KADES Galih Eko Miwanto di Kecamatan Pasrepan menyadari bahwa rusaknya hutan dan lahan merupakan salah satu penyebab hilangnya sumber mata air dan sulitnya akses air bersih di desanya. Galih pun bangkit dan aktif melakukan konservasi hutan dan lahan. Salah satu caranya, menggunakan tanah desa untuk pengembangan hutan lestari.
Sejak tahun 2021, upaya konservasi hutan dan lahan mulai dilakukan di Desa Galih bersama Yayasan Sekola Konang Indonesia (YSKI). Lalu pada 2022, Pemerintah Desa Galih menggelar berbagai musyawarah dusun hingga rembuk desa yang difasilitasi Yayasan Sekola Konang Indonesia melalui support Program Konservasi CSR Aqua Keboncandi.
Dari sini, kemudian menghasilkan Dokumen Analisis Perikehidupan Lestari (SLA), hingga terbentuknya Kelompok Masyarakat Peduli Sungai (KMPS) Pranata Desa Galih sebagai kelompok mitra konservasi TKPSDA WS Welang Rejoso. KMPS dibentuk untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pengurangan risiko bencana kekeringan melalui program standarisasi lahan di hulu DAS Rejoso.
Tugas utamanya yaitu memastikan setiap hektare lahan memiliki 400 tegakan sebagai potensi tutupan lahan. Juga penempatan 100 meter rorak sebagai standardisasi minimum upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Melalui upaya-upaya itu, Pemdes Galih memilih peran untuk merehabilitasi hutan dan lahan melalui pendekatan agroforestry (kebun campur) dan perlindungan keanekaragaman hayati. Sehingga, dapat berkontribusi dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi lokal dari sektor utama yaitu perkebunan. Mengingat, Kecamatan Pasrepan sebagai salah satu sentra agrobisnis di Kabupaten Pasuruan.
Pemdes Galih bahkan menyediakan lahan aset desa seluas 11 hektare sebagai pusat pengembangan Hutan Lestari berbasis peningkatan keanekaragaman hayati. Ditambah dengan partisipasi 5 hektare lahan milik masyarakat yang berkomitmen menerapkan standardisasi lahan yang dimaksud di atas.
Belasan hektare tanah bengkok yang biasa disebut Pecaton itu, menurut Kades Galih Eko Miwanto, awalnya adalah lahan tidak produktif. Oleh warga, lahan ini ditanami rumput dan hasilnya untuk pakan ternak.
Sebagai langkah awal, sudah dilakukan sensus tegakan dan deliniasi area. Yaitu, menandai lokasi penanaman dengan GPS dan dihubungkan dengan basis data geospasial pada Google Map dan Google Earth.
“Cara ini dilakukan untuk membentuk basis data. Sehingga, nanti program ini bisa dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat setelah proses pendampingan selesai,” terang Wahyu Widodo, 37, penanggung jawab dan pendamping Program Konservasi Yayasan Sekola Konang Indonesia.
Selanjutnya, dilakukan asesmen Keanekaragaman Hayati, bekerja sama dengan tim asesor untuk mendapatkan analisis indek keragaman hayati. Tujuannya untuk mengetahui jumlah dan jenis flora dan fauna yang ada di Galih. Termasuk status konservasinya.
“Selama asesmen itu, ditemukan Tupai Kekes (Tupaia Javanica) di Desa Galih yang statusnya termasuk red list menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN),” lanjutnya.
Selain itu, berdasarkan sensus tegakan diketahui ada seribu tegakan/pohon di Pecaton. Sehingga, secara bertahap akan dilakukan penambahan populasi vegetasi campur sebanyak 3000 tegakan lagi.
Camat Pasrepan R. Didik Subihandoko, S.Kom., M. AP menjelaskan, program yang dilakukan Pemdes Galih saat ini sejalan dengan program pemerintah kecamatan. Yaitu, menjadikan Pasrepan sebagai Kecamatan Wisata Penunjang menuju Gunung Bromo. Termasuk di antaranya Desa Galih yang punya potensi wisata air terjun.
”Sejak ditunjuk sebagai Camat Pasrepan oleh Bapak Bupati, kami memang diminta untuk bersinergi dengan semua kepala desa. Karena itu, pada intinya kami mendukung kegiatan di Galih,” terangnya.
Dukungan pun diberikan Pemerintah Kecamatan Pasrepan dengan beragam bentuk. Di antaranya, bersinergi dengan semua pihak untuk menjaga lingkungan. Mulai Karang Taruna kecamatan, organisasi kepemudaan dan yang lain.
Kedua, mengusulkan perbaikan jalan menuju Desa Galih yang kondisinya rusak di beberapa titik. Usulan ini sudah disampikan ke DPRD Kabupaten Pasuruan sejak 2024. Didik juga berharap, Pemkab Pasuruan memberikan perhatian untuk perbaikan jalan ini.
”Kami juga mengupayakan bazar duriandan petik durian di Petung dan Sibon untuk mewujudkan Kecamatan Wisata. InsyaAllah nanti ke arah Desa Galih juga demikian,” sampainya.
Ketika Hutan Perlahan Hilang, Sumber Air Bersih Jauh Berkurang
Desa Galih, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, berada di hulu daerah aliran sungai (DAS) Rejoso. Galih dikenal sebagai wilayah yang cukup kering dan berbatu. Luas desa mencapai 1.142,5 ha, terletak di ketinggian antara 249 sampai 1.100 mdpl dengan topografi berlereng dan tanah kapur yang cepat kering saat musim kemarau tiba.
Karena kondisi geografisnya yang cukup kering, sedikit sekali persawahan di Desa Galih. Itu pun jenisnya merupakan persawahan sistem tadah hujan.
Desa Galih mayoritas berupa hutan. Mulai hutan rakyat, hutan lindung, dan hutan produksi. Semua hutan itu berperan kompleks sebagai sumber pendapatan masyarakat, penyangga ekologi, dan habitat satwa.
Karena itu, masyarakat Galih sendiri mayoritas memiliki profesi sebagai peternak dan berkebun. Umumnya, hampir semua rumah di Galih memiliki seekor sapi dan setidaknya empat ekor kambing.
Ada pun perkebunan di Galih mayoritas ditanami durian sebagai komoditas utama. Durian bahkan menjadi produk unggulan desa Galih hingga saat ini. Selain itu, ada alpukat, mangga, dan pisang. Ada pula pete, kopi, sengon, dan mahoni yang ditanam di hutan rakyat.
Kepala Desa (Kades) Galih Eko Miwanto menjelaskan, sekitar 20 tahun lalu hasil perkebunan masyarakat Desa Galih terbilang bagus. Dengan kondisi lingkungan dan ekologi yang masih baik, hutan rakyat yang umumnya ditanami durian, memberikan sumber pendapatan yang sangat baik.
“Waktu saya masih kecil, masih banyak hutan di Galih. Karena ada banyak hutan, jadi ada banyak sumber air yang cukup besar. Hutan kan menjaga ketersediaan sumber air,” terangnya.
Namun, beberapa tahun terakhir kondisi lingkungan berubah drastis. Penggundulan hutan dan alih fungsi lahan terjadi. Tutupan lahan berkurang drastis. Tidak ada lagi barongan atau hutan bambu yang dulu bisa menyediakan rebung untuk masyarakat.
“Dulu ada barongan. Masyarakat bisa mengambil rebung di barongan. Bisa dibuat sayur. Sekarang tidak ada,” tutur Eko.
Berbagai hal tersebut mengurangi tingkat resapan air, sehingga juga mengurangi ketersediaan sumber air. Menurut Eko, ketersediaan sumber air di Galih berkurang hingga 50 persen. Tanah pun menjadi lebih kering.
Ini ditandai dengan makin sulitnya masyarakat mencari rumput. Padahal, rumput sangat dibutuhkan untuk pakan ternak milik warga setempat.
Di sisi lain, populasi masyarakat bertambah banyak. Otomatis, kebutuhan akan ketersediaan air bersih juga bertambah. Sementara sumber air bersih makin berkurang.
Memang, Galih tidak termasuk desa yang mengalami kekeringan rutin saat musim kemarau di Kabupaten Pasuruan. Namun, sulit untuk mendapat air bersih di Galih. Tandon air yang ada di desa itu memang masih mengalirkan air. Namun, debitnya jauh berkurang. Air mengalir kecil.
“Dulu, masyarakat Galih mudah mendapat air bersih. Sekarang harus antre sampai malam untuk dapat air bersih,” terangnya.
Eko berharap, ada program penghijauan atau penanaman kembali hutan yang gundul. Bila hutan mulai hijau, persediaan air tanah akan makin banyak. Sehingga, sumber air akan kembali muncul.
“Saya pinginnya, ada program penghijauan dan penanaman kembali hutan yang gundul. Jadi nanti sumber air akan besar lagi dan juga mencegah longsor,” tuturnya. (hn/*)
Editor : Muhammad Fahmi