Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Saat Warga Binaan Lapas Probolinggo Mengikuti Perkemahan Satya Dharma Bhakti yang Sebelumnya Diseleksi dan Punya Latar Belakang Berbeda

Inneke Agustin • Rabu, 23 Juli 2025 | 19:00 WIB
SEMANGAT: Kalapas Probolinggo, Dadang Rais Saputro (tengah) bersama lima warga binaan di kegiatan Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan Tahun 2025 d
SEMANGAT: Kalapas Probolinggo, Dadang Rais Saputro (tengah) bersama lima warga binaan di kegiatan Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan Tahun 2025 d

Siapa bilang aktivitas di dalam penjara hanya berkutat melakoni hukuman fisik semata. Di dalamnya juga berisikan kegiatan positif, seperti pramuka. Belum lama ini misalnya, sejumlah warga binaan di Lapas Probolinggo mengikuti perkemahan.

INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo

Matahari baru saja merangkak tinggi di langit Surabaya, namun semangat di halaman Lapas Kelas I Surabaya telah menyala sejak pagi. Suasana penuh haru dan semangat membara menyelimuti pembukaan Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan Tahun 2025, Senin (21/7).

Di balik barisan rapi para peserta, lima sosok dari Lapas Kelas IIB Probolinggo turut berdiri tegak, mengenakan seragam pramuka dengan dada terbusung. Mereka adalah warga binaan yang hari itu mengenakan baju pramuka.

Perkemahan akbar ini digelar selama tiga hari penuh dan diikuti oleh 38 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Jawa Timur.

Masing-masing UPT mengirimkan lima warga binaan terpilih. Sebuah langkah monumental, menjadikan perkemahan ini tak hanya ajang seremonial. Melainkan ruang pembinaan jiwa—berbalut kedisiplinan, kebersamaan, dan harapan baru.

Kepala Lapas Kelas I Malang, Teguh Pamuji, membuka kegiatan dengan hikmat. Dentang gong yang ia pukul menggema, menandai dimulainya perkemahan.

Sebuah prosesi penyematan tanda peserta pun berlangsung khidmat, menjadi simbol keterlibatan penuh warga binaan dalam kegiatan ini.

Lima warga binaan dari Lapas Probolinggo, masing-masing memiliki latar belakang kasus yang berbeda. Ada yang tersangkut kasus narkotika, penganiayaan, hingga kekerasan terhadap anak.

Namun mereka memiliki satu benang merah—semangat untuk berubah.

Mereka dipilih dengan seleksi yang mempertimbangkan minat, kedisiplinan, dan kemampuan dasar kepramukaan. Bahkan salah satu dari mereka, adalah mantan pelatih pramuka.

“Ia yang kini menjadi pembina dadakan bagi keempat temannya,” ujar Reky Arif Rahman, Humas Lapas Kelas IIB Probolinggo.

Jauh dari panggung kehormatan, mereka berlatih tanpa lelah selama sepekan. Belajar semaphore, menghafal sandi morse, mempraktikkan pionering, Dasa Dharma, Tri Satya, hingga mendirikan tenda.

Lima warga binaan di kegiatan Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan Tahun 2025 di Lapas Kelas I Surabaya, Senin (21/7).
Lima warga binaan di kegiatan Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan Tahun 2025 di Lapas Kelas I Surabaya, Senin (21/7).

“Ini bukan tentang menang atau kalah dalam perlombaan. Tapi bagaimana mereka belajar menghargai proses, kekompakan, dan membangun kembali harapan,” ujar Reky.

Kegiatan ini menjadi momentum yang tak biasa. Di tengah keterbatasan ruang dan waktu, mereka mendapat ruang tumbuh yang utuh.

Dalam perkemahan ini, para warga binaan tak hanya ditempa secara fisik. Mereka juga diberi materi kebangsaan, seni budaya, hingga sesi pengembangan diri.

Kepala Lapas Probolinggo, Dadang Rais Saputro, menegaskan bahwa keterlibatan warga binaan dalam kegiatan ini adalah bagian dari program pembinaan inovatif yang menyentuh sisi kemanusiaan terdalam.

"Kami percaya bahwa kesempatan untuk berinteraksi, belajar, dan berpartisipasi dalam kegiatan positif seperti ini sangat penting bagi proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial mereka, hal ini juga menunjukkan bahwa warga binaan kami memiliki potensi luar biasa dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik", terang Kalapas.

Kelima warga binaan dengan pantauan tiga petugas pengawal, turut menyemai harapan di bumi pramuka. Mereka tak lagi sekadar angka dalam catatan kriminal. Tetapi wajah-wajah yang sedang memahat ulang takdir.

Kegiatan seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan para WBP dengan masa depan yang lebih cerah. Dari jalan sunyi yang pernah mereka tapaki, mereka kini memiliki arah baru—menuju hidup yang lebih bermakna dan bertanggung jawab.

Perkemahan ini bukan pelarian. Kegiatan ini adalah panggung kedua. Di sinilah warga binaan diajak berdiri sebagai manusia seutuhnya. Belajar dari alam, dari sesama, dan dari sunyi malam di tenda yang sederhana.

Diharapkan, pengalaman selama perkemahan ini akan memberikan bekal berharga bagi para warga binaan Lapas Probolinggo, tidak hanya dalam mengembangkan keterampilan dan wawasan. Tetapi juga dalam memupuk rasa percaya diri dan optimisme untuk masa depan yang lebih cerah setelah kembali ke masyarakat.

“Sepulangnya nanti, kami ingin mereka membawa lebih dari sekadar sertifikat. Kami ingin mereka pulang membawa cahaya kecil, yang suatu hari akan mereka nyalakan di tengah masyarakat,” ujar Dadang. (fun)

 

Editor : Abdul Wahid
#perkemahan #lapas probolinggo #pramuka #narapidana