Di balik jeruji Rutan Bangil, Anjas Asmara menemukan kebebasan lewat warna dan kuas. Tiga hari ia menuntaskan lukisan realis Pangeran Diponegoro untuk ajang IPPA FEST 2025, membuktikan seni bisa menembus tembok penjara.
MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo
Tangan Anjas Asmara bergerak mantap di atas kanvas putih yang terbentang di meja kerja bengkel kreasi Rutan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Kuasnya menyapu pelan, menggores warna demi warna, menghidupkan bayangan seekor kuda yang meringkik di tengah medan pertempuran.
Di atas punggung kuda itu, sosok Pangeran Diponegoro tegap memegang Kiai Nogo Siluman, kerisnya yang terkenal. Sorot mata Anjas fokus, nyaris tak berkedip.
Riuh obrolan warga binaan pemasyarakatan (WBP) di ruangan sebelah tak mengusik konsentrasinya. Yang ada hanya ia, kuas, cat minyak, dan tokoh pahlawan yang perlahan muncul dari baluran warna.
”Kalau sudah di depan kanvas, saya sering lupa waktu,” ucapnya lirih. Matanya memicing, membandingkan sapuan warna di kanvas dengan imajinasi yang sudah ia kunci di kepalanya sejak tiga hari lalu.
Lukisan ini dibuat Anjas untuk mengikuti lomba lukis bertema alam, kuda, dan perjuangan. Ajang ini menjadi bagian dari rangkaian Indonesian Prison Products and Art Festival (IPPA FEST) 2025. Sebuah kegiatan yang digelar tiga hari, 8–10 Agustus 2025 dan diikuti WBP dari berbagai rutan dan lapas di seluruh Indonesia.
Bagi Anjas, tema tersebut terasa pas. Sejak duduk di bangku SMP, ia mengagumi kisah Pangeran Diponegoro. ”Perjuangannya, keteguhannya, itu yang menginspirasi saya,” ujarnya.
Pilihan ini membuatnya bersemangat, meski ia lebih terbiasa dengan sketsa hitam putih ketimbang bermain warna. Pengerjaan lukisan itu sendiri memakan waktu tiga hari.
Hari pertama, ia mulai pukul 09.00 hingga sore untuk membuat garis dasar dan merancang komposisi. Mulai dari posisi kuda, latar perbukitan, dan langit senja. Hari kedua dan ketiga, ia mulai memberi warna, masing-masing dari pukul 13.00 hingga sore.
”Paling sulit mencampur warna kulit kuda dan langit. Selama ini saya jarang bermain warna, jadi banyak eksperimen,” katanya.
Bengkel kreasi Rutan Bangil menjadi saksi. Ruangan berukuran sekitar 4x5 meter itu dipenuhi aroma cat minyak. Ketika beberapa WBP sibuk mengikuti program pengolahan sampah organik atau fotografi, Anjas tetap tenggelam di antara bunyi kuas yang bergesekan di kanvas.
Sesekali ia menghela napas panjang. Lalu kembali memutar kuas di palet kayu yang sudah penuh bercak warna.
Anjas adalah warga Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Ia masuk Rutan Bangil pada 2024 karena kasus narkoba.
Hobi menggambar sudah ia tekuni sejak SMP. Bahkan, dia kerap menjadi juara lomba sketsa wajah antarsekolah tingkat kabupaten. ”Dulu kalau ada acara sekolah, saya yang bikin gambar untuk mading,” kenangnya.
Bakatnya kembali mencuat di Rutan Bangil saat Kepala Rutan Bangil Yanuar Rinaldi memintanya membuat sketsa wajah untuk cenderamata program pembinaan kerja sama dengan Pelindo. Waktunya hanya hitungan jam, tapi hasilnya membuat banyak orang terkesan.
”Sejak itu saya yakin, apa yang saya suka masih bisa bermanfaat di sini,” ujarnya.
IPPA FEST sendiri bukan sekadar lomba dan lelang lukisan. Ia menjadi panggung bagi WBP untuk menunjukkan karya kepada khalayak. Sekaligus sarana mengasah keterampilan. Lukisan yang dilelang akan menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian, membuka peluang penghasilan yang sah dan terhormat.
Kepala Rutan Bangil Yanuar Rinaldi mengatakan, partisipasi aktif seperti yang dilakukan Anjas adalah bukti bahwa pembinaan bisa melahirkan insan kreatif. Melalui ajang seperti IPPAFEST ini, ia ingin menunjukkan bahwa kreativitas warga binaan adalah bagian penting dari proses pemasyarakatan.
”Lelang dan lomba ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berkarya dan berproses menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, bakat yang dimiliki warga binaan harus difasilitasi. ”Kalau sudah punya bakat, tugas kami memberi ruang dan dukungan. Kreativitas seperti ini bisa menjadi jalan mereka untuk memperbaiki hidup ke depan,” imbuhnya.
Bagi Anjas, karyanya bukan sekadar jalan untuk mengincar predikat juara. Ada pesan moral yang ia titipkan dalam setiap sapuan kuas. Kuda dalam lukisannya melambangkan kebebasan. Pangeran Diponegoro merupakan sosok yang menggelorakan keberanian dalam memperjuangkan kebenaran.
”Mungkin saya tidak ada apa-apanya dibanding Diponegoro. Tapi saya bisa belajar menjalani hidup dari semangat perjuangannya,” katanya pelan.
Setiap kali menatap lukisan itu, lelaki 49 tahun itu merasa seperti sedang berbicara dengan dirinya di masa depan. Dirinya yang bebas, yang memilih jalan lebih baik. Ia tahu, karya ini tak hanya akan dinilai dari teknik atau komposisi, tapi juga dari cerita yang dibawanya.
Di balik jeruji besi, Anjas menemukan kembali panggilan lama yang sempat ia tinggalkan: melukis. Dan siapa tahu, dari bengkel sederhana ini, lahir jalan baru menuju kebebasan.
Bukan hanya bebas secara fisik, tapi juga bebas dari masa lalu yang kelam. Anjas masih bertahan di kursinya, menambahkan detail kecil di mata kuda. Sebuah goresan terakhir. ”Setiap garis dan warna itu seperti doa,” gumamnya. ”Doa untuk saya sendiri.” (hn)
Editor : Muhammad Fahmi