PROBOLINGGO, Radar Bromo-Minggu (14/9) mungkin jadi salah satu hari yang tak bisa dilupakan bagi Abdul Malik. Kurir paket itu selamat dari kecelakaan maut bus rombongan wisata RS Bina Sehat Jember yang pulang dari Bromo.
Motor Malik alami kerusakan. Hingga saat ini motornya juga masih diamankan di Poslantas untuk barang bukti. Namun, Malik tak alami luka berarti.
Malik berkisah, Sabtu pagi itu, hari berlangsung seperti biasanya. Ia beranjak dari rumahnya, di Dusun Kunci, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, untuk bekerja.
Tugasnya: mengantar paket-paket milik para pelanggan online shop. Hari itu, seperti biasanya, puluhan paket sedianya sudah dibawanya dari kantor. Bakal segera dikirim ke tangan pemiliknya.
Puluhan kilometer ditempuhnya untuk mengantar paket dengan mengendarai Honda Beat kesayangannya. Mengantar paket dari satu titik ke titik lainnya.
Tak ada firasat apa pun di benak pria kelahiran 1998 itu. Namun, nasib selalu menjadi misteri.
Jangankan hari esok, semenit yang akan terjadi pun tak ada yang tahu.Kala itu, tepat waktu Duhur, Malik mengirim notifikasi ke beberapa calon penerima paket.
Sekitar pukul 11.30, dia sudah berada di sekitar Dusun Lorokan, Desa Boto, Kecamatan Lumbang, setelah turun dari Sukapura.
Dari seberang jalan, ia hendak menuju rumah Nur Aini, pemilik salah satu paket.
Belum sempat turun dari kendaraannya, terdengar suara benturan keras dari arah barat.
“Saya nyebrang jalan mau nyampek ke rumah nya cs (cutomer) ada ledakan dari arah belakang,” tutur Malik kepada Jawa Pos Radar Jember via Whatsapp. Sejurus kemudian, dia menoleh ke belakang.
Betapa kagetnya Malik melihat bus melaju dengan kecepatan tinggi, tak terkendali, tepat ke arahnya. Menyasak plengsengan dan pembatas jalan.
Kabut debu tebal mengepul, puing-puing trotoar terlempar hingga menggelinding di jalanan. Refleks, Malik sekuat tenaga loncat dari atas motornya.
Berusaha menghindari maut yang nyata-nyata memburunya, berupa bus berstiker “Black Mamba” itu.
“Otomatis saya kaget, langsung loncat dari sepeda takutnya nabrak saya dari belakang,” tambahnya.
Baru sampai di garis markah tengah jalan itu, sesuatu menghantam kaki kirinya. Benturan bus itu menghamburkan trotoar ke berbagai arah. Salah satu puing mengenai kaki kiri Malik.
Sementara, bus maut itu terus melaju menyasak pagar tembok rumah Hamdani, 20, warga Boto.
Bus baru berhenti setelah menabrak jalan cor dan melindas motor Malik beserta paket-paket yang dibawa.
Syok berat dialami Malik. Dadanya berdegup kencang, melihat kejadian mengerikan di depannya. Dia sempat mematung di tengah jalan.
Melihat tubuh-tubuh manusia melayang dari dalam bus nahas itu. “Saya sempat lihat orang yang terlempar ke depan bus itu. Sekitar 4 sampai 5 orang,” ungkap Malik.
Malik menyaksikan beberapa orang itu masih sadar, sementara lainnya tergeletak begitu saja. Hanya sekian detik kesempatan Malik untuk menyelamatkan diri sejak dia menyadari bus asal Jember itu menabrak pembatas jalan di kanan jalan.
Hanya hitungan detik yang memisahkan Malik dari maut. Telat sedikit saja, akan lain ceritanya.
“Pas saya lihat ada ledakan nabrak trotoar itu kisaran jaraknya 20 meteran. Saya loncat dari sepeda cuma nyampek markah putih itu, bersamaan bus nabrak sepeda saya,” tuturnya.
Menurut Malik, kejadiannya begitu cepat. Setelahnya, dia mengaku warga mulai berdatangan. Panik dan bingung melihat kecelakaan maut bus berpelat P 7221 UG itu.
Beberapa penumpang bus rombongan RS Bina Sehat Jember itu terlempar dan meninggal di lokasi kejadian. Sementara puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.
Kini, tragedi bus asal Kota Suwar-Suwir itu telah berlalu. Delapan korban jiwa telah dimakamkan, di Jember. Bus nahas itu juga telah dievakuasi dari lokasi kejadian.
Berbagai pihak mulai dari Jasa Raharja, Polda, sampai Gubernur Jatim berdatangan ke rumah para korban.
Namun, tinggal Malik yang diliputi kebingunan. Dia luput dari perhatian semua pihak. Motor yang jadi satu-satunya mencari nafkah, kini menjadi barang bukti di kepolisian.
Tak hanya itu, Malik juga mengaku belum ada pihak yang menghubunginya terkait kerugian meteriil yang dialaminya. Dia berharap ada ganti rugi dari pihak terkait.
Serta motornya segera kembali agar bisa bekerja lagi. Melanjutkan hidup dengan tenang di lereng Pegunungan Tengger, Probolinggo. (Radar Jember)
Editor : Muhammad Fahmi