PEMBANGUNAN tidak sekadar tentang membangun gedung dan jalan. Namun, juga membangun budaya kerja dan pola pikir birokrasi. Inilah yang sedang diwujudkan Kota Pasuruan saat ini: keterbukaan informasi publik. Dengan keterbukaan, Kota Pasuruan membangun kepercayaan melalui sistem yang responsif dan komunikasi yang dirawat.
Tak ada lagi ruang gelap dalam pemerintahan. Setidaknya, itu yang dipegang teguh Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo. Bagi dia, keterbukaan informasi bukan hanya tuntutan zaman, tapi juga hak masyarakat.
“Hari ini era keterbukaan tanpa ragu. Pemerintah itu tugasnya melayani publik. Jadi nggak ada alasan untuk menutup-nutupi informasi,” tegasnya dalam wawancara khusus di ruang kerjanya.
Sejak menjabat, Adi Wibowo gencar mendorong budaya transparansi. Mulai dari penyajian data OPD, pengadaan barang dan jasa, hingga sistem pengaduan publik yang bisa diakses lewat teknologi. Semua dijalankan dengan semangat melayani dan transparasi.
Pemerintah Kota Pasuruan mendorong setiap OPD membuka akses data dan program secara digital. Tidak harus tatap muka, tapi cukup via sistem. Semua data dirancang terintegrasi, dari RTRW, pengadaan, hingga pelaporan pembangunan.
SIGAP: Laporan Jalan Rusak Tak Perlu Tunggu Hari
Salah satu terobosan yang disiapkan Wali Kota Adi Wibowo adalah SIGAP, Sistem Pengaduan Infrastruktur Cepat dan Responsif. Lewat SIGAP, laporan warga tentang jalan berlubang, sampai lampu jalan mati langsung masuk ke dashboard Dinas PUPR, camat, sampai lurah setempat.
“Kalau ada laporan, maksimal dua hari harus ditindaklanjuti. Sudah ada Perwalinya, dan itu wajib,” tegasnya.
SIGAP bukan sekadar inovasi. Di baliknya ada struktur tanggung jawab yang jelas. Lurah dan camat jadi garda depan, bukan hanya Dinas PUPR. Mereka wajib memetakan infrastruktur di wilayahnya tiap hari. Tak boleh menunggu warga lapor dulu.
SIGAP ini juga makin melengkapi E-sambat. Sebuah aplikasi laporan pengaduan masyarakat, termasuk aplikasi pengaduan Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional - Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (SP4N- LAPOR!).
Menurut Mas Adi (panggilannya), Kota Pasuruan tidak hanya membenahi jalan dan pasar. Namun, juga membangun kepercayaan. Lewat keterbukaan, sistem yang responsif, serta komunikasi yang dirawat, Pasuruan perlahan menjelma jadi kota yang hidup.
“Kami tidak bisa kerja sendiri. Pemerintah butuh dukungan publik. Dan dukungan itu lahir dari kepercayaan. Maka kuncinya adalah keterbukaan,” terangnya.
Komitmen Pemkot Pasuruan untuk mewujudkan Keterbukaan Informasi Publik, diganjar sebagai Kota Informatif terbaik ke-7 se-Jawa Timur. Kota Pasuruan berhasil meraih skor 94,74.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen Pemkot Pasuruan dalam menciptakan keterbukaan informasi publik yang semakin baik dan transparan.
Dorong Wisata Baru, Salah Satunya Wisata Sungai dan Mangrove: Amazon-nya Pasuruan
Kota Pasuruan memang bukan kota wisata besar. Tapi Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo tak menyerah. Ia menyulap potensi alam biasa jadi destinasi luar biasa. Salah satunya adalah susur sungai yang membelah kota.
“Kota Pasuruan ini dikelilingi oleh tiga sungai besar. Airnya jernih, diapit mangrove. Kalau menyusuri sungai, rasanya seperti Amazon kecil,” ungkapnya.
Wisata susur sungai ini sedang dipetakan untuk dikembangkan. Tujuannya, menghadirkan wisata alternatif yang tidak hanya ramai, tapi juga berdampak ekonomi.
“Wisata religi kita sudah bagus, tapi orang cuma datang ziarah, lalu pulang. Kita butuh tambahan destinasi yang bisa jadi tempat belanja, kuliner, dan tinggal lebih lama,” jelasnya.
UMKM Tak Lagi Jadi Penggembira
Di bidang ekonomi, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo juga menggandeng waralaba seperti Alfamart dan Indomaret untuk membantu UMKM. Setiap toko modern diwajibkan menyediakan gerai khusus untuk produk UMKM lokal. Jika tidak, izin investasi tak akan diterbitkan.
“Izin itu dari kami. Maka kami wajibkan ada pembinaan UMKM dan penyerapan produk lokal di setiap gerai mereka,” ujarnya.
Produk dari KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) juga diarahkan masuk ke jaringan ritel. Pemerintah tak hanya mendorong budi daya, tapi juga menyiapkan pasarnya.
Dari keterbukaan informasi, inovasi SIGAP, kemitraan UMKM dengan waralaba, hingga wisata berbasis sungai, semua menunjukkan bahwa Kota Pasuruan sedang bergerak. Tidak hanya membangun gedung dan jalan, tapi juga budaya kerja dan pola pikir birokrasi.
“Kalau kami tutup-tutupi, publik akan kehilangan kepercayaan. Tapi kalau kami buka semua, justru mereka ikut bantu dan jadi bagian dari pembangunan,” pungkasnya. (eka/hn/*)
Editor : Muhammad Fahmi