Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perjalanan Saiful Rizal, Seniman Kaligrafi Kontemporer Asal Bangil: dari Coretan Tembok Ayah, Siap Wakili Pasuruan di MTQ

Muhamad Busthomi • Sabtu, 6 September 2025 | 02:00 WIB
LEBIH LUAS: Saiful Rizal, 27, saat melukis kaligrafi kontemporer. Kaligrafi kontemporer memberikan Rizal kebebasan berkreasi dibanding kaligrafi klasik.  Membuatnya jatuh cinta pada cabang ini.
LEBIH LUAS: Saiful Rizal, 27, saat melukis kaligrafi kontemporer. Kaligrafi kontemporer memberikan Rizal kebebasan berkreasi dibanding kaligrafi klasik. Membuatnya jatuh cinta pada cabang ini.

Siapa sangka, coretan kaligrafi di tembok rumah yang dulu hanya jadi hiasan, kini menjelma jadi jalan hidup bagi anak muda asal Bangil ini. Dialah Saiful Rizal, seniman kaligrafi kontemporer yang tahun ini bersiap membawa nama Kabupaten Pasuruan ke panggung MTQ Jawa Timur 2025 di Jember.

MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo

Di sebuah rumah sederhana di Desa Masangan, Kecamatan Bangil, gesekan suara kuas pernah beradu dengan tembok. Coretan huruf Arab yang ditulis sang ayah, lulusan Pondok Pesantren Tanwirul Hija, menjadi tontonan sehari-hari seorang bocah kecil.

Bocah itu ialah Saiful Rizal. Ia tumbuh sebagai anak yang gemar menggambar sejak SD. Di sela buku tulis pelajaran, ia sering iseng mencoret huruf atau membuat pola. “Dulu saya hanya menggambar sesukanya,” katanya.

Tapi setelah sering melihat ayahnya menulis kaligrafi di tembok rumah, rasanya ada ada sesuatu yang berbeda di benak Rizal. “Ada keindahan dari huruf-huruf itu,” kenang lelaki 27 tahun itu.

Namun, kecintaannya pada seni sempat terhenti. Selepas SMK, ia tak menemukan wadah untuk menyalurkan bakatnya. Hingga akhirnya, momentum itu datang.

Tahun 2022 menjadi titik balik dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, Rizal memberanikan diri mengikuti Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) cabang Kaligrafi Kontemporer.

Ia ikut seleksi di tingkat kecamatan, namun gagal. Tidak menyerah begitu saja. Ia lantas ikut seleksi di kecamatan lain. Kali ini, keberuntungan berpihak padanya. Ia lolos hingga tingkat Kabupaten Pasuruan. Bahkan, meraih juara pertama.

 “Sejak itu saya merasa menemukan wadah untuk menuangkan inspirasi. Rasanya berbeda ketika karya diapresiasi, bukan hanya dipajang di kamar atau buku gambar,” ujarnya.

Kaligrafi kontemporer menurut Rizal, memberinya kebebasan berkreasi. Jika kaligrafi klasik harus mengikuti kaidah baku, kontemporer membuka ruang lebih luas untuk berekspresi. Meski tetap ada aturan main yang ditetapkan panitia MTQ.

“Saya bisa bermain warna, komposisi, sekaligus menyelipkan inovasi. Itu yang membuat saya jatuh cinta pada cabang ini,” jelasnya.

Padahal kesibukannya bukan main. Bekerja di perusahaan, mengelola usaha kuliner, aktif berorganisasi, hingga kini mulai mengajar ekstrakurikuler kaligrafi di sekolah.

Di tengah padatnya aktivitas, kecintaan pada seni huruf tak pernah surut. Prestasinya pun terus menanjak. Deretan juara mulai tingkat kecamatan, kabupaten, hingga nasional ia kantongi.

Namun, perjalanan menuju MTQ Jawa Timur 2023 di Kota Pasuruan sempat kandas. Dalam seleksi bersama juara-juara lain, Rizal gagal melaju. Alih-alih kecewa, ia menjadikannya bahan bakar untuk latihan lebih keras.

Tahun 2024, setelah dua tahun penuh latihan konsisten, ia kembali merebut juara 1 tingkat Kabupaten Pasuruan. Raihan itu sekaligus menjadi tiket menuju MTQ Jatim.

“Saya niatkan konsisten latihan dua tahun penuh. Hasilnya, tahun 2024 saya kembali juara pertama Kabupaten Pasuruan. Dan akhirnya terpilih mewakili Pasuruan di MTQ Jatim 2025 di Jember,” ujarnya.

Menjelang kompetisi di Jember, ia intens berlatih sebulan penuh. Tak hanya teknis, tapi juga mental.

“Kalau mental goyah, hasil karya bisa berantakan. Jadi saya harus tenang. Anggap lomba ini seperti latihan, tapi tetap maksimal,” katanya.

Tapi ia tahu, jalannya masih panjang. MTQ Jatim hanyalah satu pintu menuju perjalanan lebih besar. “Semoga bisa dapat hasil terbaik di Jember. Kalau menang, itu bonus. Yang penting saya bisa berusaha maksimal dan membawa nama Kabupaten Pasuruan,” ucapnya.

Bagi Rizal, setiap prestasi yang diraih bukan hanya kebanggaan pribadi. Ia berharap bisa menjadi inspirasi bagi anak muda Pasuruan.

 “Saya ingin menunjukkan bahwa kaligrafi itu bisa jadi jalan prestasi. Bukan cuma hobi, tapi juga bisa membawa kita ke tingkat nasional. Bahkan internasional,” ujarnya.

Lebih dari itu, kaligrafi juga menurutnya adalah doa yang ditulis. Setiap goresan pena, setiap garis dan lengkung huruf, adalah wujud cinta pada Allah dan seni. Kaligrafi mengajarkan kesabaran.

“Dari sana saya belajar bahwa hidup harus dijalani dengan telaten, setahap demi setahap, sama seperti menarik garis dengan tinta,” tuturnya lirih.

Ia berharap pemerintah daerah memberi ruang lebih besar untuk para khottot atau seniman kaligrafi. Kalau ada wadah resmi, ia yakin seniman lain bisa berkembang lebih jauh. Tidak berhenti di Jawa Timur, tapi bisa tembus nasional bahkan internasional.

“Kita punya contoh nyata. Ustaz H. Muhammad Faiz Abdul Rozaq, penulis khat Kiswah Kakbah di Mekkah, juga dari Bangil. Itu bukti bahwa dari Pasuruan bisa lahir seniman besar,” tandasnya. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#kaligrafi #pasuruan #pondok pesantren #huruf arab #jatim #bangil #seniman #mtq