Saat bencana terjadi, tidak hanya tim badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) yang turun ke lokasi bencana. Taruna Siaga Bencana (Tagana) juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam penanggulangan bencana. Mereka menjadi garda terdepan, memastikan korban bencana aman dan tidak kelaparan.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
DIBENTUK sejak 2004, tim Tagana memiliki peran penting dalam penanganan kebencanaan. Saat awal dibentuk hanya beranggotakan dua orang. Namun kini ada di setiap kelurahan. Mereka juga terlibat dalam kegiatan sosial saat tidak ada benacana.
Abdul Subur, 47, koordinator Tagana Kota Pasuruan menuturkan, keberadaan Tagana memiliki sejarah panjang. Subur masih ingat, di 2004 Tagana dibentuk Kementerian Sosial (kemensos).
Personelnya memang hanya ada dua orang. Lalu, pada 2006, bertambah menjadi sembilan orang. Barulah pada 2009, dibentuk di setiap kelurahan dengan masing masing berjumlah dua orang.
Anggota Tagana tidak digaji, sebab mereka adalah relawan. Kegiatan yang mereka lakukan murni dari hati.
"Barulah sejak 2009 itu, ada tali asih yang diberikan oleh pemkot. Diberikan setiap dua kali setahun. Dari yang awalnya tidak ada, Alhamdulillah kini dapat," kata Subur.
Pria asal Jalan Samanhudi, Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo ini menyebut, Tagana memiliki peran yang luas. Tidak hanya saat ada bencana. Mereka terlibat mulai dari pra, saat hingga pascabencana.
Ketika tidak ada bencana, Tagana kerap melakukan kegiatan sosial di kelurahan. Seperti bersih bersih saluran, hingga membersihkan fasilitas umum.
Saat ada bencana, Tagana langsung turun ke lokasi. Biasanya Tagana melakukan monitoring pada debit air, hingga rumah yang terdampak. Termasuk jika ada masyarakat yang membutuhkan evakuasi karena sakit.
"Kalau di Kota Pasuruan, karena hanya dikelilingi pantai, bencana yang terjadi itu banjir. Kalau hanya genangan, hanya asessment dampak," jelas nya.
Bapak tiga anak ini menyebut, saat bencana banjir yang terjadi parah dan lebih dari 24 jam, Tagana akan membuat dapur umum.
Kesiagaan itu untuk membuat makanan bagi warga terdampak. Dapur umum umumnya didirikan di kantor Dinas Sosial (Dinsos). Makanan yang dibuat adalah makanan standar berupa nasi, telor, mie dan tempe.
Jumlah masakan yang dibuat bergantung dari hasil asessment oleh RT dan kelurahan. Mereka yang diberi mulai umur enam tahun ke atas. Mereka memasak nasi dan Tagana sudah punya hitungan untuk memasak.
Untuk 25 kilogram beras, bisa diolah menjadi 250 bungkus nasi. Satu kali masak, Tagana bisa menanak nasi hingga 30 kilogram. Pembuatannya dilakukan dengan sistem rolling.
Personel yang dikerahkan untuk masak nasi sebanyak enam orang. Sementara untuk lauknya, di-handle empat orang dan sissnya membungkus hingga mendistribusikan ke warga.
Pengiriman nasi itu menggunakan mobil. Karena tiga kali makan, maka dapur umum tidak berhenti selama 24 jam.
Karena itu, setiap tim Tagana harus bisa masak. Sebab yang menanak nasi, membuat lauk hingga yang mendistribusikan selalu berganti. Usai pendistribusian, tim biasanya langsung bersiap untuk membuat makan siang.
"Pernah sampai dua hari. Kira-kira tiga tahun silam. Waktu itu banjir terjdi di Karangketug, Bakalan, dan Kepel. Walau lelah, tapi senang bisa bantu orang," katanya.
Anggota tim tagana, Sodikin, 40, menuturkan yang perlu diperhatikan saat memasak adalah saat membuat mie dan menanak nasi.
Mie tidak langsung dimasak di atas api. Tapi menggunakan rendaman air panas. Setelah itu dibuang airnya, baru dimasukkan ke wajan untuk diberi bumbu dan dimasak. Agar mie tidak cepat basi.
"Kalau masak nasi seperti biasa. Cuma karena yang ditanak langsung banyak, maka harus pandai menakar air nya. Kalau terlalu banyak, nasinya lembek," jelasnya.
Pria yang sehari harinya menjadi guru informatika di MTS Kraton ini mengaku, banyak suka dukanya selama menjadi Tagana.
Sukanya bisa bermanfaat bagi orang lain. Dukanya, sudah barang tentu jika bencana terjadi lama.
Praktis mereka harus meninggalkan keluarganya. Hanya bisa meninggalkan lokasi dapur umum sesekali dan itupun sebentar.
"Kalau pas anak sakit itu biasanya yang jadi ujian. Anak rewel minta ada saya. Apalagi pas sibuk, kadang minta tolong teman agar digantikan sebentar," jelas warga asli Lekok ini.
Subur menambahkan, selama ini tidak ada kendala saat ia menjadi relawan tagana. Karena istri dan anak paham dengan tanggung jawab yang diembannya. Namun pengalaman yang paling berkesan adalah saat harus ke Lumajang waktu Semeru erupsi pada 2021 silam. Ia tidak bisa pulang selama tujuh bulan.
"Tapi anak sudah besar. Istri juga mendukung. Jadi tidak ada masalah. Paling ya kangen karena berbulan bulan tidsk ketemu," kata pria yang sehari-harinya menjadi penjual martabak ini.
Kepala Dinsos Kota Pasuruan, Kokoh Arie Hidayat menjelaskan, Tagana selalu hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi juga dalam upaya pencegahan, mitigasi, dan pemulihan.
Peran serta Tagana mencerminkan semangat gotong royong, kepedulian, dan solidaritas sosial.
Mereka memberikan edukasi kesiapsiagaan, membantu evakuasi dan distribusi bantuan. Hingga mendampingi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Kehadiran Tagana menjadi bukti nyata bahwa masyarakat memiliki garda terdepan yang siap siaga, tangguh, dan humanis dalam setiap kondisi darurat.
"Mereka menjadi bagian terpenting bahkan ketika tidak dalam tugas penanggulangan bencana. Jiwa kerelawanan mereka sangat tidak diragukan lagi. Mereka bisa disebut relawan yang paling rela," jelas Kokoh. (fun)
Editor : Fahreza Nuraga