Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dua Sisi Risa Usman: Kasun Tamanan yang Juga Montir; Antara Pengabdian dan Kunci Pas yang Saling Melengkapi

Rizal Syatori • Rabu, 22 Oktober 2025 | 02:50 WIB

DUA SISI: Risa Usman saat beraksi memperbaiki motor pelanggan. Inset, Risa Usman saat menemui warga. (Rizal Syatori/ Radar Bromo)
DUA SISI: Risa Usman saat beraksi memperbaiki motor pelanggan. Inset, Risa Usman saat menemui warga. (Rizal Syatori/ Radar Bromo)
 

Di sebuah teras rumah yang sederhana di Dusun Tamanan, Desa Kepulungan, Gempol, pagi terasa akrab dengan wangi kopi dan suara obrolan santai. Seorang pria dengan kemeja batik dan celana jin duduk di sana, menyambut setiap warga yang datang. Bukan dengan formalitas, tapi dengan senyum hangat dan telinga yang siap mendengar. Dialah Risa Usman, 35, kepala dusun Tamanan.

 RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo

Sudah dua tahun, Risa menjabat kasun atau kawil, yaitu sejak 2023. Tak pernah dia membayangkan sebelumnya akan mengemban tugas ini. Tapi, hati kecilnya terpanggil.

Menjadi kasun menurutnya adalah jalan pengabdian. Bukan karena gaji, bukan pula karena gengsi. Sementara uang, bisa dicari dari tempat lain.

Dan, seperti itulah Risa menjalani hari-harinya kemudian. Di samping rumahnya, dia membuka bengkel sepeda motor. Di situ ia menghabiskan waktu, di sela-sela tugasnya sebagai kepala dusun.

Berbeda dengan jalan pengabdian yang dia tempuh. Bengkel adalah tempatnya mendapat penghasilan secara halal. Bagian dari perjalanan hidup yang sudah lama dilakoninya.

Sejak lulus dari SMKN 1 Sukorejo Jurusan Otomotif pada 2009, dunia mesin dan oli sudah menjadi bagian dari hidupnya. Pernah bekerja ikut orang, sempat juga merasakan jadi montir di sebuah diler motor.

Hingga akhirnya, Risa membuka bengkel sendiri pada 2015. Semuanya ia jalani dengan perlahan dan penuh kesabaran dan ketekunan.

Namun sejak menjadi kasun, pekerjaannya itu mau tidak mau memang tergeser. Namun, Risa tidak benar-benar meninggalkan bengkel itu. Kuncinya ada pada keseimbangan.

“Kalau pas longgar, tidak ada kegiatan di balai desa dan di dusun, ya saya ke bengkel. Dak apa-apa. Ini kan bengkel punya saya sendiri,” ucap suami dari Fatimah Hidayatur Rohmah itu.

Bengkel itu sendiri cukup lengkap. Beragam alat perbengkelan ada. Mulai alat ukuran kecil seperti kunci pas, hingga alat ukuran besar.

Ia juga melayani berbagai jasa. Mulai ganti oli, servis ringan, hingga turun mesin. Pelanggannya pun tak hanya dari Pasuruan. Ada juga yang dari Sidoarjo, Mojokerto, dan Probolinggo.

Demi pelanggannya itu pula, Risa tidak menutup bengkelnya. Dia hanya menyesuaikan waktu, menyeimbangkan antara tanggung jawab dan pengabdian.

Tanggung jawabnya sebagai kasun dia jadikan prioritas utama. Siaga 24 jam untuk warganya. Terutama jika ada yang butuh bantuan mendadak.

Meski terkesan bertolak belakang, namun kasun dan montir, baginya dua peran yang saling melengkapi. Yang satu melayani masyarakat, yang lain memperbaiki kendaraan. Namun, dua-duanya sama-sama butuh ketulusan.

“Menjadi montir itu menjanjikan, penuh tantangan, dan tidak membosankan. Sementara sebagai kasun adalah cara saya membalas kebaikan pada dusun saya,” tuturnya.

Sesuai aturan, Risa akan menjadi kasun hingga usia 60 tahun. Sementara jadi montir menurutnya, akan terus dijalani selama fisiknya kuat.

Di antara kunci pas dan kopi hitam, di antara keluhan warga dan suara mesin, Risa Usman merangkai hidupnya—diam-diam, tapi berarti. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#montir #pasuruan #kepulungan #bengkel #gempol #Kasun