Namanya Faradina Hamdi. Usianya baru menginjak 14 tahun sebagai pelajar SMP. Namun, deretan prestasi telah ia ukir di gelanggang pencak silat. Seolah waktu begitu ramah pada kerja kerasnya. Dia bahkan meraih Juara Pertama Kejurnas Remaja tingkat Asia baru-baru ini.
RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan, Radar Bromo
Setiap sore, Faradina hadir di Sasana Pencak Silat Perisai Diri, Ranting Pandaan, yang terletak di Lingkungan Kasri, Kelurahan Petungasri. Di sinilah ia menempa diri, menggali potensi, dan merawat tekad. Sebagai pelajar kelas IX di SMPN 1 Pandaan, ia membagi hari-harinya antara bangku sekolah dan arena latihan, tanpa saling meniadakan.
Putri pasangan Rudi Hamdi dan Nur Hidayati ini bukan sekadar pesilat biasa. Dia meraih gelar juara pertama di kelas F (59–63 kg) dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Remaja yang berlangsung di Padepokan TMII, Jakarta, pada 3–7 September.
Di acara itu pula, dia dinobatkan sebagai pesilat putri terbaik. Ia tampil mewakili kontingen IPSI Jawa Timur yang dalam kejuaraan itu berhasil membawa pulang satu emas dan dua perak. Menjadikan mereka juara umum kedua di bawah IPSI Jawa Tengah.
“Alhamdulillah bisa juara pertama, juga menjadi pesilat terbaik putri. Latihan rutin dan kerja keras selama ini akhirnya membuahkan hasil,” tutur Faradina, di sela-sela latihannya.
Jalan menuju Kejurnas itu tidak datang tiba-tiba. Sebelumnya, Dina—begitu ia biasa disapa—lebih dulu mencatat prestasi di ajang Popda Bangkalan 2024 dan Kejurda Bela Negara di Surabaya pada Februari 2025. Dalam dua ajang itu, ia juga menyabet gelar juara pertama.
“Jelang Kejurnas, saya juga sempat ikut pemusatan latihan selama empat hari di Surabaya bersama tim IPSI Jatim,” ungkapnya.
Kini, sebuah panggung lebih besar menantinya. Karena prestasinya di Kejurnas, Dina terpilih mewakili Indonesia di Kejuaraan Asia Junior yang akan digelar di India pada 25–30 September mendatang.
Ini akan menjadi debut internasionalnya, dan ia bersiap menjalaninya dengan penuh semangat. “Kesempatan ini akan saya maksimalkan untuk meraih hasil terbaik,” ujarnya, tersenyum.
Latihan kini diperketat. Jika sebelumnya ia berlatih dua kali sehari, kini menjadi tiga kali sehari. Sasana Perisai Diri Pandaan masih menjadi tempat utamanya menempa diri—tempat di mana ia mengenal pencak silat sejak kelas IV SD.
Awalnya, Dina hanya ikut-ikutan teman latihan. Namun, perlahan ia menemukan ketertarikan dan kecocokan yang tak pernah ia sangka akan menjadi bagian dari hidupnya.
“Lama-kelamaan setelah aktif dan rutin latihan, saya jadi suka dengan pencak silat ini,” kenangnya.
Meski waktunya banyak tersita untuk latihan dan bertanding, sekolah tidak pernah ia tinggalkan. Ia pandai membagi waktu, dan mendapat dukungan penuh dari orang tua, guru, dan teman-temannya.
“Latihan di luar jam sekolah, jadi tidak mengganggu pelajaran. Semuanya mendukung dan menyemangati saya,” katanya.
Dalam enam tahun perjalanan menggeluti pencak silat, cedera sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Memar, terkilir, atau nyeri otot bukan hal asing baginya. Namun, tak satu pun membuatnya menyerah.
“Saya sudah tertarik dan enjoy. Ke depan, saya ingin terus aktif di pencak silat. Mudah-mudahan di kejuaraan Asia nanti bisa meraih hasil terbaik. Targetnya ya juara. Doakan ya,” ujarnya mantap.
Trias Rudi Santoso, pelatih Perisai Diri Ranting Pandaan sekaligus pelatih Pengcab IPSI Kabupaten Pasuruan menyaksikan langsung proses tumbuhnya Dina. Baginya, Dina bukan hanya memiliki teknik yang terus berkembang, tapi juga sikap yang membanggakan.
“Dina ini perkembangannya pesat, dari kecil hingga sekarang. Ia menjadi salah satu pesilat andalan di kelas remaja untuk Kabupaten Pasuruan,” ungkapnya.
Menjelang keberangkatan ke India, Trias pun meningkatkan porsi latihan anak didiknya. Tak hanya fisik dan teknik, tapi juga kesiapan mental.
“Lawan yang dihadapi nanti berasal dari berbagai negara di Asia. Harus siap dalam segala hal,” tegasnya.
Langkah Faradina memang masih panjang. Namun dari sebuah gang kecil di Pandaan, langkah itu kini telah menjurus ke gelanggang internasional. Dan siapa tahu, dari matanya yang berbinar dan semangat yang tak kunjung padam, akan lahir juara yang bukan hanya membanggakan Pandaan, tapi juga negeri ini. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi