Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menghadiri Kenduri Legian, Forum Silaturahmi Antartokoh Tiap Jumat Legi di Kota Probolinggo

Ahmad Suyuti • Selasa, 2 September 2025 | 00:11 WIB

 

SILATURAHMI TOKOH: Para tokoh agama dan masyarakat Kota Probolinggo berkomitmen merawat kebhinekaan lewat Kenduri Legian.
SILATURAHMI TOKOH: Para tokoh agama dan masyarakat Kota Probolinggo berkomitmen merawat kebhinekaan lewat Kenduri Legian.

Berdiri tahun 2018. Sempat vakum saat Covid-19. Kini, Kenduri Legian mulai aktif kembali. Sesuai namanya, forum silaturahmi antartokoh agama dan masyarakat di Kota Probolinggo ini, digelar setiap bulan setelah salat Jumat (Legi).      

HA SUYUTI, Probolinggo, Radar Bromo

JAM menunjukkan pukul 13.00, Jumat (22/8). Sebuah meja panjang dengan kursi dibungkus kain warna hitam kombinasi emas, ditata rapi di sebuah resto di pusat Kota Probolinggo.

Di atas meja, disiapkan gelas beserta penutupnya dan sekuntum bunga sedap malam. Sementara musik instrumen mengalun pelan, menunggu para undangan datang.

Siang itu, sebanyak 30 tokoh di Kota Probolinggo diundang. Mulai Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, organisasi keagamaan, LSM, dan pers. Selang beberapa lama, satu persatu undangan mulai menempati kursi yang disediakan.

Tampak hadir, Wali Kota dr. H. Aminuddin, Dandim 0820 Letkol Arh. Iwan Hermaya, Wakapolresta Kompol Didid Wahyu Agustyawan, Kepala Kemenag Didik Kurniawan, Ketua MUI KH. Muhammad Sulthon, Ketua FKUB H. Ahmad Hudri, Ketua PCNU H. Arba'i Hasan, dan Ketua PD Muhammadiyah M. Dawam Ichsan.

Hadir juga perwakilan dari Gereja Bunda Karmel Agus Maryono, Ketua PITI H. Sufyan Sauri, Ketua TITD Erfan Sudjianto, Ketua LSM Squad Nusantara Bambang Hariyanto, Ketua DPW LSM Harimau Jatim M. Arif Billah, dan Pengurus PWI Probolinggo Raya Muhammad Iqbal. 

Sebelum acara dimulai, undangan disuguhi kopi dan teh. Tidak ketinggalan makanan pembuka. Sepotong pizza di atas piring kecil. Sambil menikmati hidangan yang ada, mereka mengobrol santai. Sesekali diselingi canda dan tawa.

 “Sesuai namanya, Kenduri. Acaranya dahar mawon (makan saja). Karena digelar rutin tiap Jumat Legi, harapannya, seperti pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino (munculnya cinta karena sering bertemu),” kata KH Ahmad Tajul Mafakhir, penggagas Kenduri Legian mengawali obrolannya.

Menurut Gus Tajul–panggilan KH Ahmad Tajul Mafakhir, pertemuan ini akan terasa manfaatnya ketika ada konflik. Saat tidak ada konflik, seperti tidak ada manfaatnya.

“Tapi, saat ada konflik, komunikasi sudah terjalin baik. Tidak buntu. Segala sesuatunya bisa didiskusikan. Sehingga penanganannya lebih cepat dan melibatkan semua stakeholders,” jelasnya.

SILATURAHMI TOKOH: Para tokoh agama dan masyarakat Kota Probolinggo berkomitmen merawat kebhinekaan lewat Kenduri Legian.
SILATURAHMI TOKOH: Para tokoh agama dan masyarakat Kota Probolinggo berkomitmen merawat kebhinekaan lewat Kenduri Legian.

Konflik tidak hanya muncul di pusat. Di daerah, jika tidak diredam, konfliknya tidak kalah keras dibanding pusat.

“Jangan sampai kebakaran, baru dipadamkan. Cost-nya terlalu mahal. Sudah banyak contohnya,” kata Gus Tajul, suatu waktu kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Selain itu, lanjut Gus Tajul, apa yang dilakukan ini, bagian cara melanjutkan warisan sesepuh bangsa dalam merawat kebhinekaan. Bisa hidup berdampingan antarsuku dan agama adalah peninggalan yang sangat mahal.

“Ini harus kita pertahankan dan rawat bersama. Jangan sampai konflik seperti negara lain,” terangnya.

Wali Kota dr. H. Aminuddin sepakat dengan yang disampaikan Gus Tajul. Menurut orang nomor satu di Kota Probolinggo ini, forum seperti ini sangat membantu pembangunan di Kota Probolinggo.

Bertemu setiap bulan antar-stakeholders, akan memperlancar komunikasi. “Jika ada masalah, bisa juga dibahas di forum ini,” kata Aminuddin di hadapan undangan lainnya.

Kota Probolinggo, lanjut Aminuddin, sangat heterogen. Ada beragam suku, agama, dan budaya. Dengan memahami kebhinekaan, perbedaan tidak menjadi masalah. “Malah menjadi kekuatan ketika bersatu,” jelas dokter spesialis obstetri dan ginekologi ini.

Apresiasi juga disampaikan Dandim 0820 Letkol Arh. Iwan Hermaya. Menurutnya, merawat kebhinekaan bagian dari tugasnya.

“Kegiatan ini sangat membantu tugas-tugas kami dalam menjaga keamanan,” tegas Iwan, yang baru beberapa bulan bertugas di Kodim 0820 ini.

Karena itu, kondisi Kota Probolinggo yang sudah kondusif ini harus dipertahankan dan dijaga. Salah satunya lewat forum Kenduri Legian ini.

“Saya siap men-support. Kebhinekaan ini harus dirawat bersama. Karena menjaga persatuan dan kesatuan itu tidak mudah,” terang mantan Danyon Arhanud 8/MBC Kodam V/Brawijaya ini.   

Baca Juga: Demi Jaga Kondusivitas, Demo di Kota Probolinggo Senin 1 September Ditunda 

Kenduri Legian bagi Ketua FKUB H. Ahmad Hudri menjadi literasi positif kerukunan umat beragama. Selain itu, salah satu cara menanggulangi ancaman faktor eksternal.

Sehingga, kondisi internal yang sudah baik ini, tetap terjaga. “Seperti tugas kami, untuk merawat dan menjaga situasi yang sudah harmonis ini tetap langgeng,” jelas Hudri.

Sementara, Ketua TITD Erfan Sudjianto mengaku bangga dengan kerukunan umat beragama di Kota Probolinggo. Perbedaan tidak menjadi hambatan untuk bersosialisasi. “Malah sangat guyub. Kami juga sering mengadakan kegiatan bersama,” ujar Erfan, tokoh asal Medan ini.      

Semakin sore, obrolan semakin gayeng. Sambil menikmati hidangan yang ada, beberapa tokoh lain, juga memberi apresiasi dan masukan.

Acara kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu berjudul : Ibu Pertiwi. Sebuah lagu ungkapan cinta dan kepedulian anak bangsa kepada tanah air Indonesia. Seperti halnya Kenduri Legian, yang juga peduli dan mencintai Kota Probolinggo. (*) 

Editor : Muhammad Fahmi
#Jumat #legian #muhammadiyah #pers #forkopimda #pcnu #lsm #Kenduri #probolinggo #Tokoh