Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenang Sosok HM Buchori: Terlahir dari Pasangan Sederhana di Bongkaran, Cerita Asal usul Nama Buhari

Muhammad Fahmi • Senin, 15 September 2025 | 14:30 WIB

 

HM Buchori kecil (jongkok, paling kiri) berpose bareng teman-temannya semasa kecil. (Repro Muhammad Fahmi/ Radar Bromo)
HM Buchori kecil (jongkok, paling kiri) berpose bareng teman-temannya semasa kecil. (Repro Muhammad Fahmi/ Radar Bromo)

PROBOLINGGO, Radar Bromo-Sosok HM Buchori, mantan Wali Kota Probolinggo 2 periode tutup usia Senin pagi (15/9). Sosok yang dikenal dekat dengan rakyat.

Rupanya sosok HM Buchori yang sederhana dan merakyat itu tak terlepas dari latar belakang keluarganya yang sangat sederhana.

Dikutip dari buku Berjuang dan Membangun Bersama Rakyat, ayah HM Buchori merupakan warga asal Madura. Ersad namanya. Ia berasal dari Desa Badduri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.

Seperti orang Madura kebanyakan, Ersad sejak muda merantau untuk mencari rezeki. Lelaki kelahiran tahun 1932 itu pun memilih Kota Probolinggo sebagai tempat perantauannya.

Di Kota Probolinggo, Ersad bertemu Siti Mualik. Sosok gadis asal Desa Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.

Nalik yang berasal dari Gang Sampo itu dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia tak bisa diam diri. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga seorang warga keturunan di Surabaya.

Dalam perjalannya, Nalik mengikuti sang majikan yang pindah ke Kota Probolinggo. Tepatnya di jalan WR Supratman atau dulu dikenal dengan kampong Dukuh Bongkaran.

Di kampong Bongkaran itulah, Nalik bertemu Ersad muda. Rumah majikan Nalik tak jauh dari tempat Ersad tinggal.

Rumah tempat tinggal keluarga Buchori di kampung Bongkaran.
Rumah tempat tinggal keluarga Buchori di kampung Bongkaran.

Witing trisno jalaran soko kulino. Berawal dari sering ketemu, Ersad dan Nalik pun akhirnya jatuh hati. Mereka akhirnya menikah. Pasangan ini lantas mendapat julukan Suryo.

Pasangan ini cukup sederhana, bahkan dibilang pas-pasan. Sehari-harinya, Ersad bekerja sebagai tukang kayuh becak. Untuk mendapat penghasilan tambahan, Ersad jadi kuli angkut di gudang gaplek dekat rumahnya.

Kedua orang tua Buchori Ersad dan Nalik.
Kedua orang tua Buchori Ersad dan Nalik.

Pada 22 Juni 1954 rumah pasangan Ersad dan Nalik itu diliputi kebahagiaan. Nalik melahirkan anak pertamanya. Anak yang kemudian dinamai Buhari. Untuk selanjutnya nama itu berganti menjadi Buchori.

Proses kelahiran Buchori itu sempat membuat cemas kedua orang tuanya. Sebab, selama tiga hari terhitung dari perkiraan waktu kelahirannya, Buchori tak kunjung lahir.

Dukun bayi yang sudah dikenal di kampungnya pun sempat tak sanggup menangani. Saat hendak dibawa ke RS, Nalik akhirnya melahirkan.

Buchori lahir pada hari Rabu setelah magrib. Sebab itu pula, Nalik memberi nama bayinya Buhari untuk mengingat hari kelahirannya.

Usai melahirkan Buchori, pasangan Nalik dan Ersad itu lantas melahirkan 6 buah hati lainnya. Meski terlahir dari keluarga pas-pasan, namun HM Buchori kecil hidup dengan penuh kasih sayang.

Editor : Muhammad Fahmi
#pamekasan #bongkaran #Wali Kota Probolinggo #hm buchori #probolinggo