Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenang HM Buchori: Cerita Semasa Sekolah dan Alasan Perubahan Namanya oleh Kepala Sekolah

Muhammad Fahmi • Senin, 15 September 2025 | 16:02 WIB

 

HM Buchori semasa kecil (foto kiri). HM Buchori bersama Wali Kota Probolinggo saat ini dr Aminuddin (baju oranye) saat konsolidasi di Pilwali Probolinggo lalu.
HM Buchori semasa kecil (foto kiri). HM Buchori bersama Wali Kota Probolinggo saat ini dr Aminuddin (baju oranye) saat konsolidasi di Pilwali Probolinggo lalu.
 

PROBOLINGGO, Radar Bromo-HM Buchori, mantan wali kota Probolinggo 2 periode tutup usia Senin (15/9). Selama menjabat sebagai wali kota, Buchori dikenal sebagai sosok yang sederhana.

Soal kuliner, HM Buchori tak pernah ribet. Ia lebih suka aneka makanan khas desa dan menu rumahan. Rupanya hal itu sudah melekat pada HM Buchori sejak ia masih kecil.

Saat kecil, menu kesukaan HM Buchori yakni nasi jagung dengan lauk pepes tahu. Menu itu hampir menemaninya semasa kecil. Kebetulan, saat kecil ia dibesarkan dalam keluarga yang pas-pasan. Ayahnya seorang tukang becak.

Meski ekonomi pas-pasan, namun Suryo Ersad dan Nalik, kedua orang tua Buchori selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Apapun yang terjadi, anak mereka harus sekolah setinggi-tingginya.

Saat menginjak usia 5 tahun, Buchori kecil mulai masuk Taman Kanak-kanak (TK). Ia sekolah di TK Bhayangkari dengan seragam ala polisi. Awalnya, kedua orang tuanya berharap Buchori menjadi seorang polisi.

Lepas dari bangku TK, Buchori kecil melanjutkan perjalanannya di SD (partikelir) Pertiwi di jalan Joyo Lelono (sekarang jadi jalan Brigjen Katamso). Ini merupakan sekolah swasta yang cukup maju masa itu.

Dikutip dari buku Berjuang dan Membangun Bersama Rakyat, SD Pertiwi berada di bawah jajasan pendidikan nasional (JPN) Pertiwi, pimpinan Nyoman Benben. Muridnya didominasi warga keturunan.

SD Pertiwi cukup unik. Saat itu, semua siswa diharuskan membawa kursi sendiri dari rumahnya sebagai tempat duduk belajar di kelasnya.

Tak terkecuali Buchori. Ia pun harus menggotong kursi dari rumahnya ke sekolah untuk belajar. Semasa sekolah, Buchori kerap datang dengan bertelanjang kaki. Tanpa sepatu atau sandal. Meski begitu, pakaiannya selalu rapi.

Saat masuk kelas 2 SD, Buchori mengalami perubahan besar dalam sejarah hidupnya. Hal itu tak lepas dari kepala sekolahnya kala itu. Bu Retno namanya.

Sang kepala sekolah mengganti nama aslinya. Dari Buhari menjadi Buchori. Hal itu tak terlepas dari adanya dua nama yang hampir sama di kelas II. Antara Buhari (nama Buchori kecil) dan temannya, Buari.

Di mata teman sekelasnya sendiri Buchori dikenal sosok yang aneh. Sebab, Buchori kerap tak memperhatikan saat gurunya menerangkan. Buchori kecil lebih banyak tiduran dengan merebahkan kepalanya di bangku kelasnya.

Meski begitu, Buchori juga kerap bisa menjawab saat guru menegurnya. Lalu memberondongnya dengan sejumlah pertanyaan. Hal itu membuat banyak temannya jadi keheranan.

Seiring waktu, tingkat kecerdasan Buchori meningkat. Ia langganan jadi juara kelas. Sumarwi, salah satu teman sekelasnya saat duduk di bangku SD mengaku kecerdasan Buchori. “Pelajaran ilmu bumi dan sejarah menjadi pelajaran favoritnya,” kenangnya.

Di sekolah, Buchori dikenal sebagai sosok pendiam. Namun, ia ditakuti oleh teman sekelasnya. Itu lantaran badan Buchori terbilang kekar disbanding teman lainnya.

Meski begitu, seingat Sumarwi Buchori merupakan sosok anak yang suka menolong. Ia juga kerap memberi seuatu yang ia miliki kepada temannya.

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#pertiwi #tutup usia #Wali Kota Probolinggo #hm buchori #sederhana #probolinggo