Karir Letkol Czi Amito Surya Mutiara, 38, terbilang moncer. Di usia yang masih muda, ia sudah dipercaya sebagai pimpinan Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 10 Divisi 2 Kostrad. Pria asli Bengkulu ini lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) 2009.
FAHRIZAL FIRMANI, Gadingrejo, Radar Bromo
Terlahir dari keluarga yang tidak berkelebihan, menuntut Letkol Czi Amito Surya Mutiara harus selalu berprestasi.
Ayahnya seorang petani, sementara ibunya ibu rumah tangga (IRT). Sejak masih di bangku sekolah dasar, ia sudah rutin mendapat beasiswa.
Setelah lulus SD, pria asal desa Anggut, Kecamatan Pino, Kabupaten Bengkulu Selatan, ini memilih hidup mandiri.
Ia mengontrak agar bisa bersekolah di sekolah favorit yakni SMPN 1 dan SMAN 1 Bengkulu Selatan. Selama bersekolah di sana, Amito sering mendapatkan beasiswa.
"Alhamdulillah, saya sering dapat beasiswa prestasi. Saya selalu mengejar prestasi akademik karena orang tua memang tidak berkelebihan," katanya.
Prestasi akademiknya yang moncer membuat Amito meraih beasiswa di perguruan tinggi negeri (PTN).
Ia mendapat beasiswa selama setahun dari dua PTN terkemuka di Sumatera yakni Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Universitas Bengkulu (Unib).
Tapi ia memutuskan tidak mengambilnya. Dia memilih ikut seleksi Akmil pada tahun 2006.
Alasannya, karena beasiswa yang diperoleh hanya setahun. Jika mengambil kuliah PTN, minimal dia harus menempuh pendidikan selama empat tahun. Sementara orang tuanya tidak memiliki ekonomi yang berlebihan.
"Akhirnya memutuskan masuk Akmil. Karena Akmil mulai dari seleksi sampai lulus itu tanpa dipungut biaya. Dan langung ikatan dinas," jelas Amito.
Pria kelahiran Agustus 1987 ini menyebut, dia sempat mengikuti seleksi tiga kali di tempat berbeda.
Mulai dari administrasi, kesehatan, akademik, hingga fisik. Tes dilakukan di Korem Bengkulu, Kodam Sriwijaya, hingga Pusdik Ajen di Bandung, Jawa Barat (Jabar).
"Alhamdulillah lulus setelah menempuh pendidikan 3,5 tahun. Masuk Juli 2006 dan lulus Desember 2009. Dan berhasil menjadi lulusan terbaik," jelas Amito.
Anak pertama dari dua bersaudara ini menuturkan, selama 16 tahun ia sempat menduduki sejumlah posisi penting. Usai lulus Akmil, dia langsung menjalani ikatan dinas di Yonzipur 9 Divisi 1 Kostrad di Bandung.
Selama 10 tahun di sana, karirnya terbilang bagus. Berawal dari Letnan Dua (Letda) ia menjadi Komandan Peleton (Danton). Hingga terakhir menjabat sebagai Komandan Kompi (Danki) hingga dia bisa meraih pangkat Kapten.
Pada tahun 2020, ia dimutasi ke Pusat Zeni AD di Jakarta. Selama setahun di Jakarta, dia dimutasi menjadi Komandan Detasemen Zeni Tempur 8 di Kalsel. Di sana dia meraih pangkat Mayor dan menjabat posisi tersebut sampai 2024.
Lalu ia menempuh pendidikan di Sekolah Staf Komando AD (Seskoad) selama setahun. Pada 2025, ia menjadi Komandan Satuan Pendidikan Perwira Zeni di Pusat Pendidikan Zeni Bogor. Namun hanya tiga bulan, sebelum akhirnya menjadi Komandan Yonzipur 10 Divisi 2 Kostrad sejak 14 Oktober.
"Alhamdulillah setelah 16 tahun berkarir, akhirnya dipercaya menjadi komandan Yonzipur 10 Pasuruan. Bisa dibilang prestasi lulusan terbaik Akmil menjadi salah satu faktornya," jelasnya.
Peraih Adhi Makayasa 2009 ini menyebut, selama 16 tahun berkarir di TNI AD, ia sempat beberapa kali menjadi bagian dari satgas perdamaian.
Mulai dari satgas Operasi Bhakti Kartika Jaya di perbatasan Kalimantan Timur pada 2012, lalu Satgas Pasukan Perdamaian PBB di Kongo pada 2014.
Kemudian pernah menjadi bagian dari satgas di negara Fiji pada 2016. Serta beberapa kali terlibat dalam Satgas Operasi Bhakti Sosial di Riau dan Pantura.
Amito juga beberapa kali terlibat dalam sejumlah satgas, memberinya pengalaman yang berkesan. Seperti saat jadi bagian dari Satgas di Kaltim pada 2012 lalu. Di tempat ini, semuanya serba terbatas.
"Karena berada di perbatasan, maka semuanya benar-benar terbatas. Sinyal sulit dan cari transportasi juga tidak mudah," kata Amito.
Saat menjadi Satgas Perdamaian PBB di Kongo, Amito juga mendapat pengalaman unik karena ia membawa nama baik negara Indonesia di mata dunia. Di luar itu, yang paling berkesan adalah saat jadi bagian satgas di Fiji pada 2016.
Saat itu, ia ikut membantu rekonstruksi Quin Victoria School yang rusak akibat terkena bencana topan wingston. Fiji merupakan satu-satunya negara ras Melanesia di kawasan Asia Pasifik yang mengakui Papua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sementara, negara lain di kawasan Asia Pasifik seperti Kiribati, Tuvalu, Vanuatu, hingga kepulauan Solomon mendukung Papua memisahkan diri dari NKRI.
"Pengakuan ini membuat Indonesia merasa Fiji peduli dengan NKRI. Sehingga saat ada kesulitan, Indonesia berupaya membantu," tutur Amito.
Sulung dari dua bersaudara ini mengungkapkan, menjadi Komandan Yonzipur adalah amanah dan tanggung jawab yang akan diembannya sepenuh hati. Ia akan rutin menjaga kesiapan operasional personel melalui latihan, pembinaan fasilitas, dan pembinaan materiil. Sehingga saat dibutuhkan oleh negara, selalu siap sedia.
"Sebagai komandan, tentu saya memiliki tanggung jawab bisa mendelegasikan perintah dan wewenang dengan baik pada anak buah," pungkasnya. (*)
Editor : Abdul Wahid