Di sebuah desa yang asri di Kecamatan Krejengan, sebuah gerakan kecil perlahan tumbuh menjadi gelombang perubahan besar. Desa Sokaantahun ini melahirkan program istimewa, Bank Sampah Sokaan Asri. Apa yang selama ini dianggap sekadar kotoran yang mengganggu, kini menjelma menjadi sumber ekonomi baru.
AGUS FAIZ MUSLEH, Krejengan, Radar Bromo
BOTOL plastik, kardus, kertas bekas, bahkan botol kecap yang dulunya berserakan, kini ditimbang, dihargai, lalu ditabung. Warga menyebutnya bukan lagi sampah, melainkan aset yang bisa menyelamatkan lingkungan sekaligus menambah isi tabungan.
Ide besar di balik bank sampah ini sederhana namun penuh makna: mengubah pola pikir masyarakat.
Sang kepala desa Abu Bakar ingin warganya tak lagi melihat sampah sebagai beban, melainkan potensi. Dengan menabung sampah, warga bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menyimpan nilai ekonomis yang nyata.
“Selama ini banyak sampah yang dibuang di halaman, di jalan, bahkan di sawah. Sekarang kami ingin mengajarkan bahwa sampah bisa membawa manfaat. Dengan cara ini, masyarakat ikut menjaga kebersihan dan sekaligus menabung untuk masa depan,” jelas Abu Bakar.
Bank Sampah Sokaan Asri melayani warga dengan dua cara. Pertama, mereka bisa datang langsung ke lokasi bank sampah. Kedua, ada layanan jemput bola menggunakan pikap yang berkeliling seminggu sekali. Setiap kali pengangkutan, satu dusun bisa memenuhi bak pick-up dengan sampah rumah tangga yang terkumpul.
Sesampainya di lokasi, semua sampah langsung ditimbang. Tidak ada perhitungan sembunyi-sembunyi. Ada daftar harga resmi untuk setiap jenis barang, mulai dari plastik, kertas, botol, hingga kardus. Warga bisa melihat secara langsung hasil timbangannya, sehingga menumbuhkan rasa percaya.
Keunggulan paling menonjol dari program ini adalah sistem pencatatannya yang modern. Semua hasil tabungan warga tercatat rapi dalam sebuah aplikasi bernama ‘Sokaan Asri’.
"Aplikasi ini mencatat seluruh pemasukan sampah warga serta nominalnya. Bisa diakses melalui mobile atau smart phone," katanya.
Setiap warga yang menjadi peserta bank sampah akan mendapat buku tabungan, kode unik, dan akun dalam aplikasi. Dari ponsel masing-masing, mereka bisa mengecek saldo tabungan kapan saja. Jumlah sampah yang sudah disetorkan, nilai rupiah yang terkumpul, hingga total simpanan tahunan, semuanya bisa dipantau secara transparan.
“Aplikasi ini membuat administrasi jauh lebih rapi dan terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Masyarakat bisa memantau sendiri hasil tabungan sampah mereka kapan pun,” terang Hasan Baidawi, Direktur BUMDes Sokaan.
Saldo itu tak sekadar angka. Warga bisa menukarnya dengan barang, menjadikannya tabungan jangka panjang, bahkan menggunakannya untuk membayar kebutuhan penting seperti PBB atau iuran BPJS. Transparansi dan manfaat yang nyata membuat masyarakat semakin antusias bergabung.
Baru dua bulan berjalan, Bank Sampah Sokaan Asri telah mencatat 205 peserta aktif. Saat launching, banyak warga yang akhirnya memberanikan diri mengeluarkan barang-barang rusak yang selama ini hanya disimpan di rumah. Dari botol bekas, plastik, hingga perabot yang sudah tidak terpakai, semua disetorkan ke bank sampah.
Hasilnya mengejutkan, lebih dari satu ton sampah berhasil diangkut. "Bahkan ada warga yang berhasil menabung hingga Rp 100 ribu lebih hanya dari sampah rumah tangga. Tak jarang, tabungan sampah juga ditukar berbagai barang kebutuhan sehari-hari, seperti minyak beras dan lainnya," ujarnya.
Meski berjalan mulus, program ini masih menghadapi tantangan. Saat ini, layanan baru mencakup Dusun Krajan, Krajan Timur, Krajan Tengah, dan Penangan Kalurang.
Sementara dusun Karang Anyar dan Secangan belum tersentuh. Keterbatasan tenaga kerja, fasilitas penampungan, serta armada pengangkut menjadi kendala utama.
“Sekali angkut satu dusun bisa satu pikap penuh. Padahal di unit bank sampah hanya ada tiga orang yang bekerja. Tentu kami harus memperkuat tenaga dan sarana agar jangkauan bisa lebih luas,” jelas Abu Bakar.
Meski penuh tantangan, bank sampah Sokaan Asri telah membawa angin segar bagi warganya. Sampah yang dulu hanya menimbulkan bau dan merusak pemandangan, kini menjelma menjadi tabungan, sumber kebanggaan, sekaligus jalan menjaga bumi tetap lestari.
Dengan bantuan teknologi melalui aplikasi Sokaan Asri, program ini bukan hanya sekadar gerakan lingkungan. Tetapi juga wujud nyata transparansi, keadilan, dan harapan baru dari desa kecil bernama Sokaan.
"Kami terus berupaya menambah layanan. Seperti pada sampah residu yang bisa kembali di manfaatkan. Kami berusaha menggaet perusahaan untuk CSR pada peralatannya," ujarnya. (fun)
Editor : Abdul Wahid