Pagi belum sepenuhnya terang ketika aroma nasi hangat dan sayur tumis memenuhi halaman pesantren. Di sudut dapur umum Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotun Nursalim (RNS) Yanuba, beberapa santri sibuk mengantre sarapan. Suara riuh mereka berpadu dengan panggilan pengurus kamar yang memastikan tak satu pun santri melewatkan waktu makan.
---------------------
Waktu baru menunjukkan pukul 06.15. Bagi santri Ponpes RNS Yanuba, inilah jam sakral, waktunya sarapan wajib. Di pesantren yang diasuh Nyai Hj. Nikmah Jamilah ini, makan pagi adalah bagian dari pendidikan.
Jauh sebelum pemerintah menggulirkan program makan bergizi gratis, pesantren di Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, ini menerapkan program makan sehat setiap pagi.
“Program ini sudah berjalan sejak 2018,” tutur Fina Nur Aisyah, Direktur Pendidikan Ponpes RNS Yanuba, yang juga inisiator program tersebut.
Menurut Fina, ada beberapa pemicu utama yang membuat pihaknya memutuskan untuk menerapkan sarapan wajib.
Pertama, soal kesehatan. Lulusan Jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini bercerita, program itu muncul setelah melihat banyak santri yang sering mengeluh sakit maag dan lesu saat jam pelajaran.
“Banyak yang ngantuk, tidak semangat, bahkan sering izin karena sakit. Ternyata karena tidak sarapan atau sarapan sembarangan,” kata Ning Fina -sapaannya.
Kedua, soal kedisiplinan. Beberapa santri putra sering terlambat sekolah karena sarapan di luar lingkungan pesantren. Padahal, hal itu justru membuka celah pelanggaran disiplin dan mengganggu jadwal belajar.
“Dari situ kami sadar, kebiasaan sarapan bersama juga soal kedisiplinan dan tanggung jawab,” tambah Ning Fina yang semasa kuliah menekuni bidang kimia pangan dan kimia hayati.
Sebagai sarjana sains, Fina tak ingin program ini sekadar berhenti pada niat baik. Fina yang pernah mengambil mata kuliah kimia pangan, kimia medisinal, dan kimia hayati di bangku kuliah, memahami benar pentingnya gizi seimbang untuk otak. Ia mempelajari banyak jurnal dan pendapat ahli neurosains tentang pentingnya sarapan pagi bagi perkembangan otak anak.
“Pendapat para ahli itu memperkuat keyakinan kami. Bahwa sarapan pagi dengan gizi seimbang adalah kunci untuk mencetak generasi cerdas dan tangguh,” katanya.
Program pun dimulai. Para santri yang tinggal di asrama diwajibkan sarapan setiap hari, dengan menu sederhana namun lengkap.
Ada karbohidrat, sayur, dan sumber protein. Semua disiapkan langsung oleh tim dapur di bawah pengawasan pengasuh, Nyai Hj. Nikmah Jamilah.
Kendati demikian, program ini tak serta-merta diterapkan begitu saja. Sejak awal, pihak pesantren berkomunikasi dengan wali santri agar paham bahwa gizi seimbang akan memengaruhi anak-anak menata masa depan.
“Setiap ada program baru, kami selalu mengundang wali santri. Termasuk saat menyampaikan kewajiban sarapan ini. Kami jelaskan pentingnya gizi seimbang bagi perkembangan anak,” kata Ning Fina.
Hasilnya, seluruh wali santri mendukung. Mereka paham dan percaya ini demi kebaikan anak-anakn mereka.
Kini, program makan sehat itu menjangkau seluruh siswa yang bermukim di pesantren. Mulai 11 santri tingkat SD Islam Yanuba, hingga sekitar 500 santri di jenjang SMP Islam Yanuba dan MA Ibnu Sina.
Tak berhenti di situ, Yanuba juga memiliki sekitar 80 mahasiswa yang memilih tetap mondok. “Adanya mahasiswa ini juga hasil dari tumbuhnya kepercayaan diri itu. Dulu, lulus SMP atau MA saja berat. Banyak yang keburu menikah atau bekerja. Sekarang mereka paham pentingnya pendidikan,” ujar Fina.
Setiap pagi, setelah kegiatan mengaji selesai, mereka berbaris di dapur umum untuk mengambil jatah sarapan. Di tahun-tahun awal, santri makan bersama di depan kamar.
Kini, mereka bisa makan di kelas masing-masing, kadang ditemani guru yang mengajar jam pertama. “Yang penting tetap sarapan dan tetap bersama,” tutur Ning Fina.
Menu disusun tim juru masak berdasarkan prinsip gizi seimbang, bukan sekadar mengenyangkan. “Yang penting ada sayur dan protein. Masaknya juga selalu freshly cooked, bukan makanan yang disimpan semalaman,” ujarnya.
Dampaknya terasa nyata. Santri lebih fokus belajar, lebih jarang sakit, dan suasana kelas lebih hidup. Prestasi pun ikut menanjak.
“Beberapa santri kami bahkan lolos UTBK dan diterima di perguruan tinggi negeri tanpa ikut les tambahan. Padahal fasilitas kami sederhana,” ucap Ning Fina, bangga.
Tak hanya akademik, kepercayaan diri santri juga meningkat. Mereka kini berani ikut lomba, dari olimpiade sains hingga pencak silat, dan pulang membawa piala.
“Tim pencak silat kami termasuk yang paling diperhitungkan dalam setiap perlombaan,” tambahnya.
Dampak lain yang tak kalah penting, perubahan sikap. Enam tahun berjalan, hasilnya terasa. Santri RNS Yanuba kini dikenal masyarakat sekitar sebagai anak-anak yang sopan, ceria, dan mudah diarahkan.
“Anak-anak mudah diarahkan, ringan tangan untuk bersedekah, dan punya semangat kebersamaan yang tinggi. Secara fisik juga terlihat sehat, cantik, dan ganteng,” tutur Ning Fina sambil tersenyum.
Lebih dari itu, lanjut Ning Fina, program ini menjadi bagian dari pendidikan karakter. “Kami ingin anak-anak sehat lahir batin, kuat belajar, dan percaya diri menghadapi masa depan,” pungkas Ning Fina. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi