Bandyk Sutrisno bukanlah nama yang asing di Kota Probolinggo. Ia adalah Mantan Wakil Wali Kota Probolinggo (periode 2009–2014) yang kini menjalani hari-hari tuanya dengan penuh semangat dan kesederhanaan. Yang menarik, ia tak pernah beranjak jauh dari sahabat setianya: sebuah Volkswagen (VW) Kodok tahun 1979 berkelir biru langit.
ARIF MASHUDI, Probolinggo, Radar Bromo
Usianya telah menginjak 74 tahun. Namun, semangatnya tetap menyala. Hampir setiap pagi, ia menyempatkan diri bermain tenis lapangan. Olahraga bukan hanya menjadi upaya menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi ruang berbagi tawa dan cerita dengan kawan-kawan seusianya.
Namun, bukan hanya semangat hidupnya yang menarik perhatian. Melainkan juga kendaraan klasik yang selalu ia kendarai ke mana pun ia pergi: mobil VW Kodok warna biru.
Bukan sekadar kendaraan. Mobil itu merupakan potongan sejarah pribadi yang sarat makna. Ia menemani Bandyk sejak tahun 2000, saat masih menjabat sebagai Kepala Badan Keuangan Kota Probolinggo.
“Saya beli dari seorang dokter di Sidoarjo. Waktu itu harganya Rp 25 juta. Begitu dengar mobil itu mau dijual, saya langsung datang dan membelinya,” kenang Bandyk sambil berjalan menuju mobil kesayangannya yang terparkir rapi.
Sejak saat itu, mobil klasik buatan Jerman itu menjadi kendaraan sehari-harinya. Meski zaman telah berubah dan teknologi otomotif telah melaju jauh, Bandyk tetap setia pada pilihan hatinya. Baginya, VW Kodok biru itu bukan hanya kendaraan. Ia adalah simbol kecintaan dan identitas.
Tak sedikit yang mencoba merayu dengan lembaran uang tebal, berusaha memiliki si Biru. Ada yang menawar Rp 150 juta, bahkan nyaris Rp 200 juta. Namun, semua tawaran itu ia tolak tanpa ragu.
“Mobil ini tidak dijual. Sudah seperti bagian dari hidup saya,” tegas pria yang kini tinggal di Perumahan Grand Royal, Kelurahan/Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.
Ketika pertama kali memiliki mobil tersebut, Bandyk bahkan langsung ditunjuk menjadi Ketua Komunitas VW Probolinggo. Hingga kini, ada 22 pemilik VW yang rutin melakukan touring bersama.
Perjalanan terjauh yang pernah ditempuh Bandyk bersama komunitasnya yaitu ke Jogjakarta dan Bali. Sebuah petualangan yang mempererat tali persaudaraan dan cinta mereka pada kendaraan klasik.
Sampai saat ini, mobil itu menjadi kendaraan utama Bandyk dalam menjalani aktivitas hariannya. Meski, usianya tak muda dan teknologinya tertinggal jauh dari mobil modern.
Bandyk merawatnya dengan penuh cinta dan kejelian. Perawatannya pun tidak memakan biaya besar—cukup ratusan ribu rupiah di bengkel langganan di Jalan Semeru.
“Semuanya masih orisinil. Hanya ada sedikit yang diganti atau diperbaiki,” ungkap bapak empat anak dan kakek enam cucu itu dengan bangga.
Namun, cinta itu tidak selalu diwariskan. Anak-anak dan cucu-cucunya tak sejalan dengan pilihan kakeknya.
“Cucu-cucu saya nggak ada yang mau naik mobil ini. Jadi kalau jalan sama mereka, saya pakai kendaraan lain,” ucapnya tersenyum.
Ia paham, VW Kodok-nya bukanlah kendaraan modern yang menjanjikan kenyamanan seperti mobil keluaran terbaru. Tapi bagi Bandyk, kendaraan ini menyimpan sesuatu yang tak bisa dibeli: kenangan, nilai sejarah, dan rasa bahagia.
“Mobil ini tidak punya harga pasar. Yang ada hanya harga senang,” ujarnya pelan, seolah membisikkan makna terdalam dari kesetiaannya.
Dan begitulah, di usia senjanya, Bandyk memilih tetap melaju perlahan bersama VW Kodok birunya. Bukan untuk sekadar menempuh jarak, tapi untuk terus menghidupkan cerita yang pernah dia lukis. Tentang perjalanan, pilihan, dan kecintaan yang tak lekang oleh waktu. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi