Lelaki bujangan berbadan tinggi itu sekilas tampak seperti model. Namun, jangan salah. Setiap hari dia berdinas sebagai anggota Polri di Polres Pasuruan. Badannya yang tegap, merupakan tempaan bertahun-tahun dari olahraga karate yang didalaminya.
Rizal Fahmi Syatori , Bangil, Radar Bromo
Bripda Ahmad Bintang Kusnan sedang duduk di depan laptop siang itu, di sudut Unit II Tindak Pidana Ekonomi Satreskrim Polres Pasuruan. Lelaki 20 tahun itu memeriksa berkas demi berkas dengan mata yang fokus dan tangan yang cekatan.
Sejak menjadi anggota Polri pada Januari 2024, dia ditugaskan sebagai penyidik pembantu. Di kantor, dia berkutat dengan sejumlah kasus.
Namun, di balik itu, ada sosok lain dalam dirinya—seorang atlet karate. Darah atlet mengalir sejak kecil, kala ia mulai menekuni karate saat kelas III sekolah dasar di Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.
"Awalnya ingin bisa membela diri. Kemudian saya pilih karate, sebab teknik karate cukup lengkap. Ada teknik bantingan, pukulan, dan tendangan,” terang anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Duduk Budisatriyo dan Ruslina Fadila itu.
Lahir dan besar di Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Bintang (panggilannya) mengenang masa kecilnya dengan senyum mengembang. Baginya, karate bukan sekadar olahraga.
Ia adalah jalan hidup—disiplin, kekuatan, dan ketenangan berpadu menjadi satu. Kini, sabuk hitam DAN I telah melekat di pinggangnya, menjadi simbol perjalanan panjang yang ia tempuh dengan peluh dan keteguhan hati.
Sejak masa sekolah, namanya kerap muncul dalam daftar juara kejuaraan antarpelajar, mulai dari OS2N hingga Popda. Ia tak pernah jauh dari podium juara.
Keuletannya tak memudar meski kini ia menyandang pangkat brigadir polisi dua. Dengan waktu yang terbatas, Bintang yang memiliki tinggi badan 178 cm dan berat 77 kg itu, tetap menyisihkan dua kali dalam sepekan untuk berlatih di Polda Jawa Timur.
Latihan itu tak singkat tentu saja. Tiga hingga empat jam lamanya, membakar semangat dan menjaga ketajaman geraknya.
Kiprah Bintang di arena resmi tak bisa dipandang sebelah mata. Pada ajang Porprov IX Jawa Timur 2025 di Malang, ia memperkuat kontingen Kabupaten Mojokerto. Di sini, dia meraih medali perunggu di kelas kumite perorangan -84 kilogram.
Untuk mengikuti Porprov IX Jatim 2025 itu, dia bahkan harus latihan rutin setiap hari selama sekitar tiga bulan. Sekaligus mengikuti training camp (TC). Beruntung, institusi tempatnya berdinas selalu memberikan kemudahan sekaligus support selama persiapan porprov itu.
"Selain orang tua, Alhamdulillah pimpinan mulai dari Kapolres Pasuruan, Kasatreskrim, Kanit, serta rekan dan senior semuanya mendukung," tuturnya.
Sebelumnya, pada April 2025, dia memborong medali pada Kejuaraan Nasional Karate Piala Pangdivif 2 Kostrad. Yaitu, medali emas di kelas senior kumite perorangan -84 kilogram dan medali perunggu di kelas kumite beregu TNI-Polri.
Namun, tak semua kisah di atas matras berakhir dengan tepuk tangan. Di Porprov VIII Jawa Timur, saat bertarung di final kumite -84 kilogram, sebuah cedera kaki membuatnya didiskualifikasi.
Emas yang diidamkan harus digantikan dengan medali perak. Tapi alih-alih kecewa, ia menyimpan momen itu sebagai pelajaran berharga. "Itu pengalaman yang tidak saya lupakan," ucapnya pelan.
Dalam kesehariannya di Polres Pasuruan, ia tak hanya dikenal sebagai aparat yang berdedikasi tinggi, tapi juga pribadi yang hangat dan menghibur. "Orangnya humoris, humble. Meski sibuk, tetap menyempatkan diri latihan. Kami semua mendukungnya," ujar Ipda Eko Hadi Saputro, kanit II Satreskrim Polres Pasuruan.
Bripda Bintang adalah gambaran keseimbangan antara pengabdian dan impian. Ia berjanji akan terus menekuni karate selama kemampuan masih mengizinkan.
Bahkan, ia telah menata cita-cita ke depan yaitu mendirikan tempat latihan karate miliknya sendiri. Tempat generasi baru bisa tumbuh dalam semangat yang sama.
Antara tugas dan tatami, antara seragam dan sabuk hitam, Bripda Ahmad Bintang Kusnan telah membuktikan bahwa mengabdi pada negara tak menghalangi langkah untuk terus berprestasi. Dalam diam ruang kantor dan riuhnya kompetisi, ia tetap setia pada jalan yang telah dipilih sejak kecil: menjadi pelindung, sekaligus pendekar. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi