Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perjalanan Karir Marsma TNI Fajar Adriyanto, Jendral Bintang 1 asal Probolinggo yang Gugur Saat Berlatih

Inneke Agustin • Kamis, 7 Agustus 2025 | 03:40 WIB

 

Proses pemakaman Marsma TNI Fajar Adriyanto. Inset Marsma TNI Fajar Adriyanto semasa hidup.
Proses pemakaman Marsma TNI Fajar Adriyanto. Inset Marsma TNI Fajar Adriyanto semasa hidup.

Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum Marsekal Pertama (Marsma) TNI Fajar Adriyanto di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan/Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Senin (4/8). Jenderal bintang satu ini gugur saat latihan bersama FASI (Federasi Aerosport Seluruh Indonesia), Minggu (3/8) pagi.

INNEKE AGUSTIN, Probolinggo, Radar Bromo

Karangan bunga memenuhi  halaman rumah duka Marsma Fajar. Sejumlah anggota TNI AU, rekan, dan sanak famili tampak sibuk menyiapkan pemakamannya, Senin (4/8).

Lima panglima TNI AU turut hadir dalam pemakamam tersebut. Yakni Marsda TNI Suliono selaku Asops Kasau, Marsda TNI Wayan Superman selaku Askomlek Kasau, Marsma TNI Sri Duto Dhanisworo selaku Dirum Kodiklatau, Marsma TNI Budi Handoyo selaku Dirlatkodiklatau, dan Marsma TNI Joko Winarto selaku IrKodiklatau.

Fajar dimakamkan di TPU Kelurahan Pohsangit Kidul, Kecamatan Kademangan. Sekitar 100 meter dari rumah duka. Ia tutup usia di umur 55 tahun.

"Beliau dimakamkan di sini atas permintaan kedua keluarga. Baik keluarga di Jakarta dan Probolinggo, agar bersanding dan dekat dengan almarhum ayahandanya," ungkap anak asuh almarhum, Dian Lintang Beauty Permatasari, 26.

Marsma Fajar gugur saat latihan bersama FASI. Pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di kawasan Ciampea, Bogor, Jawa Barat.

Saat itu ia menggunakan pesawat latih sipil Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 dengan register PK-S126 milik FASI. Ia duduk sebagai pilot, sementara rekannya, Roni sebagai co-pilot.

Penerbangan ini merupakan misi latihan profisiensi untuk pembinaan dan pemeliharaan kemampuan personel. Sayangnya misi latihan ini berujung pada tragedi yang berakhir fatal.

Pesawat lepas landas dari Landasan Udara Atang Sendjaja (Lanud ATS) pukul 09.08. Pesawat telah mengantongi Surat Izin Terbang (SIT) nomor SIT/1484/VIII/2025.

Pesawat dinyatakan laik terbang dan merupakan sortie kedua pada hari itu. Namun selang 11 menit kemudian, pesawat hilang kontak dan ditemukan di sekitar TPU Astana, Desa Benteng, Ciampea.

"Sementara pihak keluarga baru diinformasikan terkait kecelakaan tersebut 15 menit setelahnya. Jadi sekitar pukul 09.30," ujar Bea, panggilannya.

Kedua korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. M. Hassan Toto dan tiba di sana sekitar pukul 10.20. Namun, Marsma Fajar dinyatakan gugur setibanya di rumah sakit. Sedangkan rekannya, mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan.

Jenazah almarhum lantas dibawa ke rumah duka di Jalan Triloka XI Blok K, Komplek TNI AU, kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

"Kemudian hari ini diberangkatkan dari Lanud Halim Perdanakusuma menggunakan Hercules sekitar pukul 06.00 menuju Malang. Lalu baru ke Kota Probolinggo melewati jalur darat untuk disemayamkan," tutur Bea.

Jenazah almarhum baru tiba di pemakaman sekitar pukul 10.40 di Kota Probolinggo. Diiringi tembakan salvo, Marsma Fajar pun disemayamkan.

Ia meninggalkan seorang istri, Dewi Kurnia dan dua orang anak. Yakni Naufal Firdaus Sandy Kusuma dan Akmal Fadilah Randy Kusuma.

Diketahui Marsma Fajar alumni SMAN 1 Malang dan melanjutkan ke Sekolah Kajian Pertahanan dan Strategi (SKPS) Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN) pada 2012.

Almarhum salah satu lulusan AAU 1992 dan sebagai penerbang tempur F-16 dengan call sign "Red Wolf".

Sementara pendidikan di dunia militernya ditempuh dari Akademi Angkatan Udara pada 1992, Sekbang Angkatan ke-48 tahun 1995, Konversi F-16 Fighting Falcon tahun 1997, Sekolah Instruktur Penerbangan tahun 2003. Lalu Seskoau Angkatan ke-43 tahun 2006, Sesko TNI pada 2015, dan PPSA A-XXIII Lemhannas RI pada 2021.

Marsma Fajar juga pernah mengemban berbagai jabatan strategis. Mulai dari Komandan Skuadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Danlanud Manuhua pada 2017, Kadis Penerangan TNI AU 2019-2020, Kapuspotdirga, Aspotdirga Kaskoopsudnas. Terakhir menjabat sebagai Kapoksahli Kodiklatau. "Baru disertijab tahun 2024 lalu," ungkap Bea.

Marsma Fajar juga pernah terlibat dalam peristiwa udara dengan pesawat F/A-18 Hornet Angkatan Laut Amerika Serikat di Langit Bawean tahun 2003. Almarhum juga menorehkan banyak prestasi selama berkarir di dunia militer.

Meliputi Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Swa Bhuwana Paksa Naraya, Satyalancana Kesetiaan 24 tahun, Satyalencana Kesetiaana 8 tahun, Satyalancana G.O.M VII, Satyalencana Seroja, Satyalancana Dharma Nusa, Satyalancana Wira Nusa, Satyalancana Wira Dharma,. Lalu Satyalancana Wira Siaga, Satyalancana Dwidya Sistha, Satyalancana Wira Karya, dan Satyalancana Kebhaktian Sosial.

Menurut Bea, almarhum merupakan sosok yang penyayang keluarga. Ia juga sangat sering pulang ke Kota Probolinggo. "Terakhir baru bulan lalu pulang ke Kota Probolinggo karena ada temu keluarga," ujarnya.

Tak hanya itu, ia terkenal supel dan cerdas. Meski demikian Bea mengatakan tak ada pesan khusus sebelum almarhum pergi.

"Tak ada pesan apa-apa karena memang tiap harinya sering mengobrol. Beliau sering memberi saya motivasi untuk terus percaya diri dan maju. Beliau juga sangat supel orangnya, tidak pernah membeda-bedakan orang. Semua orang diperlakukan sangat baik oleh beliau," pungkasnya. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#kademangan #kecelakaan pesawat #Jendral #bogor #pohsangit kidul #fasi #marsma fajar #makam #probolinggo #ciampea #tni