Semasa hidupnya, Anggun, 27, salah satu warga Kabupaten Probolinggo ini tak menyangka bahwa mimpi masa kecilnya bisa tercapai. Lewat tekad dan usaha yang kuat, dia banyak mendapat pengalaman setelah beradu akting di film Foufo.
INAYAH PUTRI MAHARANI, Probolinggo, Radar Bromo
Status Anggun Dwi Lestari adalah ibu satu anak yang tinggal asal Desa Patokan, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.
Dia baru saja menuntaskan adegan di film Foufo yang digarap Bayu Skak. Film Film ini memadukan elemen fiksi ilmiah, komedi, dan drama keluarga dengan cita rasa lokal dengan berlatar masyarakat Madura.
Sebelum menjadi pemeran, Anggun dikenal sebagai salah seorang influencer asal Probolinggo.
Dia banyak membuat video tentang makanan, kegiatan masak dan reiview film di akun sosial media miliknya.
Hingga suatu hari Anggun menemukan sebuah video yang menginformasikan bahwa Bayu Skak akan segera membuat film baru dan tengah mencari pemeran. Merasa tertarik, Anggun kemudian memutuskan untuk ikut open casting di Surabaya.
Dia sendiri sebetulnya sudah beberapa kali coba casting film, namun Anggun belum beruntung. Tapi saat open casting film Foufo saat itu, yang menggugah minat Anggun untuk mencoba adalah karena filmnya bertemakan Madura-Jawa.
Sehingga, peran yang dibutuhkan adalah orang yang fasih berbahasa Jawa-Madura. Tentu ini dikuasai Anggun hingga dia mantab berangkat ke Surabaya untuk ikut casting.
“Beberapa casting online sudah saya ikuti. Kemudian ada open casting offline tapi jaraknya lumayan dekat di Surabaya jadi saya coba deh,” ujarnya.
Ada beberapa tahapan casting, semuanya lolos. Anggun terpilih. Padahal saat ituada 2500 orang yang ikut. Namun yang dipilih hanya 8 orang. Nah, Anggun adalah salah satunya.
Selama proses syuting, dia beradu peran dengan banyak artis yang berasal dari berbagai daerah, termasuk dari Pulau Madura itu sendiri.
Salah satu artis yang sudah banyak dikenal yaitu Tretan Muslim dan Habib Ja’far yang juga beradu peran dengan Anggun.
Anggun mengaku tak percaya, namun begitu bangga. Dia pun akhirnya berangkat ke Jakarta untuk melakukan segala persiapan syuting. Di Karantina itu, Anggun belajar banyak mulai dari reading hingga mengakrabkan diri ke peserta lainnya.
“Di sana belajar banyak, sekaligus kenalan dengan aktor-aktor lain. Mereka sangat welcome dan banyak mengajari. Jadi kami tidak canggung,” ungkapnya.
Di film Foufo, Anggun berperan sebagai Siti, salah satu perempuan bersuku Madura yang tinggal di Surabaya utara. Dalam perannya, dia menggunakan tiga bahasa yakni Indonesia, Madura dan Jawa.
Melihat latar belakangnya, kemampuan memainkan peran bukan hanya anugerah. Sebab Anggun sebenarnya adalah anak teater semasa kuliahnya. Dari situlah skill itu didapat.
Mendapat kesempatan besar ini, Anggun tentu berbangga sebab bisa kembali meraih mimpinya di dunia acting.
“Setelah sekian lama tidak menggeluti dunia itu, akhirnya kemarin dapat kesempatan. Saya senang sekali, jadi selama proses syuting sangat enjoy ditambah temannya juga baik dan ramah,” ungkapnya.
Dari Probolinggo sendiri kata Anggun, dia tidak sendiri, yakni ada juga pelawak senior Sukur yang ikut berlakon di film tersebut.
Selama proses syuting yang memakan waktu sekitar 1,5 bulan itu, Anggun harus rela berpisah dengan sang anak.
Awalnya dia mengaku berat meninggalkan putrinya yang baru berusia sekitar 5 tahun itu. Namun atas support suami dan keluarganya, dia pun memantapkan hati untuk berangkat.
“Pas mau casting itu anak saya demam, tapi kata suami berangkat saja. Selam syuting juga sering nangis karena pertama kali pisah dengan anak, beruntung keluarga mensupport,” ungkapnya.
Selama proses syuting, Anggun mengaku, tidak mengalami kendala berarti selain kerinduannya dengan sang anak. Semua kru dan pemain lain sangat merangkulnya kata Anggun, sehingga dia pun menikmati proses syuting.
Dia pun berharap dengan adanya film ini, semakin membuka peluang lebih besar untuk anak-anak daerah khususnya anak Probolinggo untuk dapat berkiprah di industri film.
Menurutnya, kemampuan orang Probolinggo sebetulnya ada, sayangnya tidak ada wadah untuk menyalurkan kreatifitas itu.
“Saya berharap semakin membuka peluang. Karena saya yakin, anak Probolinggo itu bertalenta,” beber Anggun. (fun)
Editor : Abdul Wahid