Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sebelum MBG, SDIT Permata Kraksaan Terapkan Makan Siang Sejak 2006, Setelah Makan, Siswa Sudah Terbiasa Cuci Piring Sendiri

Agus Faiz Musleh • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 14:10 WIB
RAPI: Siswa SD IT Permata Kraksaan bersiap menyantap makan siang yang telah disediakan sekolah. Makan siang siswa ini sudah berjalan sejak 2006.
RAPI: Siswa SD IT Permata Kraksaan bersiap menyantap makan siang yang telah disediakan sekolah. Makan siang siswa ini sudah berjalan sejak 2006.

DI saat pemerintah gencar menyiapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah dasar, SD IT Permata Kraksaan justru sudah melangkah jauh lebih dulu.

Sekolah berbasis Islam Terpadu yang berlokasi di pusat Kota Kraksaan ini telah menerapkan makan siang bersama sejak tahun berdirinya pada 2006,  nyaris dua dekade silam.

Kepala SD IT Permata Kraksaan, Nurul Hidajati, tersenyum kecil saat mengingat masa awal sekolah ini berdiri.

“Sejak awal, kami memang ingin anak-anak belajar hidup sehat dan mandiri. Jadi kami putuskan, tidak perlu ada kantin,” ujarnya.

Namun, keputusan itu bukan berarti anak-anak dilarang jajan. Hanya saja, konsep jajannya berbeda.

“Istilahnya, jajannya kami atur bersama orang tua,” lanjut Nurul.

Setiap hari, ada wali murid yang bertugas menyediakan snack sehat untuk jam istirahat pertama.

Camilan yang disiapkan pun bervariasi mulai dari buah potong, puding susu, hingga roti isi telur. Semua bebas dari penyedap rasa dan pewarna buatan.

Konsep tanpa kantin itu otomatis membuat suasana sekolah lebih tertib dan bersih. Tidak ada pedagang kaki lima yang menunggu di depan pagar sekolah, tidak ada pula anak-anak yang sibuk menawar jajanan.

“Anak-anak memang tidak kami biasakan membawa uang. Kalaupun bawa, biasanya hanya untuk beli alat tulis. Bukan untuk beli makanan,” tutur Nurul.

Dengan cara itu, sekolah berupaya membebaskan siswa dari jajanan tidak sehat. Para orang tua pun merasa lebih tenang.

Tak perlu khawatir anak membeli makanan sembarangan, karena semuanya dikendalikan sekolah dan wali murid.

Pukul 12.00, lonceng tanda makan siang berbunyi. Dari dapur sekolah, aroma lauk pauk menggoda tercium kuat.

Anak-anak berbaris rapi menuju prasmanan. Di sanalah mereka mengambil jatah makan siang yang disiapkan oleh tiga katering lokal yang bekerja sama dengan sekolah.

“Menu makan siang disusun oleh sekolah, lalu pengolahannya diserahkan kepada katering,” jelas Nurul.

“Setiap minggu kami evaluasi, supaya menu tetap sesuai dengan selera dan kebutuhan gizi anak," ujarnya.

Jika dikalkulasi biaya makan siang per anak sekitar Rp 9.000 per porsi, sudah termasuk minum. Biaya ini berbeda dari SPP sekolah.

RAPI: Siswa SD IT Permata Kraksaan bersiap menyantap makan siang yang telah disediakan sekolah. Makan siang siswa ini sudah berjalan sejak 2006.
RAPI: Siswa SD IT Permata Kraksaan bersiap menyantap makan siang yang telah disediakan sekolah. Makan siang siswa ini sudah berjalan sejak 2006.

“Tantangannya, tentu saja, tidak semua anak cocok dengan semua menu. Jadi kalau ada yang tidak suka, orang tua boleh membawakan bekal dari rumah,” katanya.

Selesai makan, kegiatan belum berakhir. Para siswa langsung bergegas mencuci piring mereka sendiri.

Bagi sebagian sekolah, ini mungkin hal kecil. Tapi di SD IT Permata Kraksaan, mencuci piring adalah bagian dari pendidikan karakter.

“Kami ingin anak-anak terbiasa bertanggung jawab. Jadi, setelah makan, mereka harus bereskan sendiri,” ujar Nurul.

“Kelas 1 masih dibantu petugas, tapi mulai kelas 2 ke atas, semua mencuci piringnya sendiri," ujarnya.

Selain itu, setiap hari ada petugas piket siswa yang mengambil makanan dari dapur ke ruang makan. Mereka bergiliran setiap minggu. “Melatih kerja sama, tanggung jawab, dan empati,” tambah Nurul.

Untuk mendukung kebiasaan hidup sehat, sekolah juga menyediakan air galon di setiap kelas.

“Kami siapkan belasan galon setiap hari. Anak-anak bebas minum kapan pun tanpa harus beli minuman kemasan,” katanya. Dengan begitu, tidak ada lagi botol plastik berserakan. Sekolah menjadi lebih bersih dan ramah lingkungan.

Ketika ditanya soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah yang akan segera diterapkan secara masif di Kabupaten Probolinggo, Nurul menyambut positif.

“Programnya bagus sekali, apalagi melibatkan ahli gizi. Tapi kami masih ingin melihat dulu bagaimana teknis pelaksanaannya,” ujarnya.

RAPI: Siswa SD IT Permata Kraksaan bersiap menyantap makan siang yang telah disediakan sekolah. Makan siang siswa ini sudah berjalan sejak 2006.
RAPI: Siswa SD IT Permata Kraksaan bersiap menyantap makan siang yang telah disediakan sekolah. Makan siang siswa ini sudah berjalan sejak 2006.

Ia mengaku masih memiliki sejumlah pertanyaan. “Misalnya, bagaimana dengan guru-guru? Di sekolah kami, makan siang juga disediakan untuk guru. Kalau nanti program MBG hanya untuk murid, perlu diatur supaya tidak menimbulkan kesenjangan,” katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pengawasan menu dan kebersihan. “Kami pernah dengar kasus anak keracunan karena makan dari katering yang tidak steril. Jadi kami harus ekstra hati-hati, apalagi banyak orang tua siswa di sini bekerja di bidang kesehatan. Mereka sensitif terhadap isu makanan,” lanjutnya.

Hari di SD IT Permata Kraksaan biasanya berakhir pukul 15.30 untuk siswa kelas 4 sampai 6. Dengan full day school seperti itu, makan siang bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan penting agar anak-anak tetap fokus belajar.

“Kalau anak lapar, mana bisa konsentrasi belajar. Makan siang ini bukan tambahan, tapi bagian dari proses pendidikan kami," tutur Nurul sambil tersenyum. (mu/fun)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#makan siang gratis #SD IT Permata Kraksaan #Mbg #Makan Bergizi Gratis