saya ingin jadi ahli nuklir, Pak,” katanya pelan di hadapan Bupati Rusdi. Keinginan itu bukan muncul tiba-tiba.

Rhena mengaku selalu terkesima dengan cara kerja alam semesta. Ia gemar membaca buku-buku ilmiah dan menonton dokumenter tentang reaksi atom dan energi nuklir.

“Saya ingin meneliti bagaimana energi bisa digunakan untuk kebaikan manusia,” ujarnya.

Sang ayah, Hendri Sulfianto yang duduk di sebelahnya, hanya tersenyum bangga. “Anaknya ini kalau belajar memang fokus sekali. Kadang saya harus suruh istirahat,” katanya tertawa kecil.

Ketika ditanya rahasia suksesnya, Rhena tak banyak berbicara soal rumus atau strategi belajar. Ia justru menekankan pentingnya menjaga suasana hati agar tidak jenuh.

“Belajar itu harus serius, tapi jangan terlalu tegang. Saya biasanya selingi dengan mendengarkan musik atau menonton,” tuturnya.

Ia juga punya kebiasaan mencatat ulang rumus-rumus sulit di selembar kertas warna-warni yang ditempel di dinding kamarnya. “Kalau tiap hari lihat, jadi hafal sendiri,” katanya sambil tersenyum.

Namun jangan salah. Di balik ketenangan wajahnya, ada semangat kompetitif yang kuat. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam mengerjakan soal-soal olimpiade dari berbagai negara. “Kadang sampai lupa waktu,” ujar Rhena, tertawa kecil.

Bagi Rhena, medali emas di PON Matematika bukan prestasi pertama. Sebelumnya, pada 25 Mei 2025, ia meraih medali perak di Olimpiade Nasional bidang Kimia di Banjarnegara serta perunggu di bidang Sosiologi.

Konsistensinya di berbagai mata pelajaran membuatnya dikenal sebagai siswi serbabisa di sekolah. Guru-gurunya menyebut Rhena sebagai sosok yang tidak hanya cerdas. Namun, juga rendah hati dan selalu mau membantu teman-temannya belajar.

“Kalau ada teman yang kesulitan, dia nggak segan ngajarin. Kadang malah bikin kelompok belajar kecil di perpustakaan,” kata salah satu guru matematika SMAN 1 Bangil yang mendampingi Rhena ke Jogjakarta.

Keberhasilan Rhena juga membawa kebanggaan tersendiri bagi SMA Negeri 1 Bangil. Sekolah itu, kini semakin dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Pasuruan dengan banyak siswa menorehkan prestasi akademik nasional.

Hendri Sulfiyanto berharap, anaknya bisa menjadi contoh nyata bahwa sistem pembelajaran berbasis riset dan eksplorasi bisa menghasilkan siswa dengan daya saing tinggi. “Dia membuktikan bahwa kecerdasan tidak hanya dari nilai ujian, tapi juga dari keinginan untuk terus belajar,” ujarnya.

Kini, setelah namanya masuk daftar peraih medali emas nasional, Rhena semakin mantap melangkah. Ia tengah menyiapkan diri untuk seleksi olimpiade internasional yang akan digelar tahun depan.

“Target saya bisa ikut ke tingkat internasional. Siapa tahu bisa lanjut kuliah di luar negeri,” ucapnya.

Sebelum pulang dari kantor bupati, Rhena sempat menatap selembar piagam penghargaan di tangannya. Di wajahnya terpancar rasa syukur dan tekad yang kuat.

“Saya ingin buktikan bahwa anak Pasuruan bisa sampai ke mana pun. Asal mau belajar dan nggak gampang nyerah,” katanya.

Prestasi yang diraih Rhena menjadi bukti bahwa semangat belajar dan ketekunan mampu membawa siswa daerah menuju panggung prestasi nasional. Kini, langkah gadis asal Bangil itu baru saja dimulai, menuju impian besarnya menjadi ahli nuklir. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#SMAN 1 Bangil #bupati pasuruan #Rusdi Sutejo #Mas Rusdi #fisika #nuklir #matematika #pon