Dari balik jeruji besi, asa dirajut perlahan. Harapan ditumbuhkan satu per satu. Seperti pagi yang cerah pada Rabu (25/6), di Lapas Kelas IIB Probolinggo. Sekelompok warga binaan pemasyarakatan (WBP) tampak serius mengaduk cairan bening dalam wadah plastik yang sebentar lagi akan berubah menjadi sabun cuci piring.
INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo.
Pelatihan kerja di Lapas tak sekadar aktivitas pengisi waktu. Ia adalah ruang belajar, tempat menanam kemandirian. Sekaligus bekal untuk kehidupan setelah masa pidana para WBP usai.
Karena itu, pelatihan kerja rutin digelar di Lapas Kelas IIB Probolinggo. Seperti Rabu (25/6) pekan lalu, dilaksanakan pelatihan membuat sabun alami dan ramah lingkungan bekerja sama dengan pihak ketiga. Ini merupakan sebuah keterampilan yang tak hanya bernilai ekonomis, tapi juga berpihak pada kelestarian bumi.
Humas Lapas Kelas IIB Probolinggo Reky Arif Rahman menjelaskan, pelatihan ini dirancang dengan pendekatan yang komprehensif. Para WBP tak hanya diajak memahami teori dasar, tetapi langsung diajak praktik. Mulai dari proses pemilihan bahan baku alami, teknik pencampuran yang aman, hingga pengemasan produk secara menarik dan siap jual.
“Diharapkan dari sini, para warga binaan bisa mengembangkan produk sabun yang inovatif dan layak dijual di pasaran. Kami ingin menanamkan bahwa setiap orang, berhak memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Pelatihan ini diikuti oleh 30 WBP. Mereka dibagi dalam enam kelompok kecil agar lebih fokus dan efisien. Masing-masing kelompok bertugas memproduksi sabun cuci piring sebanyak dua liter.
Bahannya cukup sederhana dan mudah diperoleh. Namun, tetap memiliki kekuatan pembersih yang efektif walaupun tanpa menggunakan soda api.
“Kami memang tidak menggunakan soda api, sebab membahayakan. Sehingga pembuatan sabun ini prosesnya aman bagi kulit,” kata Reky.
Bahan-bahan yang digunakan antara lain Texapon (SLES) 200 gram. Ini adalah turunan minyak sawit yang berfungsi sebagai pembentuk busa. Kemudian CAPB (Cocamidopropyl Betaine) 80 gram, berfungsi sebagai penguat busa, sekaligus penghalus kulit.
Lalu ada Citric Acid 10 gram sebagai pengatur pH agar sabun tetap stabil dan tidak merusak permukaan perabot. Ada pula aroma lemon 10 mililiter untuk memberi kesegaran khas sabun cuci piring.
Kemudian pewarna makanan secukupnya, agar sabun tampak menarik secara visual. Terakhir garam dapur 120 gram sebagai pengental alami agar sabun tidak terlalu encer.
Semua bahan itu dicampur dalam wadah besar. Dimulai dari mencampurkan Texapon dan CAPB, kemudian ditambahkan air secukupnya. Setelah larut sempurna, Citric Acid dan garam dimasukkan bertahap sambil terus diaduk. Terakhir, aroma lemon dan pewarna diteteskan untuk memperindah dan memberi karakter khas pada sabun tersebut.
“Hanya butuh waktu sekitar dua jam dari awal sampai akhir pelatihan. Dan hasilnya bisa langsung digunakan. Sabun tersebut kami kemas dalam botol plastik agar lebih menarik minat pembeli,” ujar Reky.
Sabun-sabun ini rencananya akan dipasarkan saat kegiatan Car Free Day (CFD) di Kota Probolinggo. Namun, untuk sementara Lapas masih menghitung harga jual berdasarkan biaya bahan baku dan produksi. Langkah ini sekaligus menjadi pembelajaran bisnis dasar bagi para WBP.
“Untuk saat ini, pelatihan difokuskan pada sabun cuci piring. Sebab, proses pembuatannya relatif mudah dan tingkat kebutuhan masyarakat tinggi. Namun ke depan, tidak menutup kemungkinan dikembangkan produk sabun mandi atau sabun cair serbaguna lainnya,” terang Reky.
Kepala Lapas Kelas IIB Probolinggo Dadang Rais Saputro menyampaikan, pelatihan seperti ini adalah bagian dari upaya besar untuk membentuk karakter warga binaan. Sehingga, mereka bisa mandiri, bertanggung jawab, dan produktif.
“Kami berkomitmen penuh untuk memberikan bekal keterampilan yang relevan dan dibutuhkan pasar kepada WBP. Pelatihan pembuatan sabun ramah lingkungan ini bukan hanya tentang menciptakan produk. Tapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan,” tuturnya penuh semangat.
Pelatihan ini menjadi salah satu bukti bahwa lembaga pemasyarakatan tak melulu tentang hukuman, melainkan pembinaan. Bahwa dari tetesan sabun yang mereka hasilkan, mengalir pula tetesan semangat untuk bangkit dan tak kembali pada gelapnya masa lalu. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi